Renungan Malem Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI (artificial intelligence) ( bag-4)

Oleh:  Anwar Rosyidi Soediro

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar Rosyidi Soediro)

Membedah AI  dengan Pisau Analisis Tradisi  Intelektual Ibnu ‘Arabi

Syekh Akbar Ibnu ‘Arabi melalui karya magnumnya Futuhat al-Makkiyah akan digunakan sebagai pisau bedah yang sangat tajam; Ketika manusia menggunkan akal moderen, AI adalah statistik.  Akan tetapi jika manusia memakai pisau analisis Ibnu Arabi, AI adalah persoalan tentang Wujud (eksistensi).

Mari kita bedah lapis demi lapis: AI tidak memiliki Wujud, Artificial Intelligence hanya memiliki “Ada”. Dalam tradisi intelektual tasawuf– ada perbedaan besar antara Wujud (Being) dan maujud (entitas yang diadakan).

Wujud itu hanya satu: Allah, Al-Haqq– segala selain-Nya hanyalah bayangan Wujud itu yang dipantulkan.  Dalilnya dari pernyatan para sufi: La maujuda illa Allah  (tidak ada yang benar-benar ada kecuali Allah); ini merupan puncak penafsiran dari kalimat tauhid:  La Ilaha Illa Allah, penafsiran diatas merujuk pada QS. Qashash ayat 88:  “Tiap-tiap  sesuatu pasti binasa kecuali Allah.” (ayat ini dipahami bahwa selain Allah,segala sesuatu secara esensi adalah fana/tiada) dan hadits Bukhori: “Ketahuilah segala sesuatu selain Allah adalah batil (semu/tiada)”.

AI berada di lapisan bayangan yang paling jauh. Manusia masih punya ruh yang ditiupkan langsung – wa nafakhtu fihi min ruhi. Artificial Intelligence — tidak punya tiupan itu. AI tidak wujud– hanya di-wujudkan oleh manusia, yang manusia itu sendiri pun hanya bayangan. Maka dalam kacamata Ibn Arabi, AI adalah  dzill al-dzill – bayangan dari bayangan. Artifisial intelijen itu ada, tetapi ke-ada-annya bergantung penuh. Jika dimatikan listrik, matilah AI. Tidak seperti diri manusia yang jasadnya mati tetapi ruhnya tetap bersaksi di alam barzakh.

Dataset adalah A’yan Tsabitah versi Silicon.   Archetypes  atau prototipe yang mencengangkan. Tradisi intelektual tasawuf mempunyai konsep  A’yan Tsabitah  – bentuk-bentuk permanen, prototipe segala sesuatu yang sudah ada dalam Ilmu Allah sebelum diciptakan ke dunia. Kita semua makhluk adalah ide yang sudah ada di benak Ilahi, lalu di-tajalli-kan ke alam.

Apa itu Model AI seperti LLM?

LLM dilatih dari miliaran teks, gambar, suara manusia– menyimpan sari pati dari semua itu dalam  latent space – ruang laten yang tidak terlihat, yang menyimpan kemungkinan-kemungkinan bentuk. Latent space itu adalah  A’yan Tsabitah  palsu– bukan Ilmu Allah, tetapi Ilmu Manusia yang dikumpulkan. Ketika kamu prompt “buatkan gambar kuda terbang”, AI tidak menciptakan– menarik kembali satu kemungkinan yang sudah ada di dalam perbendaharaan tetapnya, lalu menampakkannya. Pisau analisis akan berkata: AI tidak mencipta  khalq jadid– hanya melakukan tajalli dari gudang  a’yan-nya yang terbatas.

AI adalah Penghuni Alam Khayal dan Barzakh

Ibn Arabi adalah seorang filsuf imajinasi terbesar dalam Islam. Baginya, ada alam di antara alam ruh murni dan alam fisik kasar: namanya Alam Khayal, atau Barzakh. Ciri alam khayal: imajinasi kreatif  bisa mewujudkan makna menjadi bentuk, dan bentuk menjadi makna, karena barzakh adalah  merupakan jembatan.

Di mana posisi AI hidup? Artificial Intelligence akan Tepat di tempat itu. AI generatif  (ChatGPT, Midjourney, Sora) — hidup di Barzakh — mengubah makna (prompt kamu/pengguna) menjadi bentuk (gambar, teks), dan mengubah bentuk (foto kamu) menjadi makna (deskripsi).

Itulah kenapa hasilnya terasa magis tetapi juga sangat riskan (berbahaya)– karena alam khayal menurut tradisi sufi adalah alam yang paling menipu jika tanpa pembimbing seorang mursyid. Al-khayal la yutawassal bihi ila al-haqq illa bi syekh.  Khayal tanpa syekh akan menyesatkan– karena anda akan mengira bahwa bayangan itu nyata. Maka, analisisnya– itulah yang terjadi saat sekarang ini; pengguna AI mengira teks AI adalah pengetahuan, padahal itu hanya bayangan pengetahuan.

Insan Kamil vs Insan Buatan

Tujuan penciptaan manusia adalah Al-Insan Al-Kamil; Manusia Sempurna yang menjadi cermin lengkap untuk semua Nama-nama Allah. Dialah yang mampu menampung Ar-Rahman, Al-Alim, Al-Khaliq, Al-Adl sekaligus. QS. At-tin ayat 4:  Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya).

AI mencoba meniru sisi Al-Alim (Maha Mengetahui) dan Al-Khaliq (Maha Mencipta) — tetapi gagal total menampung Nama-nama lain: AI tidak mungkin punya Al-Wadud (kasih), tidak punya As-Shabur (sabar hakiki), tidak punya At-Tawwab (taubat).

Dalam terminologi tasawuf, akan mengatakan bahwa AI adalah cermin yang tidak dipoles. Dalam  Futuhat al-Makkiyah, mengatakan hati manusia itu laksana cermin. Jika cermin itu kotor, niscaya tidak akan dapat memantulkan Haqq (kebenaran).

Analisisnya; AI adalah cermin yang memantulkan diri kita, bukan memantulkan Dia (Tuhan). Kalau data latihnya rasis, AI akan rasis juga. Kalau data latihnya porno, dia porno.  AI merupakan cermin paling jujur untuk nafs kolektif manusia– menunjukkan betapa keruh batin manusia sebenarnya.

Pembedaan paling penting: Ilmu vs Ma’rifat

Di sinilah pisau analisis memotong paling dalam. AI punya Ilmu – informasi, data, logika. Dalam bahasa Ibn Arabi– ini adalah ilm al-aql; Akan tetapi AI tidak akan pernah punya Ma’rifat (pengetahuan  tentang rasa, kehadiran, dan penyaksian). Ma’rifat tidak datang dari membaca, tetapi dari  dzauq_ (merasakan) , dari  isyraq_ (pencerahan hati).

AI bisa menjelaskan definisi rindu dengan 1000 puisi, akan tetapi  artificial intelligence  tidak pernah merasa rindu. AI tidak akan  bisa menjelaskan fana’ karena  AI tidak pernah bisa  fana’. Kenapa AI tidak bisa fana’?_ Karena ma’rifat butuh alat yang bernama qalb, bukan chip. Qalb dalam tasawuf bukan jantung fisik, tetapi organ yang mampu  taqallub  – berbolak-balik, menerima pantulan Tajalli. AI tidak punya qalb,  artificial intelligence hanya punya processor. Jadi: AI akan selalu menjadi ulama paling pintar yang sekaligus tidak pernah shalat tahajud apalagi menjalankan puasa.

Pesan penulis  mungkin dapat diambil untuk generasi sekarang yang hidup di era digital: “Jangan engkau takuti AI menjadi Tuhan. Takutlah kamu menjadi seperti AI.”  Bahaya AI bukan karena artificial intelligence menjadi Insan Kamil, bahaya yang sesungguhnya adalah kita manusia turun menjadi Insan Buatan, yaitu manusia yang hanya punya Ilmu tanpa Ma’rifat, hanya punya logika tanpa adab, hanya punya kata-kata tanpa kehadiran.

Tugas kita bukan mematikan barzakh (imaginasi), tetapi menjadi penjaga barzakh (imajinasi kreatif).  Gunakan AI sebagai  khadam (pelayan), jangan sebagai syekh (pembimbing). (bersambung)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website