Buku ’’Islam Ala Prabowo’’ dan Sampah Peradaban

Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi FDIKOM UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta (Foto: Helmi Hidayat)

Oleh: Helmi Hidayat, M.Si*

Ketika seorang kawan di grup Whatsapp memosting berita tentang peluncuran buku berjudul ’’Islam Ala Prabowo’’ — nalar saya tidak tergoda untuk segera percaya. Jangan-jangan berita itu hoaks. Tidak mungkin ada Islam dengan mazhab Prabowo. Kata ’’Islam Ala Prabowo’’, menurut nalar saya, tidak menyisakan makna lain kecuali Islam dengan mazhab Prabowo.  

Sebagai akademisi — saya harus tunduk pada syarat-syarat rasionalitas, antara lain verifikasi. Maka, saya forward postingan itu ke grup dosen, yang di dalamnya ada seorang komisioner Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) – harap dicatat, buku ini diluncurkan secara resmi dalam rangkaian Rakornas Baznas 2025 di Jakarta, 26 Agustus 2025. Makanya saya curiga, jangan-jangan berita itu hoaks belaka sebab mustahil uang zakat umat Islam dipakai buat mencetak buku Islam dengan mazhab Prabowo!

Tidak dinyana — kawan yang menjadi komisioner Baznas itu membenarkan berita itu. Artinya buku itu riil, nyata ada. Artinya benar-benar ada sekelompok orang yang merealisasi niat mereka menerbitkan buku itu, lalu meminjam ’’kesucian’’ nama Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan’’kebesaran’’ nama Majlis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) untuk meluncurkannya. Penulisan buku ini memang diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Ketua MUI Anwar Iskandar.

Tentu saja saya gerah ingin cepat membacanya. Cadangan pengetahuan di jiwa berpikir saya menari-nari.  Secara sosiologis, jika ada orang mengatakan ’’Islam a la Nusantara’’, imaji yang timbul di otak saya antara lain satu negara yang pemerintahnya bukan saja membolehkan masyarakat Muslim merayakan maulid Nabi SAW tetapi bahkan secara resmi memerintahkan semua umat beragama – Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan semua penganut kepercayaan – berhenti bekerja. Mereka dipersilakan menikmati hari libur nasional Maulid Nabi SAW–tetapi, jika dikatakan’’Islam a la Saudi Arabia’’, imaji yang muncul justru vice versa: sebuah negeri di Timur Tengah yang menjadi pusat penyebaran Islam tetapi rezim yang berkuasa justru mengejar-ngejar lalu memenjarakan orang-orang yang merayakan maulid Nabi SAW. Lalu, secara sosiologis, ‘’Islam a la Prabowo’’ apa?

Pikiran saya semakin liar. Dalam konteks pemikiran, jika ada orang menyebut’’kaum Mu’tazilah’’, imaji yang timbul dari kepala saya adalah sekelompok orang yang meyakini al-Quran adalah makhluk. Jika Al-Quran bukan makhluk, kata mazhab ini, berarti Al-Quran kekal. Jika Al-Quran kekal, berarti ada dua entitas yang kekal: Allah dan Al-Quran. Mu’tazilah meyakini jika ada umat Islam mempercayai al-Quran bukan makhluk berarti dia musyrik.  Sebaliknya mazhab Asy’ariah menegaskan Al-Quran adalah kalamullah, bukan makhluk. Lalu, dalam blantika pemikiran Islam ini, ‘’Islam a la Prabowo’’ ikut Mu’tazilah, ikut Asy’ariah, atau melawan keduanya?

Dalam fiqih, ada ’’Islam a la Syafii’’, ’’Islam a la Hanafi’’, ”Islam a la Hambali’’, ’’Islam a la Maliki’’– dan paling menarik ada ’’Islam a la Daud Azzahiri’’.  Kata empat mazhab pertama, misalnya, al-Quran memang hanya menyebut ’’khamar’’ sebagai minuman yang diharamkan, tetapi di luar khamar bisa juga ada yang haram jika dilihat dari sisi analogi, esensi, tujuan syariat, dan seterusnya. Makanya narkoba dianggap haram meski kata ’’narkoba’’ tidak disebut oleh al-Quran. Tetapi, kata Imam Daud bin Ali bin Khalaf al-Isfahani alias Daud Azzahiri, hanya ’’khamar’’ yang haram buat umat Islam. Ini karena dalam pandangannya, secara denotatif alias zahir ayat, hanya kata ’’khamr’’ yang disebutkan oleh Al-Quran. Selain khamar? Yaaaaaa — itulah indahnya Islam dalam perspektif fiqih. Nah,’’Islam a la Prabowo’’ dalam perspektif fiqih apa?

Sengaja saya sebutkan mazhab-mazhab Islam dari segala aspeknya dalam tulisan ini untuk menunjukkan betapa kuat keinginan saya membeli buku spektakuler itu, agar jelas bagi saya apa itu ’’Islam Ala Prabowo’’. Bagaimana tidak spektakuler? Inisiatornya saja Ketua MUI dan Ketua MPR RI. Belum lagi saya dengar ada banyak profesor menulis di buku itu.

Sebelum saya berhasil membeli buku itu, tiba-tiba muncul banyak berita ganjil di media massa bahwa tiga tokoh nasional yang nama mereka tercantum sebagai penulis di buku itu membantah mereka menjadi kontributor — Gus Kautsar, Prof. Dr. Said Aqil Siradj, dan Muhammad Zainul Majdi. Berikutrnya Prof Yusril Ihza Mahendra buru-buru mengatakan dia juga bukan penulis dalam buku itu, tetapi cuma diwawancara.

Biasanya, seseorang akan bangga jika berhasil menulis buku, entah sendirian atau beramai-ramai. Siapa tidak bangga karyanya dibaca ribuan orang? –tetapi, jika ada orang buru-buru membantah sebagai penulis sebuah buku padahal namanya jelas tercantum di buku itu, apa maknanya? Bisa jadi dia orang jujur, tidak bisa berbohong, tidak merasa menulis kok disebut sebagai penulis. Bisa jadi dia malu kepada masyarakat yang mencemoohnya sebab masyarakat jijik melihat produk buku itu. Atau, bisa juga dia marah melihat kebohongan dibungkus oleh kesucian nama besar lembaga keagamaan Baznas dan MUI serta nama besar rumah rakyat bernama MPR RI. Pokoknya banyak tafsir.

Kebohongan besar seperti inilah yang saya maksud sebagai ’’sampah peradaban’’.  Mencatut nama orang-orang  besar tertentu sebagai penulis buku padahal mereka tidak pernah menulis di buku itu adalah sampah intelektualisme, sampah peradaban. Makanya, agar integritas seorang mahasiswa terjaga dan tidak terjebak dalam memproduksi sampah peradaban, seorang mahasiwa dari strata satu sampai strata tiga selalu saja diminta melakukan verifikasi turnitin dan artificial intelligent atas karya skripsi, tesis, atau disertasi mereka. Jika karya mereka melewati kuota tertentu dalam plagiarisme, biasanya mereka diminta mengoreksi karya itu. Nah, jika plagiarisme biarpun sedikit saja dilarang oleh dunia akademik, apalagi mengklaim seseorang yang tidak menulis disebut ikut menulis?

Jadi, jangan salah paham. Saya tidak pernah mengatakan buku ’’Islam Ala Prabowo’’ adalah sampah peradaban, tapi cara dan akhlak penerbit dan editor buku itulah yang saya pertanyakan. Jika benar penerbit buku ini ingin produknya laku keras lalu menghalalkan berbagai cara sampai mencatut nama orang-orang besar sebagai penulis, ini jelas pembajakan intelektualisme, sampah peradaban. Jika dalam buku itu terdapat sampah peradaban, maka mustahil saya membeli buku itu. Masa saya membeli sampah?

Di tengah kontroversi berkepanjangan tentang buku ini, secara mengejutkan, kini beredar di banyak grup Whatsapp file dengan format PDF berjudul’’Islam Ala Prabowo’’. Banyak orang awalnya menduga file ini adalah buku utuh ’’Islam Ala Prabowo’’  sesuai versi cetak–tetapi, begitu file dibuka, alamaaaakkk, isinya bukan buku ’’Islam Ala Prabowo’’ itu, melainkan tulisan panjang berisi 33 poin keterangan yang sifatnya menggurui siapa pun untuk menerima alasan  mengapa buku ’’Islam Ala Prabowo’’ layak dibaca. Tidak ada penjelasan siapa penulisnya alias anonimus.

Anda bebas menyimpulkan, file PDF ini mungkin saja sebuah apologia atas ’’sampah peradaban’’ yang kadung beredar– atau bisa jadi itu promosi penerbit, agar orang lebih terdorong lagi untuk membeli buku itu secara rasional.  Atau bisa jadi file ini diniatkan sebagai ’’kontra intelijen’’ yang bernada menggurui mengapa buku ’’Islam Ala Prabowo’’ harus dibaca.

Menarik bahwa pembuat tulisan dalam file ini seperti sudah menduga bahwa tentang mazhab-mazhab dalam Islam yang tadi saya singgung di awal, buku ’’Islam Ala Prabowo’’ bakal menuai polemik. Makanya di file itu tertulis penjelasan begini: ’’Secara akademis, kita perlu membedakan “Islam ala Prabowo” sebagai judul buku dengan “Islam ala Prabowo” sebagai teori keislaman. Buku tersebut tidak berarti memperkenalkan mazhab Islam baru. Tidak ada alasan untuk memahami istilah tersebut sebagai fikih baru, teologi baru, akidah baru, mazhab baru, atau aliran keagamaan baru.’’

Lebih lanjut di file itu ditulis: ’’Lebih tepat jika istilah tersebut dipahami sebagai label interpretatif untuk menggambarkan bagaimana nilai Islam dibaca dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo– dengan kata lain, ini lebih dekat dengan pertanyaan: “Bagaimana Islam tercermin dalam sosok dan kepemimpinan Prabowo?” daripada: “Apa agama baru yang bernama Islam ala Prabowo?”

Atas penjelasan yang bernada apologia itu, mudah saja saya melakukan counter– bagaimana mungkin Islam yang tecermin dalam sosok dan kepemimpinan Prabowo bisa dilihat dan dikaji seperti yang diinginkan buku ini jika sang penerbit justru memulainya dengan kebohongan? Apakah kebohongan juga menjadi paradigma Prabowo dalam memimpin Indonesia sebagai dilakukan Jokowi?

File itu juga mengajak masyarakat membaca buku ’’Islam Ala Prabowo’’ dengan sikap kritis. ’’Membaca buku politik secara kritis bukan berarti membenci penulisnya. Sebaliknya, sikap kritis adalah bagian dari tradisi intelektual. Pembaca dapat bertanya: Apakah fakta yang ditampilkan dapat diverifikasi? Apakah interpretasi penulis didukung bukti? Apakah semua sisi kehidupan tokoh dibahas? Apakah ada perspektif yang berbeda? Apakah pujian terhadap tokoh memiliki dasar objektif? Apakah kebijakan politik benar-benar sesuai dengan prinsip Islam yang diklaim?’’

Coba Anda jawab satu saja pertanyaan yang dilontarkan:’ ’Apakah interpretasi penulis didukung bukti?’’ – Bukti apa yang mau dicari jika sebagian penulis dalam buku itu membantah bahwa mereka pernah menulis untuk buku itu? Hemat saya, berhentilah menyebar kebohongan. Masyarakat Indonesia merindukan peradaban manusiawi yang tinggi, bukan sampah peradaban.

Mewajibkan mahasiwa S1, S2, dan S3 menguji plagiarisme dalam karya akhir mereka sebelum diwisuda bukan tanpa niat. Niat luhur itu adalah hendaknya semua mahasiswa punya integritas moral yang tinggi, jujur sejak menulis karya ilmiah, agar mereka terlatih bersikap jujur setamat dari bangku kuliah dan, karena itu, tidak menjadi koruptor saat menduduki jabatan pemerintahan. Orang korupsi pasti berbohong!

Cukup sudah penduduk negeri ini disajikan banyak kebohongan oleh pimpinan negeri, penerbit buku ’’Islam Ala Prabowo’’ jangan ikut-ikutan menyebar sampah peradaban. Niat membangun paradigma baru dalam keislaman, antara lain dengan membuat mazhab baru Islam a la Prabowo– adalah cita-cita luhur. Setiap warga negara Indonesia berhak melakukan itu–tetapi, lakukanlah niat itu dengan benar. Jika buku ini diniatkan sebagai bagian dari karya ilmiah– maka ikutilah prosedur ilmiah yang diterapkan semua  perguruan tinggi di negeri ini. Melawan tradisi ilmiah kampus adalah sampah peradaban.

*Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi FDIKOM UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *