Metropolitan dari Celah Pohon Pisang, 2026 (Foto YSH)
Pijarberita.com, Jakarta– Pelukis dan wartawab senior Yusuf Susilo Hartono (YSH) memamerkan tubuh urban di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat, 9-18 Oktober 2026. Berupa lukisan, sketsa, ilustrasi dan gambar, bergaman medium dan tahun. Bertajuk Negoisasi Tubuh Urban : Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup. Pameran akan diresmikan oleh Maya Saraswati Rizano, professional komunikasi korporat dan pecinta seni.
“Pameran tunggal YSH ke 14 ini, bukan sekadar sublimasi visual atas dinamika ketubuhan dan keurbanan, melainkan muara dari perenungan batin dan perjalanan spiritual seorang Yusuf Susilo Hartono,” kata tutur Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Dr. Citra Smara Dewi, selaku kurator pameran.
Citra– yang juga anggota Tim Kurator Galeri Nasional Indonesia, menambahkan bahwa melukis dan menulis bagi YSH, yang juga dikenal sebagai wartawan senior, telah menyatu menjadi satu tarikan napas kontemplatif untuk mengendapkan nilai-nilai moralitas dan kebajikan.
“Melalui pertaruhan estetis dan etis dalam pameran Negosiasi Tubuh Urban ini, YSH mengajak publik untuk memandangi cermin sosial perkotaan kita sendiri—sebuah ajakan untuk mengevaluasi wacana ketubuhan, identitas, dan jiwa kita di tengah riuh rendah zaman yang kian terasing dari esensinya,” tandasnya.
Tubuh sebagai Medan Pertarungan Ideologis
Menurut Citra, YSH menjadikan Jakarta dan dinamika megalopolis sebagai ruang spekulasi dan kontemplasi konseptual. “Tubuh” dalam karya-karya terbarunya bukan dibaca dan dinikmati sebagai representasi anatomis ketubuhan, melainkan sebuah medan pertarungan ideologis tempat berlangsungnya tawar-menawar atau negosiasi antara modernitas yang hegemonik, jejak tradisi, dan godaan gaya hidup konsumeris. “Kota besar hadir sebagai struktur yang terus bergolak tempat individu dipaksa melakukan kompromi eksistensial di tengah himpitan sosial, ekonomi, dan politik perkotaan.,” ujar Citra.
Tubuh Konsumtif dan MBG
Penajaman wacana ini mengkristal secara kuat pada karya-karyanya dengan pendekatan konsep “Tubuh Konsumtif”; disamping “Tubuh Sekuler”, “Tubuh Adaptif/Kreatif”, “Tubuh Religius”, dan “Tubuh Mengalam”. Melalui penggambaran objek wajah-wajah yang dibungkam oleh aneka komoditas pangan—seperti ikan, telur, sate, hingga minuman beralkohol—YSH secara kritis mendedahkan bagaimana gaya hidup urban membelenggu artikulasi manusia.
Bungkaman makanan tersebut menjadi metafora ganda: menelanjangi fetisisme gaya hidup perkotaan sekaligus menyenggol secara tajam dinamika politik-ekonomi kontemporer, seperti persaingan perebutan ruang dan wacana kekuasaan di balik program kebijakan publik seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). “Wajah-wajah yang dibungkam oleh santapan lezat ini menandaskan bahwa dalam masyarakat konsumtif, artikulasi kritis sering kali dilumpuhkan oleh pemanjaan instan,” tutur Citra.
Program Publik
Pameran terbuka untuk umum dan gratis ini, dilengkapi dengan program publik. Berupa diskusi dengan pembicara Citra Smara Dewi dan Dhianita Kusuma Pertiwi mengangkat tema Kedaulatan Tubuh dan Budaya Urban, pada Jumat (14/10/2026) dengan moderator Hilmi Faiq (jurnalis/seniman). Dan YSH akan memberikan Klinik Sketsa, bagi parasketser pemula, selama berlangsungnya pameran. Pameran dan kegiatan publik ini didukung oleh Djarum Foundation, Cemara 6 Galeri, dan para pecinta seni rupa dari berbagai lintas bidang. (juf)
Editor: Jufri Alkatiri
