Ketika Negara-Negara  Besar Mulai Goyah: Sejarah Sedang Menuju Zaman Baru?

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Oleh: Toto Izul Fatah*

Ada sesuatu yang terasa tidak biasa sedang terjadi pada dunia. Negara-negara yang selama puluhan tahun menjadi simbol kekuatan ekonomi, teknologi, dan kemakmuran, kini justru menghadapi persoalan besar  yang menggoyahkan. Mereka sekarang sedang menghadapi utang yang menggunung, biaya bunga yang meningkat, defisit yang sulit dikendalikan, pertumbuhan yang melambat, tekanan demografi, hingga kegelisahan pemerintah dalam membiayai dirinya sendiri.

Amerika Serikat, China, dan Jepang — memang belum bangkrut banget. Bahkan secara ekonomi ketiganya masih merupakan kekuatan raksasa dunia– karena itu, menyebut mereka sedang menuju kebangkrutan dalam pengertian seperti sebuah perusahaan kehabisan uang jelas terlalu Sederhana– tetapi mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja juga sama kelirunya. Sebab lampu kuning sedang menyala.

Pada Agustus 2026, utang nasional Amerika Serikat telah menembus angka US$40 triliun. Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan utang bruto pemerintah umum Amerika sekitar 125,8 persen terhadap PDB pada 2026, sementara defisit pemerintah umum mencapai sekitar 7,5 persen PDB.

Jika kebijakan tidak berubah signifikan, IMF memperkirakan rasio utangnya dapat melampaui 140 persen PDB pada 2031. Ini bukan angka kecil. Lebih mengkhawatirkan lagi karena Amerika harus membayar bunga atas gunungan utang tersebut. Ketika suku bunga tinggi, utang lama yang jatuh tempo harus dibiayai kembali dengan bunga yang lebih mahal. Di sinilah bom waktu fiskal bekerja perlahan.

Pertanyaannya adalah, berapa lama sebuah negara dapat terus hidup dengan defisit besar dan menumpuk utang tanpa membayar harga ekonomi, sosial, ataupun politiknya? Kasus paradoks terjadi pada Jepang. Negara ini tetap kaya, moderen, tertib dan memiliki basis industri serta teknologi yang sangat kuat– namun utang publiknya luar biasa besar.

IMF memperkirakan rasio utang pemerintah Jepang sekitar 203 persen terhadap PDB pada 2026. Itu berarti nilai utangnya kira-kira dua kali ukuran perekonomiannya. China menghadapi persoalan yang berbeda. Selama beberapa dekade, kekuatan ekonomi China dibangun melalui investasi besar-besaran, pembangunan properti, infrastruktur, industrialisasi dan ekspor.

Model itu sukses luar biasa– namun mesin yang sama kini menghadapi kelelahan.  Pertumbuhan ekonomi China pada 2026 diproyeksikan sekitar 4,5 persen, jauh di bawah kecepatan pertumbuhan China pada masa kejayaannya.  Jadi tiga raksasa ini mempunyai penyakit yang berbeda. Amerika menghadapi defisit dan utang federal yang terus membesar. Jepang menghadapi utang sangat tinggi, penuaan penduduk dan berakhirnya era bunga supermurah– yang lebih menggelisahkan, sekitar 78 persen penerbitan surat utang pemerintah negara OECD pada 2026 digunakan untuk membiayai kembali utang lama.

Ketika pendapatan negara tidak cukup, pilihan paling mudah adalah berutang. Utang pada akhirnya menjadi kompromi politik antara keinginan masyarakat menikmati sesuatu hari ini dengan ketidaksediaan membayar seluruh biayanya hari ini– karena itulah yang kita saksikan mungkin bukan sekadar krisis pengelolaan negara, tetapi krisis sebuah model peradaban ekonomi.

Selama beberapa dekade dunia seperti menemukan resep ajaib. Pertumbuhan hari ini dapat dibiayai oleh pendapatan hari esok– dan utang menjadi jembatannya. Kalau kita membaca sejarah lebih panjang, keadaan seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.

Romawi pernah menjadi pusat dunia. Kesultanan dan kerajaan datang silih berganti. Inggris pernah memimpin ekonomi dunia sebelum dominasi itu beralih kepada Amerika. Tidak ada kekuatan yang benar-benar permanen. Kekuatan dapat melemah ketika beban mempertahankan kekuasaan, militer dan kepentingannya melampaui kemampuan ekonominya. Artinya, kehancuran tidak selalu datang karena sebuah bangsa tiba-tiba menjadi bodoh– kadang sebuah sistem runtuh karena beban keberhasilannya sendiri menjadi terlalu besar untuk ditanggung– karena itu boleh jadi pertanyaan terpenting sekarang bukan negara mana yang akan bangkrut lebih dahulu. Tetapi, apakah kita sedang menyaksikan berakhirnya sebuah siklus sejarah?”

Bagi orang beriman, pertanyaan ini akhirnya melampaui urusan ekonomi. Meskipun, tidak seorang pun mempunyai kewenangan memastikan bahwa utang Amerika, krisis properti China atau persoalan Jepang merupakan “azab Tuhan”.  Itu sudah memasuki wilayah pengetahuan Tuhan yang tidak kita miliki– namun agama memberi ruang yang sangat luas untuk membaca peristiwa sejarah sebagai ibrah atau peringatan dan pelajaran.

Kerusakan selalu mempunyai hubungan dengan perbuatannya. Jika prinsip itu dibawa ke ekonomi modern, pertanyaan spiritualnya menjadi sangat relevan. Mungkinkah krisis utang global sebenarnya juga menggambarkan krisis manusia yang tidak pernah merasa cukup?

Negara ingin pertumbuhan tanpa henti. Perusahaan ingin laba tanpa henti. Pasar ingin konsumsi tanpa henti. Individu ingin kemakmuran tanpa henti. Padahal kita hidup di bumi yang memiliki batas. Pada titik tertentu, ekonomi bertemu ekologi. Dan keduanya bertemu moralitas.

Bagi orang sekuler, proses ini dapat disebut hukum sejarah. Bagi filsuf– mungkin disebut pergantian zaman. Sedangkan bagi orang beriman, seluruh hukum sejarah itu berlangsung dalam hukum Tuhan, sunnatullahnya. Bangsa yang boros akhirnya terlilit utang. Bangsa yang merusak alam akhirnya menghadapi bencana ekologis. Negara yang melahirkan ketimpangan ekstrem akhirnya menghadapi keresahan sosial. Kekuasaan yang terlalu percaya diri akhirnya menemukan batasnya.

Sejarah hampir tidak pernah berjalan lurus– bergerak melalui kelahiran, kejayaan, kejenuhan, krisis, keruntuhan, kemudian kelahiran kembali. Ketika kekuatan-kekuatan besar mulai menghadapi persoalan yang bahkan kekayaan mereka sulit menyelesaikannya, biasanya perubahan besar sedang mendekat.

Mungkin, Tuhan tidak sedang menunjukkan kepada manusia kapan dunia akan berakhir. Tuhan hanya sedang mengingatkan bahwa tidak ada kejayaan dunia yang abadi. Itulah pesan paling penting dari kegelisahan dunia hari-hari ini.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *