Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Terlepas dari sejumlah catatan kritis terhadap perjalanan Muktamar NU ke-35 di Jombang– satu hal tetap layak diapresiasi–yaitu, terpilihnya duet kepemimpinan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PB NU masa hidmah 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
KH Miftachul Akhyar ditetapkan kembali sebagai Rais Aam melalui musyawarah AHWA– sedangkan Gus Kikin dipilih secara mufakat oleh sembilan anggota AHWA dari lima nama calon yang lolos proses penjaringan– dengan jujur harus diakui, duet ini adalah pilihan yang patut dihormati. Bahkan saya melihatnya sebagai pasangan yang cukup menjanjikan untuk membawa NU melewati periode lima tahun ke depan– namun, apresiasi terhadap hasil akhir tidak berarti kita harus menutup mata terhadap proses yang mendahuluinya. Bahwa Muktamar tetap meninggalkan pekerjaan rumah. Ada kericuhan. Ada ketegangan.
Bahkan, ada perbincangan serius mengenai aroma politik uang. Dan dari situlah saya kembali teringat kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim memang terasa “hadir” di Muktamar. Tetapi, sayangnya, terasa baru setengah hadir atau tak hadir penuh. Meskipun yang dimaksud tentu bukan hadir dalam arti fisik. Melainkan spirit, ajaran, adab dan keteladanannya yang belum seluruhnya menjelma dalam perilaku para pewaris organisasi yang didirikannya. Sebelum berbicara tentang “Mbah Hasyim yang hadir setengah”, saya ingin memberikan ruang yang proporsional kepada kepemimpinan baru. Bahwa duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin menarik karena keduanya dapat dibaca sebagai pasangan yang relatif berada di jalan tengah.
Mereka tidak perlu datang dengan semangat kemenangan satu faksi atas faksi lain. Mereka justru mempunyai kesempatan menjadi titik temu setelah Muktamar yang sempat memanas. Pesan yang diberikan AHWA kepada KH Miftachul Akhyar bahkan sangat jelas: Rais Aam terpilih diminta merangkul seluruh potensi NU. Ini bukan pesan seremonial. Ini agenda besar. Sebab pekerjaan pertama kepemimpinan baru bukanlah membagi jabatan. Pekerjaan pertamanya adalah menyatukan kembali hati– yang kalah harus tetap merasa memiliki NU– yang menang tidak boleh merasa memiliki NU.
Di sinilah duet Miftach–Kikin dapat memainkan peranan penting. KH Miftachul Akhyar mempunyai modal moral yang kuat– bukan figur yang tiba-tiba muncul menjelang Muktamar. Jejak pengabdiannya di NU sangat Panjang– karena itu, keberadaan KH Miftachul Akhyar memberi harapan bahwa syuriyah tetap mempunyai figur yang mampu menjaga karakter pesantren NU.
Apalagi dalam situasi ketika NU semakin besar dan semakin dekat dengan pusat-pusat kekuasaan, posisi moral seperti ini menjadi sangat penting. NU membutuhkan orang yang berani berkata: “Ini boleh.” “Ini tidak boleh.” “Ini pantas.” “Ini tidak pantas.” Bukan hanya berdasarkan kalkulasi politik, tetapi berdasarkan adab dan kemaslahatan jam’iyah.
Jika KH Miftachul Akhyar mempunyai kekuatan pada dimensi keulamaan dan moral, Gus Kikin membawa modal lain yang juga penting. Ia adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng dan cicit KH Hasyim Asy’ari dari garis Nyai Khoiriyah Hasyim. Sebelumnya, ia pernah memimpin PWNU Jawa Timur.
Rekam jejak tersebut membuatnya mempunyai pengalaman manajerial yang relatif berbeda dari figur kiai yang sepenuhnya tumbuh hanya dalam struktur organisasi keagamaan. Ini penting. NU hari ini bukan lagi organisasi kecil. NU mempunyai jaringan pendidikan. Pesantren. Perguruan tinggi. Rumah sakit. Lembaga ekonomi. Lembaga filantropi– dan struktur organisasinya hingga tingkat desa.
Organisasi sebesar itu tidak cukup hanya dipimpin dengan kharisma– ia membutuhkan manajemen moderen, tata kelola, profesionalisme dan kemampuan membangun institusi. Maka pengalaman Gus Kikin di dunia pesantren, organisasi, dan profesional dapat menjadi kekuatan tambahan.
Ada simbol sejarah yang menarik dari terpilihnya Gus Kikin. Ia bukan hanya memimpin Pesantren Tebuireng. Ia juga merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari. Ketika tulisan ini berbicara tentang Mbah Hasyim yang “hadir setengah”, justru salah satu cicitnya kini mendapatkan amanah memimpin PBNU. Maka ada tanggung jawab moral yang mungkin terasa lebih berat.
Gus Kikin tidak hanya membawa namanya sendiri. Secara simbolik, publik juga akan melihat apakah kepemimpinannya mampu mendekatkan kembali PBNU kepada nilai-nilai yang diwariskan Hadratussyekh. Apalagi Gus Kikin pernah menyampaikan keinginan menghidupkan kembali spirit Qanun Asasi, fondasi pemikiran organisasi yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari. Ini justru membuat kepemimpinannya semakin menarik untuk ditunggu.
Saya melihat duet ini mempunyai peluang membangun pembagian peran yang sehat. KH Miftachul menjaga ruh. Gus Kikin menggerakkan mesin organisasi. Yang satu menjadi penjaga etik dan tradisi keulamaan. Yang satu mengelola dinamika organisasi.Yang satu mengingatkan arah. Yang lain memastikan kapal bergerak.
Kalau keduanya harmonis, NU bisa mendapatkan kombinasi yang ideal antara tradisional dalam nilai, modern dalam pengelolaan. Akarnya tetap pesantren. Tetapi organisasi tidak gagap menghadapi zaman. Ini sangat penting bagi NU ke depan. Sebab tantangan NU tidak lagi hanya soal fikih ibadah. Tetapi, berhadapan juga dengan kecerdasan buatan, krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, dan perubahan geopolitik– namun, sekali lagi, sesuai pesan Mbah Hasyim, selain ilmu, juga perlu adab. Makanya, ketika di arena Muktamar NU terdengar kericuhan yang berlebih, boleh jadi Mbah Hasyim menangis di alam sana. Apalagi, mendengar ada aroma isu money politic. Meskipun, kasusnya terdengar simpang siur antara uang politik dengan uang transport.
Kita mungkin harus objektif. Tidak semua uang transport adalah politik uang– kalau panitia membayar ongkos perjalanan secara resmi, transparan, terukur dan tanpa hubungan dengan pilihan, tentu tidak ada persoalan–tetapi kalau uang berasal dari pihak yang mempunyai kepentingan terhadap dukungan, diberikan kepada pemilik suara dan berlangsung berdekatan dengan proses pemilihan, publik berhak bertanya. Apakah itu benar-benar transportasi? Atau transaksi yang diberi nama lebih santun?
Kalau semuanya terbuka, fitnah dapat dicegah. Tetapi kalau transaksi berlangsung diam-diam, kecurigaan justru akan tumbuh. Sementara, KH Hasyim Asy’ari sangat menekankan keikhlasan dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Inilah alasan mengapa Mbah Hasyim saya sebut “hadir setengah”. Doanya hadir. Namanya hadir. Fotonya hadir. Tetapi ajaran tentang ikhlas dan wara’ belum tentu hadir sepenuhnya. Di sinilah pentingnya duet Miftach–Gus Kikin mengembalikan kultur NU dari kontestasi menuju khidmah. Jabatan NU tidak boleh terlalu menggiurkan.
Semakin jabatan dianggap prestise, semakin orang akan berebut. Semakin orang berebut, semakin besar biaya politik. Semakin besar biaya politik, semakin besar pula godaan transaksi. Lingkaran itu harus diputus. Menjadi pengurus NU harus kembali terasa sebagai pengorbanan. Insha Allah, ini yang akan dilakukan Gus Kikin. Ia mempunyai kesempatan historis yang tidak kecil. Ia pengasuh Tebuireng. Ia juga cicit pendiri NU. Semua itu adalah modal. Tetapi sekaligus beban.
Masyarakat akan menilai, apakah garis keturunan Hasyim Asy’ari hanya berhenti menjadi identitas genealogis? Atau benar-benar diterjemahkan menjadi kepemimpinan berkarakter Hasyim Asy’ari? Untuk menjawab itu semua, meskipun tidak mudah, caranya sederhana. Hadirkan adab. Hadirkan ikhlas. Hadirkan wara’. Hadirkan persaudaraan. Hadirkan keberanian moral. Hadirkan kemandirian. Hadirkan kesederhanaan. Ingat. NU didirikan bukan untuk menjadi tangga menuju kekuasaan, melainkan sebagai jalan khidmah kepada agama, umat dan bangsa.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
