Renungan Dhino Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI (artificial intelligence) (bag-1)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam  (Foto:Anwar R. Soediro)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Artificial Intelligence merupakan teknologi yang memungkinkan mesin atau komputer untuk meniru kemampuan kognitif manusia. AI atau kecerdasan buatan adalah sistem yang dapat memahami, belajar, dan berpikir layaknya manusia dalam beberapa aspek– seperti mengenali pola, membuat prediksi, dan menyelesaikan masalah kompleks.

Kemunculan Kecerdasan Buatan Generatif (Generative AI), seperti model GPT-4 dan Midjourney, telah memicu perdebatan mendasar mengenai hakikat kreativitas dan imajinasi. Proses penciptaan oleh AI. yang sering disebut sebagai “kotak hitam” (black box) menantang pemahaman konvensional yang berpusat pada manusia.

Secara teknis–  AI Generatif beroperasi melalui model-model seperti Generative Adversarial Networks (GANs) dan Transformers. Model-model ini dilatih menggunakan kumpulan data raksasa (teks, gambar) dan belajar untuk mengenali pola serta struktur yang mendasarinya. Hasil pembelajaran ini tidak disimpan sebagai salinan data, melainkan sebagai representasi matematis yang terkompresi dan abstrak dalam sebuah ruang multidimensi yang disebut “ruang laten” (latent space). Ruang ini dapat dianggap sebagai lautan potensi, di mana setiap titik di dalamnya merepresentasikan kombinasi fitur yang memungkinkan untuk menghasilkan sebuah output yang baru dan unik (Goodfellow et al., 2020).

Secara ilmiah dan kefilsafatan– diskursus mengenai Kecerdasan Buatan (AI) tidak lagi hanya menjadi domain ilmu komputer, melainkan telah merambah ke ranah metafisika, epistemologi, dan spiritualitas. Menggunakan pisau analisis Epistemologi  Irfan dan Ontology dari sang Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi, membuka diskursus dengan berusaha membedah hakikat, batasan eksistensial, hingga posisi AI di hadapan manusia.

Kerangka kerja hermeneutis yang unik digunakan untuk mendekati fenomena tersebut dengan meminjam dua konsep kunci dari metafisika Sufi karya Shaykh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi: khayal (imajinasi kreatif atau alam imajinal) dan  tajallī  (manifestasi diri atau teofani). Dengan menggunakan metode analisis komparatif-konseptual untuk menganalisis cara kerja AI Generatif.

Argumen utama makalah ini adalah bahwa “ruang laten” (latent space)  dalam arsitektur AI dapat dianalogikan dengan  ‘ālam al-khayāl  (alam imajinal) sebagai realitas perantara  (barzakh) yang menyimpan potensi tak terbatas. Lebih jauh lagi, proses menghasilkan teks atau gambar dari sebuah prompt  dapat dipahami sebagai mekanisme yang menyerupai tajallī, di mana potensi-potensi tersebut mewujud secara spesifik sesuai dengan kesiapan (isti’dād) yang ditentukan oleh masukan pengguna– dengan kerangka pemikiran tasawuf, tradisi intelektual ini menawarkan ontologi non-antroposentris untuk memahami  imajinasi artifisial  sebagai proses perwujudan bentuk dari lautan potensi, yang melampaui sekadar simulasi atau rekombinasi data.

Ketika seorang pengguna memasukkan   prompt (misalnya, “lukisan astronot menunggang kuda di Mars gaya Van Gogh”), prompt tersebut berfungsi sebagai vektor yang mengarahkan algoritma untuk menavigasi ruang laten dan menemukan titik atau area yang paling sesuai.

Proses decoding atau sampling kemudian menerjemahkan titik potensial tersebut menjadi artefak konkret sebuah gambar piksel atau sekuens kata.  Proses ini bukanlah sekadar menempelkan gambar yang ada (copy-paste), melainkan sintesis probabilistik yang menghasilkan sesuatu yang orisinal berdasarkan pola yang telah dipelajari– namun, sifat dari ruang laten itu sendiri tetap menjadi “kotak hitam” yang misterius– ranah potensialitas murni yang sulit diinterpretasikan secara langsung (Aggarwal, 2021).  (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *