The Power of Forgiving: Memaafkan itu Menyehatkan

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Memaafkan adalah salah satu pekerjaan hati yang paling mudah diucapkan, tetapi paling berat dilakukan. Lidah kita mungkin mampu berkata, “Saya sudah memaafkan,” sementara di dalam hati masih tersimpan luka, kemarahan, kebencian, dan keinginan untuk membalas.

Apalagi, jika kesalahan itu dilakukan oleh orang yang sangat kita percaya. Luka yang datang dari orang dekat biasanya jauh lebih dalam daripada luka yang ditimbulkan orang lain. Kita bukan hanya merasa disakiti, tetapi juga dikhianati, direndahkan, atau dipermainkan– namun, di situlah kekuatan memaafkan. Ini bukan bukan pekerjaan orang lemah. Ini justru membutuhkan kekuatan jiwa yang besar.

Orang yang membalas mungkin terlihat kuat karena mampu melukai kembali– namun, orang yang memaafkan jauh lebih kuat karena mampu mengalahkan kemarahan dan egonya sendiri. Memaafkan adalah kemenangan atas diri sendiri. Al-Qur’an menempatkan kemampuan menahan amarah dan memaafkan sebagai ciri orang yang bertakwa (QS Ali Imran: 134)

Ayat ini mengandung urutan yang sangat indah. Pertama, manusia diminta menahan amarah. Kedua, meningkat kepada memaafkan. Ketiga, tetap berbuat baik. Jadi, puncak kemuliaan bukan sekadar tidak membalas kejahatan, tetapi mampu menjaga diri agar keburukan orang lain tidak mengubah kita menjadi buruk.

Islam mengakui hak seseorang untuk memperoleh keadilan. Orang yang dizalimi tidak dilarang menuntut pertanggungjawaban–namun, Al-Qur’an membuka jalan yang lebih tinggi, yaitu memaafkan ketika pemaafan itu mendatangkan perbaikan.

Dalam bahasa akal atau dalil aqli, hal ini sangat masuk akal. Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan. Jika setiap kesalahan dibalas dengan kebencian, hubungan antarmanusia akan berubah menjadi lingkaran dendam yang tidak berujung– karena itu, memaafkan bukan hanya ajaran moral personal. Memaafkan merupakan energi sosial yang dapat memutus mata rantai permusuhan.

Kebencian, sakit hati, dan dendam bukan sekadar masalah perasaan. Semuanya dapat memengaruhi tubuh melalui mekanisme stres. Ketika pengalaman menyakitkan terus diputar di dalam pikiran, otak dapat merespons seolah-olah ancaman itu masih berlangsung. Tubuh kemudian mengaktifkan sistem “lawan atau lari”. Hormon stres dilepaskan, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, dan otot menegang.

Respons ini bermanfaat ketika menghadapi bahaya sesaat, tetapi dapat membebani tubuh apabila berlangsung terus-menerus. National Center for Complementary and Integrative Health⁠ menjelaskan, bahwa stres merupakan reaksi fisik sekaligus emosional. 

Sedangkan WHO–  mencatat bahwa stres berlebihan dapat memengaruhi tubuh, tidur, konsentrasi, serta memperburuk masalah kesehatan yang telah ada– dengan kata lain, orang yang menyakiti kita mungkin sudah pergi, tertawa, bahkan tidur nyenyak– namun, kita masih membawa orang itu ke mana-mana. Bahkan  memberi tempat tinggal gratis kepada orang yang kita benci di dalam kepala dan dada kita.

Inilah cara dendam “menggerogoti” diri secara perlahan. Ilmu pengetahuan moderen semakin banyak meneliti hubungan antara memaafkan, stres, dan kesehatan. Penelitian terhadap 148 orang dewasa muda menemukan bahwa kecenderungan memaafkan diri sendiri dan orang lain dapat menjadi penyangga hubungan antara stres dan kesehatan mental.

Penelitian eksperimental terhadap pasien penyakit jantung koroner juga memberikan petunjuk menarik. Dalam studi kecil tersebut, pasien yang mengikuti intervensi pemaafan menunjukkan lebih sedikit gangguan aliran darah ke otot jantung yang dipicu oleh proses mengingat kemarahan.

Secara psikologis, proses memaafkan dapat mengurangi kebiasaan mengulang-ulang peristiwa menyakitkan dalam pikiran, yang dikenal sebagai rumination. Ketika perenungan negatif berkurang, rangsangan kemarahan juga dapat mereda.

Tubuh mempunyai kesempatan keluar dari keadaan siaga menuju keadaan yang lebih tenang. Tidur dapat membaik, ketegangan emosional menurun, dan energi mental yang sebelumnya habis untuk memelihara dendam dapat dipakai untuk menjalani kehidupan. Jadi, memaafkan bekerja setidaknya melalui tiga jalan:

Mengurangi perenungan terhadap luka dan kejadian masa lalu. Menurunkan intensitas kemarahan serta keinginan membalas. Membantu tubuh keluar dari aktivasi stres yang berkepanjangan– namun, harus ditegaskan, babhwa hubungan antara pemaafan dan kesehatan tidak selalu berarti sebab-akibat langsung. Kondisi kesehatan dipengaruhi banyak factor– yang pasti, memaafkan adalah salah satu strategi pengelolaan emosi dan spiritual yang menjanjikan, bukan pengganti pengobatan, terapi psikologis, atau proses hukum. Sering kali kita menolak memaafkan karena mengira pemaafan berarti membenarkan kesalahan. Padahal, keduanya berbeda.

Memaafkan bukan terutama hadiah bagi orang yang bersalah– dia adalah hadiah bagi diri kita sendiri. Memaafkan berarti berhenti membiarkan masa lalu menguasai hari ini. Kita memaafkan bukan karena kita lemah. Kita memaafkan karena tidak ingin kesehatan, kebahagiaan, dan masa depan kita terus disandera oleh perbuatan orang lain.

Biarlah Allah yang mengurus ketulusan orang yang meminta maaf. Biarlah hukum mengurus pelanggaran yang memang harus dipertanggungjawabkan. Tugas kita adalah menjaga agar hati tidak berubah menjadi gudang kebencian.  Itulah the power of forgiving. Memaafkan mungkin tidak mengubah orang lain—namun  dapat menyelamatkan dan membebaskan diri kita sendiri.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website