Bonggol Jagung Dompu Diubah Jadi Biochar untuk Dongkrak Produktivitas Jagung (Foto. Nur Hidayat)
Pijarberita.com, Dompu, NTB – Di balik melimpahnya produksi jagung di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), tersimpan persoalan lingkungan yang selama ini belum banyak mendapat perhatian: bonggol jagung yang menumpuk dan belum termanfaatkan secara optimal.
Kini, limbah tersebut mulai dilirik sebagai sumber daya bernilai ekonomi. Melalui program sinergi Universitas Brawijaya (UB) dan STIE YAPIS Dompu, bonggol jagung akan diolah menjadi biochar atau arang hayati yang berpotensi dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas tanaman jagung.
Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan tim sinergi dengan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu beserta jajaran kepala bidang, Senin (5/10/2026). Pertemuan berlangsung di Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Syahrul Ramadhan, SP, menyambut positif program tersebut. Menurutnya, sebagai salah satu daerah penghasil jagung, Dompu menghadapi persoalan pemanfaatan bonggol jagung yang selama ini sebagian besar belum memiliki nilai tambah.
Bonggol jagung yang tidak dimanfaatkan bahkan kerap dibakar di lahan. Praktik tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran udara akibat pembakaran hingga potensi pendangkalan sungai ketika limbah tidak dikelola dengan baik.
Bukan Lagi Dibakar, tetapi Dikembalikan ke Tanah
Melalui program ini, bonggol jagung tidak lagi dipandang sekadar sebagai limbah pertanian. Bahan tersebut akan dikonversi menjadi biochar yang kemudian diaplikasikan kembali ke lahan pertanian. Program sinergi tersebut merupakan bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Program telah diusulkan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dengan sumber pembiayaan dari LPDP.
Setelah penandatanganan kontrak kerja, tim yang diketuai Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat, MP melakukan kunjungan ke Dompu untuk membahas teknis pelaksanaan sekaligus melakukan survei lokasi kegiatan. Biochar dari bonggol jagung diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas lahan. Bahan ini berfungsi sebagai pembenah tanah yang dapat membantu memperbaiki kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah.
Selain itu, biochar juga memiliki kemampuan menahan kelembapan air sehingga berpotensi mendukung pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang. Tidak hanya digunakan untuk lahan jagung, biochar bonggol jagung juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi dan digunakan pada berbagai jenis tanaman, sebagaimana pemanfaatan arang sekam.
Desa Karamabura Jadi Lokasi Implementasi
Setelah dilakukan diskusi dengan pemerintah daerah, tim kemudian melakukan survei lapangan. Implementasi kegiatan direncanakan berlangsung pada musim tanam jagung di Desa Karamabura, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, NTB. Kegiatan akan mencakup sosialisasi mengenai pembuatan dan manfaat biochar, produksi biochar dari bonggol jagung, serta percobaan aplikasinya pada tanaman jagung.
Tidak berhenti pada aspek produksi, program juga diarahkan untuk memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim dan konservasi air melalui pemanfaatan limbah pertanian secara lebih berkelanjutan.
Program ini sekaligus membuka peluang lahirnya model ekonomi sirkular di sentra jagung. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diarahkan kembali menjadi input produksi, sehingga konsep “dari lahan, kembali ke lahan” dapat diterapkan dalam sistem pertanian.
Jika berhasil dikembangkan secara berkelanjutan, pemanfaatan bonggol jagung menjadi biochar bukan hanya dapat mengurangi persoalan limbah, tetapi juga berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendukung produktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan di Kabupaten Dompu. (nht/ries)
Editor: Ries Mariana dan Nur Hidayat
