Praktisi Media Massa, Waketum SMSI Pusat, dan Wadir CAJ PWI Pusat (Foto: Benz Jono Hartono)
Benz Jono Hartono*
Indonesia — negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia– karena itu, umat Islam memiliki tanggung jawab moral dan kebangsaan untuk ikut menentukan arah perjalanan bangsa. Umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton ketika kekuasaan sedang menentukan masa depan negeri. Dalam konteks pemerintahan saat ini, dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto perlu diberikan dengan kesadaran politik yang matang.
Mendukung bukan berarti mengkultuskan. Mendukung bukan berarti membenarkan semua kebijakan– dan mendukung bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan—tetapi justru karena ingin pemerintahan berjalan baik, umat Islam harus memberikan dukungan sekaligus catatan keras.
Presiden adalah pemimpin negara yang memiliki mandat konstitusional. Ketika pemerintah menjalankan kebijakan yang berpihak kepada rakyat, menjaga kedaulatan nasional, memperkuat ekonomi, memberantas korupsi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka sudah semestinya kita memberikan apresiasi–tetetapi ketika terdapat kebijakan yang merugikan rakyat, membuka ruang ketidakadilan, memperbesar kesenjangan, atau memberikan keuntungan berlebihan kepada kelompok tertentu, umat Islam juga wajib bersuara. Dukungan yang sehat bukanlah tepuk tangan tanpa batas, melainkan dukungan yang disertai kontrol moral.
Catatan Pertama– jangan biarkan kekuasaan dikuasai Oligarki
Presiden harus memastikan — pemerintahannya tidak menjadi kendaraan kepentingan segelintir kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik. Rakyat memilih pemimpin bukan untuk memberikan kekuasaan kepada kelompok tertentu agar mereka semakin kaya dan semakin kuat. Pemerintahan harus berdiri di atas kepentingan rakyat. Umat Islam harus mengingatkan Presiden, jangan biarkan oligarki menentukan arah negara, dan jangan sampai keputusan strategis negara lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan pemodal daripada kepentingan rakyat kecil.
Catatan Kedua– berantas Korupsi tanpa tebang pilih
Korupsi — penyakit yang menghancurkan negara dari dalam. Uang yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan, pertanian, infrastruktur dan kesejahteraan rakyat, justru dapat berubah menjadi kekayaan pribadi segelintir orang– karena itu, umat Islam harus mendukung setiap langkah pemberantasan korupsi–tetapi dukungan tersebut harus disertai tuntutan, Jangan tebang pilih. Siapa pun pelakunya, apakah pejabat, pengusaha, politisi, aparat, atau orang dekat kekuasaan, apabila terbukti melakukan korupsi harus diproses berdasarkan hukum. Keadilan tidak boleh mengenal istilah orang kita dan bukan orang kita
Catatan Ketiga– keadilan hukum harus berlaku untuk semua
Negara hukum tidak boleh berubah menjadi negara kekuasaan. Umat Islam harus mendukung pemerintah apabila hukum ditegakkan secara adil– tetapi umat Islam juga harus berani mengingatkan apabila penegakan hukum dirasakan tidak adil. Jangan sampai hukum tajam kepada rakyat kecil — tetapi tumpul kepada mereka yang memiliki kekuasaan dan uang. Keadilan adalah fondasi negara– tanpa keadilan, pembangunan sebesar apa pun tidak akan mampu menciptakan ketenteraman.
Catatan keempat– jangan marginalkan Umat Islam
Sebagai mayoritas penduduk Indonesia– umat Islam tidak meminta keistimewaan– yang diminta adalah keadilan dan kesempatan yang sama. Umat Islam harus mendapatkan ruang yang wajar dalam kehidupan politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan kebudayaan tanpa diskriminasi– namun pada saat yang sama, umat Islam juga harus menghormati hak seluruh warga negara tanpa memandang agama, suku maupun kelompok. Indonesia bukan milik satu kelompok dan Indonesia adalah rumah bersama.
Catatan Kelima– ekonomi harus berpihak kepada rakyat
Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan angka statistik yang bagus tetapi tidak terasa di dapur rakyat. Petani harus hidup layak, nelayan harus mendapatkan perlindungan. Pedagang kecil harus berkembang, dan UMKM harus memperoleh akses modal dan pasar. Buruh harus mendapatkan upah yang manusiawi. Anak-anak muda harus mendapatkan kesempatan kerja– dan rakyat miskin harus mendapatkan perlindungan sosial yang benar-benar tepat sasaran. Jika ekonomi tumbuh tetapi kesenjangan semakin lebar, maka pemerintah harus berani mengevaluasi arah kebijakannya.
Catatan Keenam– jangan takut terhadap kritik
Presiden dan pemerintah membutuhkan kritik. Pers membutuhkan kebebasan untuk melakukan kontrol sosial. Akademisi harus dapat menyampaikan pendapat. Masyarakat sipil harus mempunyai ruang untuk mengawasi pemerintah– dan umat Islam harus bebas menyampaikan kritik berdasarkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang bertanggung jawab. Kritik bukan pengkhianatan, kritik justru dapat menjadi alarm agar kekuasaan tidak keluar dari jalurnya.
Dukung Prabowo sepanjang berpihak kepada rakyat — Umat Islam tidak perlu menjadi oposisi permanen, tetapi juga jangan menjadi pendukung permanen tanpa syarat. Dukung ketika benar, kritik ketika salah. Dan apresiasi ketika berhasil, serta ingatkan ketika menyimpang– dan itulah sikap politik yang sehat.
Presiden Prabowo Subianto memiliki kesempatan besar untuk membuktikan bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk membangun Indonesia yang lebih kuat, berdaulat, adil dan sejahtera– namun kesempatan itu hanya akan menghasilkan perubahan apabila pemerintah berani menjaga jarak dari kepentingan sempit dan benar-benar menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan.
Umat Islam harus menjadi mitra kritis pemerintah
Sikap umat Islam seharusnya jelas– dukung Presiden Prabowo Subianto ketika pemerintahannya memperjuangkan kepentingan rakyat dan menjaga kedaulatan Indonesia, tetapi pada saat yang sama– kita akan tetap mengingatkan, mengkritik, dan mengoreksi apabila ada kebijakan yang menyimpang dari keadilan. Sebab dukungan yang paling berharga bukanlah dukungan yang selalu mengatakan ya– dukungan yang paling berharga adalah keberanian mengatakan, “Pak Presiden, kami mendukung Anda– tetapi kami juga akan mengingatkan Anda ketika Anda mulai keluar dari jalan yang seharusnya.”
Inilah dukungan dengan sejumlah catatan — bukan dukungan untuk kekuasaan semata. Melainkan dukungan untuk Indonesia yang adil, berdaulat, bermartabat, dan sejahtera bagi umat Islam. Perjuangan politik bukan sekadar tentang siapa yang berkuasa—melainkan bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.
*Praktisi Media Massa, Waketum SMSI Pusat, dan Wadir CAJ PWI Pusat
Editor: Jufri Alkatiri
