Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Oleh: Anwar R. Soediro*
Kisah Adam, Kritik, dan Keselarasan dengan Modern Science
Kisah Adam memiliki makna diagnosis dan kritik — terjadinya krisis moderen manusia saat ini — yang kehilangan ingatan/kesadaran karena lupa bahwa dirinya khalifah/wakil Tuhan pada semesta dan dan juga resep bagaimana manusia dapat membangkitkan kembali Adam dalam dirinya dengan ilmu dan dzikir– jJadi dengan memahami kisah drama kosmis Adam merupakan kunci untuk memahami krisis manusia moderen.
Seyyed Hossein Nasr: melihat Adam sebagai Insan Kamil dan Khalifah Ekologis– Nasr membawa konsep Adam perenial ke dalam ranah yang lebih aplikatif dan kontekstual, khususnya untuk merespons krisis spiritual manusia moderen. Nasr sangat bersandar pada konsep Insan Kamil (Manusia Sempurna) dalam sufisme Ibnu Arabi, yakni Adam sebagai Manusia Primordial (The Primordial Man) dalam hal ini — Nasr menekankan konsep Al-Insan al-Qadim.
Adam adalah manusia asli yang fungsi kognitifnya belum terpolusi oleh pemikiran materialisme. Adam memiliki pengetahuan langsung tentang esensi benda-benda di alam semesta (berdasarkan ayat: “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya”).
Fungsi Pontifex (Jembatan Kosmis): Nasr menyebut Adam sebagai Pontifex atau jembatan antara Langit (Tuhan) dan Bumi (alam ciptaan). Sebagai Khalifah– Adam bertugas menjaga harmoni kosmis. Alam semesta adalah tubuh makro, sedangkan Adam (manusia) adalah jiwa mikro dari alam tersebut.
Kritik terhadap Manusia Moderen (The Promethean Man); Nasr membedakan konsep Manusia Adamik dengan Manusia Promethean (manusia modern pasca-Renaissance). Manusia Adamik, menyadari asal-usul dirinya dari langit, tunduk pada hukum spiritual, dan hidup selaras dengan alam. Manusia Promethean adalah Manusia yang memberontak melawan Langit (seperti mitos Prometheus), mengandalkan rasio individual, menganggap diri sebagai penguasa mutlak bumi, dan akhirnya merusak alam dan menyebabkan krisis ekologi.
Perbandingan pandangan, Konsep Manusia Adamik menurut Seyyed Hossein Nasr dengan Teologi Tekstual (skriptualis, literalis, atau ortodoksi eksoterik) terletak pada cara mereka memandang teks suci: pandangan Nasr mencari esensi batiniah yang universal (esoterisme), sedangkan teologi tekstual terpaku pada bentuk lahiriah dan hukum formal (eksoterisme).
Berikut adalah perbandingan mendalam mengenai konsep Adam di antara kedua paradigma tersebut: Hakikat Wujud dan Eksistensi Adam. Teologi Tekstual: Adam adalah manusia pertama secara biologis dan historis. Beliau diciptakan secara kronologis pada titik waktu tertentu di masa lalu, memiliki garis keturunan fisik, dan merupakan bapak biologis dari seluruh umat manusia (Homo sapiens).
Manusia Adamik: Adam adalah Manusia Universal (Insan Kamil) atau Archetype (Cetak Biru) kemanusiaan. menekankan bahwa Adam bukan sekadar individu historis, melainkan perwujudan dari Anthropos yaitu realitas metafisis yang merefleksikan seluruh Sifat Ilahi. Sehingga Eksistensi Adam melampaui sejarah fisik bumi.
Proses Penciptaan (Tanah dan Ruh). Teologi Tekstual: Menafsirkan proses penciptaan secara mekanis dan material. Tuhan mengambil segumpal tanah/debu fisik bumi, membentuk tubuh Adam, lalu meniupkan ruh-Nya. Fokusnya adalah pada mukjizat penciptaan langsung (creatio ex nihilo) yang menolak teori evolusi biologis karena bertentangan dengan teks lahiriah kitab suci.
Manusia Adamik: Menafsirkan proses tersebut secara simbolis-kosmologis. Tanah mewakili materi penampung (materia prima) yang pasif dan terbatas, sedangkan Ruh mewakili Intelek Ilahi (Intellectus) yang aktif dan tak terbatas. Konsep manusia Adamik menolak evolusi Darwinian bukan karena membela penciptaan material yang instan, melainkan karena evolusi mengasumsikan yang lebih tinggi (kesadaran) lahir dari yang lebih rendah (materi). Bagi Nasr, Adam “turun” (descent) dari alam spiritual tinggi ke bentuk material, bukan “naik” (ascent) dari derajat kera.
Makna Surga (Paradise) dan Kejatuhan (The Fall)
Teologi Tekstual: Surga adalah lokasi fisik geografis (baik di langit atau di bumi sebelum bumi sekarang) tempat Adam hidup. Kejatuhan atau pengusiran Adam adalah hukuman moral yang bersifat spasial (berpindah tempat) karena Adam melanggar hukum formal (memakan buah terlarang) akibat godaan iblis luar.
Manusia Adamik: Surga adalah keadaan kesadaran primordial (Primordial State) di mana manusia hidup dalam kemurnian tanpa dualitas, terhubung langsung dengan Yang Mutlak. Kejatuhan Adam adalah penurunan kosmis dari kesadaran kesatuan (tawhid) ke kesadaran dualitas (materi). Buah terlarang disimbolkan sebagai “keinginan manusia untuk mengetahui relativitas secara mandiri dari Yang Mutlak.” Kejatuhan ini bersifat ontologis (penurunan derajat wujud)– bukan sekadar hukuman moral.
Konsep “Dosa” Adam dan Dampaknya pada Manusia
Teologi Tekstual: Perbuatan Adam adalah pelanggaran hukum (sin). Dalam teologi Kristen tradisional (tekstual Barat), ini menghasilkan “Dosa Waris” (Original Sin). Dalam teologi Islam tekstual, ini adalah kekhilafan personal yang sudah diampuni, namun konsekuensi hukumnya tetap membuat manusia harus hidup di bumi yang penuh ujian materi.
Manusia Adamik: Kejatuhan Adam tidak menghasilkan “dosa waris” dalam pengertian moralitas material, melainkan menghasilkan sifat “Lupa” (Al-Ghaflah atau Incurvatus in se) pada anak cucu keturunan Adam. Oleh karenanya– Manusia moderen mewarisi amnesia spiritual sehingga mereka lupa terhadap hakikat Ilahi di dalam diri mereka.
Konsep keselamatan dalam konsep Manusia Adamik bukan sekadar penebusan dosa, melainkan remembrance (Mengingat kembali / Dhikr / Gnosis) untuk kembali ke “Kedudukan Adam” yang asli. Kritik Nasr sangat tajam ketika bicara “Adam Moderen” (Darwinisme). Menurutnya manusia moderen sedang mengalami 3 (tiga) kejatuhan sekaligus yakni:
Kejatuhan Metafisis;
Lupa bahwa kita ini adalah Khalifah wakil Allah di muka Bumi, tetapi manusia moderen justru menolak menjadi khalifah. Manusia moderen menginginkan menjadi “tuan” alam. Akibatnya; manusia moderen banyak mengeksploitasi alam, yang berdapak krisis ekologi. Menurut Nasr — krisis ekologi adalah mengulang dosa Adam, yang berakibat Kejatuhan Epistemologis dengan Mengganti Ilmu dengan Informasi.
Adam diberikan pengetahuan “nama-nama” berupa ilmu hakiki
Manusia moderen memiliki “data” tetapi tidak punya “makna”. Sains moderen memisahkan subjek dari objek. Padahal Adam diajarkan melihat Tuhan di balik nama-nama atau asmaNya. Sehingga terjadi Kejatuhan Spiritual dengan Memakan “Buah Teknologi” tanpa memperdulikan Adab. Pohon terlarang dalam versi Nasr adalah promethean science– berupa Teknologi tanpa wahyu. Kita ingin kekuatan seperti Tuhan tapi tanpa ketaatan seperti Adam. Maka yang dihasilnya adalah bom nuklir, AI tanpa etika, bioteknologi tanpa perikemanusiaan. Kutipan kata kunci Nasr: Modern man is in the position of Adam after the Fall, but without the possibility of repentance, because he denies that he has fallen.” Manusia moderen posisinya seperti Adam setelah jatuh, tetapi tanpa kemungkinan tobat, karena dia menolak mengakui bahwa ia telah jatuh.
Bagaimana Adam dapat dibangkitkan lagi?
Jawaban Nasr manusia moderen harus kembali ke Tradisi Intelektual dan taat Adab dengan kembali pada: Pilar “Manusia Adamik” dengan menghidupkan Kembali Intellect /Al-‘Aql— bukan IQ, akan tetapi akal Cahaya yang mampu melihat yang Sakral di balik yang profan. Hal Ini merupakan antidot dari rasionalisme.
Mengembalikan Adab dalam perlakuan terhadap Alam semesta; Alam bukan pabrik. Alam adalah ayat. Seorang Khalifah wakil Tuhan memperlakukan sungai, hutan, hewan dengan adab– karena hal ini adalah dasar ekologi Islam. Menghidupkan Dzikr dan Tasawuf; Tobat Adam termanifestasi dalam dzikr. Di era bising notifikasi– dzikr adalah cara “kembali ke surga”. Membersihkan cermin hati agar bisa memantulkan Asma al-Husna. (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
