Tolstoy, Muhammad, dan Perjalanan Panjang Mencari Tuhan

Doktor Filsafat dari  FIB Universitas Indonesia, Jakarta (Foto: Satrio Arismunandar)

Oleh: Satrio Arismunandar*

Ada ironi dalam kehidupan manusia: semakin banyak yang kita ketahui– kadang-kadang semakin sadar kita bahwa sesungguhnya kita belum mengetahui apa-apa. Sastrawan besar Rusia, Lev Tolstoy mengalami ironi itu pada usia tua. Dia telah menjadi salah satu manusia paling terkenal di dunia– dia menulis War and Peace dan Anna Karenina.

Dia telah menyelami sejarah, politik, perang, cinta, keluarga, kematian, dan berbagai lapisan jiwa manusia–tetapi ketika usianya semakin mendekati akhir, Tolstoy justru semakin gelisah terhadap pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh sastra– untuk apa manusia hidup? Apa arti menjadi manusia yang baik? Apakah Tuhan benar-benar ada? Jika Tuhan ada, bagaimana manusia seharusnya hidup di hadapan-Nya? Dan yang paling penting: adakah kebenaran yang lebih besar daripada batas-batas agama, bangsa, gereja, dan kebudayaan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membawa Tolstoy kepada Muhammad. Bukan Muhammad sebagai tokoh yang jauh di Timur. Bukan Muhammad sebagaimana digambarkan oleh polemik-polemik Eropa–tetapi Muhammad sebagai seorang pembawa ajaran moral. Pada usia senja, Tolstoy tampaknya tidak lagi terlalu tertarik pada perbedaan nama. Dia sedang mencari inti– dan pencarian itu membawanya membaca sabda-sabda Nabi Muhammad SAW.

Buku tentang Muhammad dari India

Menariknya, Tolstoy tidak memulai perjalanannya kepada Muhammad dari Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Salah satu sumber penting yang digunakannya adalah buku berbahasa Inggris berjudul The Sayings of Muhammad, yang disunting oleh Abdullah al-Mamun al-Suhrawardy, seorang intelektual Muslim dari India. Buku itu terbit di London pada 1905.

Tolstoy menerima dan membacanya. Dalam suratnya kepada Suhrawardy pada 1907, Tolstoy menunjukkan bahwa dia tertarik pada kumpulan sabda tersebut dan ingin memanfaatkan sebagian isinya dalam proyek tulisannya tentang kebijaksanaan manusia.

Dokumen-dokumen Tolstoy memperlihatkan bahwa dia memang mempunyai perhatian luas terhadap pemikiran Timur. Dia membaca pemikiran Hindu, Buddha, Laozi, Konfusius, dan tradisi-tradisi lainnya. Bagi Tolstoy, kebijaksanaan tidak dimonopoli oleh satu peradaban. Maka Muhammad pun masuk ke dalam peta pencarian tersebut.

Tolstoy kemudian memilih dan menyusun sejumlah sabda Muhammad. Kumpulan itu diterbitkan dalam bahasa Rusia dengan judul Izrecheniya Magometa, ne voshedshie v Koran —“Sabda-Sabda Muhammad yang Tidak Masuk ke Dalam Al-Qur’an”. Buku kecil itu diterbitkan oleh penerbit Posrednik di Moskow.

Edisi bibliografisnya dicatat sebagai 1910, tetapi catatan resmi Tolstoy menyebut buku tersebut terbit pada 19 Oktober 1909. Situs resmi Museum Tolstoy bahkan mencantumkan karya tersebut dalam kumpulan karya Tolstoy, jilid ke-40. Dengan demikian, satu hal perlu ditegaskan sejak awal: buku Tolstoy mengenai Muhammad itu nyata- yang tidak tepat adalah menyebutnya sebagai “manuskrip rahasia” yang baru ditemukan setelah lebih dari seratus tahun. Karya itu sudah diterbitkan pada masa Tolstoy masih hidup– yang membuatnya terasa seperti buku tersembunyi adalah karena karya kecil tersebut kemudian kalah terkenal dibanding novel-novel besarnya– tetapi justru karya kecil itu memberi kita jendela untuk melihat Tolstoy yang lain. Bukan Tolstoy sang novelis– melainkan Tolstoy sang pencari.

Muhammad sebagai Seorang Guru Moral

Ada sesuatu yang sangat khas dalam cara Tolstoy membaca agama–dia tidak terlalu tertarik pada agama sebagai identitas. Dia lebih tertarik pada agama sebagai jawaban atas pertanyaan: bagaimana manusia harus hidup? Itulah sebabnya dia dapat membaca ajaran Kristus, Buddha, Konfusius, Laozi, dan Muhammad dalam satu proyek intelektual.

Dalam pandangan Tolstoy–  agama-agama besar mungkin berbeda dalam doktrin dan sejarahnya, tetapi di balik berbagai bentuk  tersebut terdapat pencarian moral yang serupa: manusia harus keluar dari egoisme dan kekerasan, menemukan hubungan yang benar dengan Tuhan, serta hidup dengan kasih terhadap manusia lain– karena itu, ketika Tolstoy membaca ucapan-ucapan Muhammad, dia tidak terutama mencari argumentasi teologis untuk memenangkan perdebatan antara Islam dan Kristen– dia mencari kebijaksanaan.

Dalam jawabannya kepada penulis Tatar Mirsayaf Krymbaev pada Maret 1909, Tolstoy secara khusus menyebut The Sayings of Muhammad karya Suhrawardy dan mengatakan bahwa buku tersebut berisi ajaran Muhammad yang sangat mendalam secara spiritual.  Ini bukan sekadar rasa ingin tahu seorang sastrawan. Ini bagian dari pencarian yang lebih besar. Tolstoy sedang berusaha menemukan apakah mungkin ada suatu kebenaran moral yang dapat mempertemukan manusia sebelum manusia terpecah oleh institusi agama, politik, nasionalisme, dan kepentingan kelompok– dengan kata lain, dia sedang mencari “agama di balik agama.” Bukan agama baru, melainkan inti moral yang menurutnya terkandung dalam berbagai agama.

Semakin Tua, Semakin Menjadi Pencari

Di sinilah kisah Tolstoy menjadi filosofis. Biasanya manusia membayangkan usia tua sebagai masa ketika seseorang telah mengumpulkan jawaban. Tolstoy justru mengalami kebalikannya. Semakin tua, semakin banyak pertanyaan–  dia telah membaca begitu banyak buku–dia telah melihat begitu banyak manusia. Dia telah mengalami ketenaran, konflik, kekayaan, keluarga, penderitaan dan penyakit– tetapi semua pengalaman itu tidak membuatnya merasa telah menemukan kebenaran.

Justru sebaliknya– dia semakin curiga terhadap jawaban-jawaban yang terlalu mudah. Pada suatu titik, manusia mungkin menyadari bahwa pengetahuan tentang dunia tidak otomatis membuat hidup menjadi bermakna. Kita bisa mengetahui bagaimana alam semesta bekerja, tetapi belum tentu tahu bagaimana kita harus hidup. Kita bisa memahami sejarah, tetapi belum tentu memahami diri. Kita bisa menulis buku tentang manusia, tetapi belum tentu tahu bagaimana menjadi manusia. Tolstoy tampaknya sampai pada kesadaran itu– karena itu dia kembali belajar– dan salah satu gurunya, pada masa tua itu, adalah Muhammad.

Apakah Tolstoy Kemudian Menjadi Muslim?

Pertanyaan ini hampir selalu muncul ketika kisah Tolstoy dan Muhammad dibicarakan. Ada banyak cerita yang menyebut Tolstoy sebenarnya masuk Islam menjelang kematiannya. Ada pula anggapan bahwa dia sengaja menyembunyikan keislamannya karena konflik dengan Gereja Ortodoks Rusia.

Spekulasi tersebut mudah dipahami. Tolstoy memang sangat kritis terhadap Gereja Ortodoks. Dia juga memiliki hubungan intelektual dengan sejumlah Muslim. Dia membaca literatur Islam. Dia menulis buku tentang sabda Muhammad. Dia memuji sejumlah aspek ajaran Islam –dan dalam beberapa suratnya, dia bahkan berbicara sangat positif tentang Islam– tetapi dari sini kita harus membedakan antara kekaguman spiritual dan konversi agama. Tidak ada bukti historis yang kuat bahwa Tolstoy pernah secara formal mengucapkan syahadat atau menyatakan dirinya masuk Islam.

Bahkan surat-suratnya menunjukkan sesuatu yang lebih rumit. Tolstoy tidak sedang berpindah begitu saja dari Kristen ke Islam. Dia sedang membangun pandangan religius yang sangat personal. Dia menolak banyak doktrin Gereja Ortodoks, tetapi dia juga tidak menerima begitu saja seluruh doktrin Islam– yang dia cari adalah apa yang dianggapnya sebagai kebenaran moral universal.

Pada 1908, ketika menjawab seorang imam Ortodoks yang berbicara tentang kembali kepada Gereja, Tolstoy mengatakan bahwa dia merasa tidak terpisah dari “gereja” dalam pengertian yang jauh lebih luas—yakni komunitas manusia yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, dari berbagai tradisi, termasuk Buddha, Laozi, Konfusius dan Kristus.

Kalimat itu sangat penting. Sebab di situlah kita menemukan kunci untuk memahami Tolstoy– dia tidak sedang mencari pintu untuk berpindah dari satu institusi ke institusi lain– dia sedang mencari Tuhan. Jadi, apakah spekulasi itu sepenuhnya salah? Tidak juga. Spekulasi bahwa Tolstoy memiliki kedekatan khusus dengan Islam mempunyai dasar faktual. Dia memang membaca pemikiran Islam. Dia memang menulis tentang Muhammad. Dia memang menghargai ajaran moral Islam. Dia memang berkorespondensi dengan umat Islam.

Bahkan jauh sebelum bukunya tentang Muhammad itu diterbitkan– Tolstoy telah berhubungan dengan tokoh-tokoh Muslim. Pada 1903, misalnya, dia berkorespondensi dengan Mufti Muhammad Sadig dan membahas persoalan agama secara cukup serius. Tolstoy mengatakan bahwa dunia membutuhkan ajaran agama yang rasional dan kehidupan yang baik sebagai pembuktian agama tersebut.

Jadi, ada alasan mengapa sebagian orang Muslim melihat Tolstoy sebagai seorang intelektual yang sangat dekat dengan Islam– tetapi kedekatan intelektual tidak sama dengan konversi. Justru di sinilah kita harus menolak godaan untuk membuat sejarah menjadi lebih indah daripada kenyataannya. Tolstoy tidak perlu dijadikan Muslim agar penghormatannya kepada Muhammad menjadi bermakna.

Kita sering membaca agama melalui pertanyaan: “Apakah dia masuk agama saya?” Pertanyaan itu manusiawi– tetapi Tolstoy mungkin mengajarkan pertanyaan yang berbeda: “Apa yang bisa saya pelajari dari kebenaran yang saya temukan dalam agama orang lain?”  Ini perbedaan yang sangat besar. Pertanyaan pertama mencari identitas. Pertanyaan kedua mencari kebenaran– dan Tolstoy, pada masa tuanya, tampaknya lebih tertarik pada yang kedua– dia tidak harus menjadi Muslim untuk menganggap Muhammad seorang guru moral yang penting. Dia tidak harus menjadi Buddha untuk menemukan kebijaksanaan dalam Buddha. Dia tidak harus menjadi pengikut Laozi untuk membaca Laozi– dan dia tidak harus kembali sepenuhnya kepada Gereja untuk tetap berbicara tentang Tuhan.

Dalam dunia yang semakin gemar membangun tembok identitas, cara membaca Tolstoy terasa sangat relevan. Dia membaca agama lain bukan untuk menghancurkan agamanya– tetapi untuk menguji kedalaman keyakinannya sendiri. Barangkali inilah bentuk kerendahan hati intelektual yang paling sulit. Berani membaca sesuatu yang berbeda tanpa merasa identitas kita terancam olehnya.

Pertanyaan yang Belum Selesai

Mungkin kalimat ini terdengar paradoksal. Tolstoy bukan terutama sedang mencari Islam–dia sedang mencari kebenaran– dan dalam perjalanan itu, dia bertemu dengan Muhammad– dia menemukan bahwa seorang nabi yang hidup berabad-abad sebelumnya berbicara tentang persoalan yang masih menghantuinya: Tuhan, manusia, moralitas, keserakahan, kekerasan, cinta dan kehidupan yang benar.

Itulah sebabnya kisah Tolstoy dan Muhammad sebenarnya lebih besar daripada cerita tentang seorang sastrawan Rusia yang pernah menulis buku kecil tentang Nabi. Dia adalah kisah tentang manusia yang telah mencapai puncak pengetahuan tetapi masih berani mengakui dirinya sebagai pencari. Ada sesuatu yang sangat indah dalam posisi itu. Sebab mungkin ukuran kedalaman spiritual seseorang bukanlah seberapa banyak jawaban yang dia miliki. Melainkan seberapa jujur dia mengakui bahwa masih ada pertanyaan yang belum selesai.

Tolstoy meninggal pada 1910– dia pergi tanpa menyelesaikan seluruh pertanyaannya– tetapi mungkin memang tidak semua pertanyaan harus selesai. Sebagian pertanyaan justru menjaga manusia tetap rendah hati– dan salah satu pertanyaan terbesar Tolstoy—bagaimana manusia harus hidup di hadapan Tuhan—membawanya membaca sabda Muhammad pada tahun-tahun terakhir kehidupannya.

Dia tidak menemukan sebuah label baru– dia menemukan seorang guru dalam perjalanan– dan mungkin, pada akhirnya, itulah arti paling dalam dari pencarian spiritual: bukan menemukan kelompok tempat kita merasa paling benar, tetapi menemukan kebenaran yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

*Doktor Filsafat dari  FIB Universitas Indonesia, Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *