Kyai Hasan Gontor dan Nestapa Antigone

Foto-foto adalah ilustrasi Meta Articial Intelligent)

Oleh: Helmi Hidayat, M.Si*

Ketika KH Hasan Abdullah Sahal berpidato di podium peringatan 100 tahun Pondok Modern Gontor, di aula raksasa itu saya seperti melihat sosok Tiresias dari Thebes. Semua hadirin termasuk Presiden Prabowo Subianto duduk khidmat menyimaknya, diselingi gemuruh tepuk tangan dan gelak tawa ketika Kyai Hasan tampil Jenaka–tetapi ketika dia berpidato lugas dan tegas, mendadak aula menjadi hening.

Tiresias adalah tokoh spiritual panutan rakyat Thebes, Yunani Tengah. Melihat Kyai Hasan bak melihat sosok Tiresias hanyalah analogi. Sosok dan ketokohan Tiresias hanya ada dalam catatan ’’Oedipus Tyrannus’’  karya Sophocles (496 – 406 SM), sedang Kyai Hasan adalah sosok ulama yang kini viral di banyak platform media sosial.

Jika mata Tiresias buta tetapi mata batinnya tajam melihat masa depan, Kyai Hasan juga membaca masa depan Gontor sambil menangis. Jika Kyai Hasan berteriak menyatakan cintanya pada Indonesia, Tiresias berteriak nyaring membela Antigone!

Jika Anda belum mengenal Antigone, mari mulai dari Oedipus, ayah Antigone.  Oedipus adalah anak Raja Thebes, Laius. Saat Oedipus lahir, Laius dan permaisurinya, Jocasta, mendengar ramalan Oracle Delphi bahwa bayinya akan membunuh dirinya lalu menikahi Jocasta, ibu kandungnya sendiri. Takut ramalan itu terjadi, Laius membuang sambil memaku kaki bayinya di gunung agar dia mati dimakan serigala– tetapi, seorang penggembala menemukan bayi itu lalu menyerahkannya kepada Polybus, Raja Korintus. Sang raja menamakannya Oedipus setelah melihat kaki bayi itu bengkak akibat dipaku. Dalam bahasa Yunani, Oedipus berarti kaki bengkak. Dia tumbuh besar sambil mengira Raja Korintus adalah ayah kandungnya.

Saat dewasa, Oedipus juga mendengar ramalan Oracle Delphi bahwa dia akan membunuh ayahnya sendiri dan menikahi ibu kandungnya. Agar ramalan tidak terjadi, dia buru-buru hijrah dari Korintus menuju Thebes. Di jalan yang sempit, Oedipus berpapasan dengan rombongan orang tua sombong, yang dengan kasar menyuruhnya menepi. Setelah bertengkar hebat, Oedipus membunuh semua anggota rombongan termasuk si orang tua sombong itu. Ternyata  orang tua itu adalah Laius, ayah kandungnya sendiri. Ramalan pertama terjadi!

Saat Oedipus tiba di Thebes, negeri itu sedang diteror Sphinx, monster setengah singa yang membawa teka-teki rumit. Siapa pun yang bisa menjawab teka-teki Sphinx, dia akan jadi Raja Thebes dan menikahi janda Liaus. Oedipus berhasil menjawab teka-teki lalu jadi raja dan menikahi Jocasta. Padahal, tanpa mereka ketahui, Jocasta adalah ibu kandung Oedipus. Ramalan kedua terjadi!

Pernikahan itu membuahkan empat anak: Eteocles, Polynices, Antigone, dan Ismene. Jadi– keempat anak itu secara biologis adalah anak sekaligus adik tiri Oedipus, atau anak sekaligus cucu Jocasta. Memang rumit, tapi di situlah ’’kegilaan’’ Sophocles.

Kisah tentang nestapa Antigone dimulai ketika Thebes dilanda wabah di era Oedipus. Wabah baru akan lenyap jika misteri kematian Liaus terungkap. Ketika Oedipus sendiri yang memimpin investigasi tentang kematian Raja Thebes itu lalu mengetahu bahwa ternyata dia sendirilah yang membunuh Liaus dan dia sendiri pula yang menikahi ibu kandungnya, dia kaget tujuh keliling.

Jocasta langsung gantung diri di kamar begitu mengetahui kabar ini. Oedipus kemudian mengambil peniti Jocasta, ibu sekaligus istrinya, lalu menusukkan peniti itu ke matanya hingga buta. Begitulah cara seorang ksatria bertobat atas kesalahan, bukan malah mencari-cari alasan menghindari pengadilan saat diminta menunjukkan selembar ijazah.

Tahu bahwa Oedipuslah yang ternyata membunuh raja mereka, rakyat Thebes mengusir Oedipus. Wabah memang segera sirna, tapi bukan tanpa akibat yang luar biasa: Eteocles dan Polynices berebut tahta. Mereka lalu bersepakat berbagi kekuasaan secara periodik. Eteocles naik tahta lebih dulu, tetapi kemudian menolak menyerahkan tahta kepada Polynices ketika masa jabatannya berakhir. Eteocles gila kuasa. Inilah yang mendorong Polynices menggalang kekuatan dari kerajaan tetangga untuk mendongkel tahta yang diduduki kakak kandungnya.

Dalam perang saudara, kakak beradik ini tewas. Agar kekuasaan tidak kosong maka Creon, adik kandung Jocasta, naik tahta–tetapi, dia punya tafsir yang ’’tidak rata-rata’’. Eteocles dianggapnya pahlawan sebab berperang membela negara meski tahta kerajaan yang didudukinya diperoleh dengan culas, penuh intrik kebohongan. Sedangkan Polynices dianggapnya sebagai pengkhianat bangsa meski apa yang dia lakukan itu demi membela haknya yang dikangkangi.

Creon kemudian mengeluarkan dekrit: Eteocles dikubur sebagai pahlawan, Polynices dibiarkan membusuk di medan perang. Siapa pun yang menguburnya akan dihukum mati! Secara hukum negara (Nomos), dekrit itu sah–tetapi secara hukum langit (Physis/hukum para dewa), itu kejahatan besar. Dalam kepercayaan Yunani, jiwa yang tidak dikubur tidak akan bisa menyeberang ke alam baka.

Nah, di sinilah adegan tentang Antigone dimulai. Sebagai keponakan sekaligus calon menantu Creon, dia memilih hukum langit, titah suci Zeus. Dia tidak peduli dengan otoritarianisme Creon, lalu diam-diam mengubur jasad kakaknya dengan segenggam debu. Creon menangkap dan mengurung Antigone hidup-hidup dalam sebuah gua batu. Di saat itulah semua ulama diam, semua intelektual takut, semua akademisi tiarap. Putra Creon sendiri, Haemon, yang juga calon suami Antigone, sudah merangkak memohon ampunan, tapi ditolak.

Di titik antiklimaks inilah Tiresias muncul, bukan karena dipanggil, tetapi karena dengan matanya yang buta dia melihat tanda-tanda alam. Burung-burung histeris, api persembahan padam, daging kurban membusuk, banjir melanda Boeotia, kebakaran menghanguskan hutan dan gunung Kithairon. Semuanya menjadi tanda alam menolak dekrit Creon!

Di depan Raja Thebes, Tiresias kemudian berkata lugas sambil mengacungkan jari telunjuknya: “Creon, kau telah mengacaukan dua dunia. Kaubawa orang hidup (Antigone) ke dunia orang mati (gua), dan kautahan orang mati (Polynices) di dunia orang hidup (tidak dikubur). Para dewa sudah menolak persembahan Thebes!”

Dinasehati baik-baik, Creon malah membalas: “Kau sudah dibeli oleh anak itu (Antigone)! Semua peramal bisa dibeli!”  Akhirnya, dengan suara pelan tapi tegas, Tiresias menyampaikan ramalan terakhirnya: “Karena kau menolak mengubur yang mati, kau akan segera mengubur yang hidup. Anakmu, Haemon, akan mati. Istrimu, Eurydice, akan mati. Istanamu yang kaubanggakan akan kosong. Bukan karena aku mengutukmu, tapi karena hukum alam yang kaulanggar akan menagih.”

Benar saja, usai Tiresias mengumumkan pandangan visionernya, dalam kesendirian, dalam kegelapan, dalam nestapa panjang, Antigone akhirnya tewas gantung diri. Haemon berteriak di samping jenazah tunangannya, lalu bunuh diri juga. Eurydice, istri Creon, juga bunuh diri di kamar setelah mendengar kematian anaknya. Creon tinggal sendirian, memeluk jenazah anaknya sambil meratap: “Bawalah aku pergi, aku bukan siapa-siapa lagi.” –tetapi semuanya serba terlambat. Istana Thebes tetap berdiri, tapi kosong melompong.

Buat siapa pun, terutama para akademisi, drama gubahan Sophocles ini bersifat abadi alias bisa didaur ulang untuk menganalisis apa pun. Drama ini selalu kompatibel untuk segala locus dan zaman, sepanjang tafsir orang-orang yang ingin memaknainya sesuai dengan setting sosial-politik yang melatarbelakanginya.

Tiserias selalu mewakili ulama, kendati tokoh dari Thebes ini tidak melulu identik dengan Kyai Hasan dari Gontor sebagai ulama–tetapi, orang bebas memberi tafsir bahwa keduanya identik dalam visi dan peran. Tiresias digambarkan Sophocles sebagai ulama visioner. Matanya memang buta, tapi intuisinya setajam belati melihat masa depan. Dia tokoh visioner. Kyai Hasan juga demikian. Dengan intuisinya dia punya bacaan tersendiri tentang masa depan Gontor. Dia visioner.

Jika Tiserias bisa berkata tegas kepada Creon, Kyai Hasan malah lebih tegas saat berkata: “Kau besar aku tak berlindung, kau kaya aku tidak meminta, kau kuat aku tidak gentar. Di kedudukan teratas hanya Allah, di bawah hanya tanah!”

Dalam konteks tafsir, saya tentu tidak mau gegabah menganalogikan Creon dengan Presiden Prabowo Subianto. Creon punya istri, Prabowo (sekarang) tidak punya. Kendati demikian, di negeri ini Anda dilindungi UUD NRI 1945 untuk berpikir merdeka, misalnya boleh bertafsir toh Prabowo punya ’’pasangan’’ dalam pesta demokrasi 2024 lalu. Nama pasangannya Gibran Rakabuming Raka. Pencalonan pasangan Prabowo di pilpres ini kini tengah digugat ke Mahkamah Konstitusi sebab diduga kuat dia tidak punya ijazah SMA.

Dalam drama tragedi Antigone itu, Eurydice, istri Creon, memang baru tampil di adegan ke-50, tetapi dia ditampilkan sebagai tokoh yang memendam kemarahan membara akibat dekrit Creon. Pasangan hidup Creon ini justru menjadi korban senyap sang raja otoriter, tetapi kematiannya didesain sebagai hukuman paling berat buat sang raja. Creon merana sepanjang sejarah! 

Jika Creon dianalogikan sebagai penguasa di mana pun, Tiresias juga dianalogikan sebagai ulama, lalu apa analogi Antigone?  Peran dan karakter Antigone sangat mudah ditebak: ia mewakili rakyat mana pun yang berani turun ke jalan menentang otoritarianisme penguasa. Di mana pun demonstran terancam kematian. Antigone tidak pernah bertemu fisik di panggung dengan Tiresias, tapi mereka adalah sekutu spiritual. Antigone mewakili pelaksana hukum langit dengan keberanian turun ke jalan dan mau bertindak, Tiresias mewakili para penjaga hukum langit dengan kebijaksanaan yang memberi makna.

Tanpa Antigone, dekrit Creon tidak akan pernah terlihat kejam. Tanpa Tiresias, kekejaman Creon tidak akan pernah dipahami sebagai pelanggaran kosmik. Antigone mati sebagai martir, tetapi Tiresias di mana pun harus hidup untuk menjadi saksi yang berteriak dengan energi spiritual yang kuat demi menembus kulit terluar langit. Antigone mengorbankan nyawa, Tiresias mempertaruhkan wibawa untuk mengatakan kepada penguasa: “Anda salah!”

Lewat orasinya yang tegas sekaligus jenaka, Kyai Hasan Gontor sebagai Tiresias dengan baik sekali telah memahami dan meresapi nestapa Antigone! Dalam konteks Indonesia, bukan Tiresias yang mendatangi Creon, tetapi justru Creon yang mendatangi padepokan Tiresias di Ponorogo, Jawa Timur. Ini tentu saja menggembirakan. Apalagi jika tokoh Creon mau mendengarkan nasihat Tiresias bahwa nestapa Antigone bukan tidak ada, bahkan layak didengar. Sophocles ingin mengatakan: satu negara butuh keduanya; butuh Antigone yang berani melanggar aturan yang dirasa tidak adil dan butuh Tiresias yang berani menafsirkan aturan itu di depan penguasa.

Sosok Polynices yang dibiarkan mati tanpa dikubur bisa dianalogikan sebagai gambaran busuk penyakit masyarakat. Ini cuma misal tetapi mungkin ada benarnya: Alih-alih melihat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai karya mulia, sebagian besar masyarakat kini melihat program MBG sebagai salah satu patologi sosial. Bagaimana mungkin program itu tidak dilihat sebagai barang busuk jika secara nasional, kini ada 50.000 orang jadi korban keracunan MBG hingga September 2026, tetapi Polri tidak pernah menemukan satu pun tersangka dari kejahatan masif ini. Hukum apa yang sesungguhnya hendak dilaksanakan di Thebes, eh, di Indonesia ini?

Kini, apakah drama tragedi Thebes akan terulang kembali di Indonesia atau sebaliknya, semua berpulang pada penguasa negeri ini. Tokoh Tiresias sudah berbicara terbuka, tinggal tokoh Creon menentukan pilihan. Tokoh Creon di negeri ini bebas memilih: dia bisa membalik naskah Sophocles 180 derajat dengan membiarkan Haemon dan Eurydice tetap hidup dengan tidak memenjarakan Antigone di gua yang dingin dan pengap, atau justru menjalankan lakon drama itu apa adanya dengan terus menempatkan demonstran sebagai penjahat yang harus dipentung, sambil menjadikan para pakar dan akademisi yang mengkritiknya sebagai musuh pemerintah dengan melabeli mereka sebagai pelaku makar.

Tokoh Creon bebas mengambil sikap: apakah dia akan menjadi dirinya sendiri sebagai kepala negara, atau dia akan meniru kepala negara sebelumnya yang dikenal luas banyak berbohong.   Satu hal pasti, Kyai Hasan Gontor sudah menentukan pilihan. Sebagai Teresias, dia tidak ikut berdemonstrasi di jalan seperti yang dilakukan ’’para Antigone’’, tapi sengaja datang ke mimbar kekuasaan dengan lugas, tegas, namun sopan. Sang kyai yang sederhana itu memang berkata pendek: “Walaupun dunia hancur, kami tetap mendidik.” Padahal, jika diterjemahkan dengan ilmu mantiq, terjemahan bebas kalimat itu adalah: ’’Walaupun istana Anda kosong nanti, lewat pendidikan kami sudah menyiapkan manusia-manusia yang akan mengisinya kembali.’’

Di media sosial, banyak orang berterima kasih kepada Kyai Hasan Gontor yang telah menjalankan peran Tiresias– tetapi kita jangan lupa, Chiron sang guru Athena selalu kembali ke gua di Gunung Pelion untuk mendidik Achilles, Socrates sang filsuf selalu kembali ke Agora setelah mendidik masyarakat luas tentang etika, dan Plato tak pernah berlama-lama meninggalkan Akademia setelah diminta datang ke istana. Mereka menyayangi pesantren mereka sebagaimana menyayangi diri sendiri.

Pak Hasan, demikian saya dan kawan-kawan satu generasi memanggil Kyai Hasan di Gontor, kali pertama mengajar kami di kelas pada 1981, ketika umur saya masih sangat belia. Materi yang diajarkannya seksi: ’’Bidayatul Mujtahid’’ karangan filsuf Ibnu Rusyd. Disebut seksi sebab kitab ini mengajarkan semua mazhab fiqih– itu artinya kami diajarkan kebebasan berpikir sekaligus sikap toleransi.

Jika saya kini demikian mengagungkan kebebasan berpikir, akar tunjangnya sesungguhnya tertanam jauh di tanah Gontor. Penting Anda catat, saat Pak Hasan mengajar kami di kelas, gunung bernama Gontor baru seluas tujuh hektar. Kini, setelah 43 tahun meninggalkan Gontor, saya dengar gunung Gontor bertambah tinggi, diameternya meluas hingga total 1.200 hektar di seluruh Indonesia.

Jika Chiron, Socrates, juga Plato selalu rindu pulang ke padepokan ilmiah mereka ketimbang keluyuran di jalan-jalan Athena– saya yakin Pak Hasan pun lebih mencintai gunung Gontor dari siapa pun. Jika Tiresias hidup dalam tujuh generasi dan mengalami perubahan kelamin laki dan perempuan sekaligus agar dia mengetahui semua karakter manusia, Kyai Hasan juga hidup dari satu generasi ke banyak generasi di Gontor dan karena itu tahu persis isi perut pesantren ini.

Saya yakin, di tahun pertama abad kedua Gontor, Kyai Hasan dan semua jajarannya akan membenahi Gontor dari perutnya yang terdalam, lalu menjaga almamater ini sampai titik nafas penghabisan. Terima kasih, Guruku!

*Alumnus Santri Pondok Pesantren Gontor 1983

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website