Oleh Satrio Arismunandar
Penulis Cerpen Remaja di Majalah Anita Cemerlang dan Gadis pada era 1980-an. Saat ini Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA (Foto: Satrio)
Hujan turun sejak sore– dan aku selalu datang lebih awal bila hujan. Hujan menghapus suara langkah dan wajah-wajah di jalan. Orang yang berniat buruk menyukainya, dan orang yang berniat menyelamatkan sesuatu pun begitu. Hotel itu bukan tempat yang akan dipilih orang yang ingin dilihat, dan bukan pula yang akan dihindari orang yang ingin menghilang. Bintang tiga, delapan lantai, terjepit di antara stasiun dan deretan ruko, tempat pegawai dinas dan pedagang antar-kota menginap semalam sebelum urusan mereka selesai.
Lobinya kecil dan bersih, berkarpet abu-abu, dengan sofa yang tidak pernah ditiduri siapa pun. Resepsionis malam sibuk dengan layar ponselnya dan hanya mengangguk ketika aku menyebut nomor reservasi. Satu-satunya kamera yang menghadap lorong lantai empat rusak sejak bulan lalu. Aku sudah memeriksanya, seperti selalu.
Ponselku kutinggalkan di mobil, dimatikan, kartunya kucabut. Di saku hanya ada kartu kamar 412, secarik catatan yang akan kubakar sebelum pergi, dan sebuah cincin di kantong kecil dalam dompetku. Cincin yang tidak pernah kubicarakan dengan siapa pun.
Kamar 412 berbau pengharum ruangan dan seprai yang baru dicuci. Satu ranjang besar, meja kecil di dekat jendela, dua kursi berlapis kain krem. Kuletakkan termos dan dua cangkir di meja. Untukku, teh panas tanpa gula. Untuknya, dua sendok. Pukul sembilan lewat sepuluh, pintu diketuk tiga kali, jeda, lalu sekali.
Dia masuk membawa udara dingin dari luar. Rambutnya hitam dan panjang, basah di ujung, dan dia tidak repot mengeringkannya. Mantel krem, sepatu yang dia lepas di ambang pintu supaya langkahnya tidak terdengar. Dia selalu tampak seperti seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu, padahal malam ini taruhannya adalah sebuah kursi dan ketenangan seluruh negeri.
“Kau terlambat sepuluh menit,” kataku. “Aku diikuti. Mobil abu-abu. Orang-orangmu atau orang-orangku, aku belum tahu.” “Orang-orangku mengira kaulah yang mengikuti aku.” “Lucu.” Dia duduk di seberangku. “Dua kubu yang sama-sama curiga. Satu-satunya hal yang mereka sepakati.”
Dia menuang tehnya sendiri. Dua sendok gula dari kantong kertas yang kubawa. Tidak seorang pun yang melihat akan menyangka akulah yang menyiapkannya. Kami mulai seperti biasa, dengan bahasa yang tidak pernah tertulis di mana pun. “Bapak Jenderal sudah membaca rencana kalian,” kataku. “Hak angket dulu, lalu hak menyatakan pendapat. Paripurna DPR dua minggu lagi.” “Kami tidak merencanakan apa pun. Kami hanya tidak menghalangi.” “Itu kalimat yang sama yang kupakai kalau aku sedang merencanakan sesuatu.”
Sudut bibirnya bergerak, hampir tersenyum, lalu dipadamkan. “Isunya sudah panas. Di kolom-kolom opini, di ruang komisi, di grup percakapan para anggota. Tinggal satu dorongan lagi, dan Wapres duduk di kursi pesakitan di depan seluruh negeri.” “Isu itu setengah benar dan setengah dikarang.”
“Isu yang baik memang begitu. Cukup benar untuk dipercaya, cukup kabur untuk tidak bisa dibantah.” Jarinya mengetuk tepi cangkir, pelan, ritme yang kukenal. “Dan kau tahu isu itu tidak berjalan sendirian.” Aku tahu. Tiga minggu terakhir, layar ponsel semua orang di negeri ini berubah menjadi satu medan perang yang sama. Potongan video berdurasi dua puluh detik, disunting hingga setiap kalimat Wapres terdengar seperti pengakuan.
Tagar yang naik ke daftar teratas setiap pagi sebelum sarapan, digerakkan ribuan akun yang usianya tidak lebih tua dari bulan lalu. Portal-portal berita daring yang tiba-tiba punya selera sama pada judul berakhiran tanda tanya: “Benarkah…?”, “Siapa di Balik…?”.
Survei kepercayaan publik yang bocor ke grup-grup percakapan sebelum sempat diterbitkan, selalu dengan angka yang turun. Meme. Parodi. Satu kebohongan kecil yang dibantah tiga hari kemudian, ketika orang sudah sibuk mempercayai kebohongan berikutnya. “Itu bukan kerja kami,” kataku.
“Jangan menghinaku. Aku tahu siapa yang membayar akun-akun itu, dan kau tahu siapa yang membayar balasannya. Dua pasukan, dua kantor tanpa papan nama, dua tagihan yang tidak pernah muncul di laporan mana pun.” Dia menyesap tehnya. “Bedanya, pasukanku tidak mengejar kemenangan minggu ini. Mereka mengerjakan untuk pemilu berikutnya.” “Menjatuhkan Wapres.”
“Bukan menjatuhkan. Menjatuhkan itu urusan sidang paripurna DPR, dan kita berdua tahu paripurna bisa ditunda, dibeli, atau diatur. Tugas pasukanku lebih halus. Membuatnya tidak layak dipilih.” Dia mengatakannya dengan suara datar, seperti membacakan angka.
“Seandainya hak angket gagal, seandainya dia bertahan tiga tahun lagi sampai masa jabatan habis, yang duduk di kursi itu sudah menjadi lelucon. Namanya identik dengan satu rangkaian kata yang tidak ingin didengar siapa pun. Tidak ada partai yang berani mencalonkannya. Tidak ada pemilih yang mau memercayainya. Dia akan selamat dari sidang, dan mati sebagai kandidat.” “Jadi kalian tidak hanya menginginkan kursinya. Kalian menginginkan masa depannya.” “Kami menginginkan kemenangan di pemilu berikutnya.”
Dingin kamar 412 mendadak terasa sampai ke tulang– bukan karena kekejamannya. Aku sendiri pernah menyetujui hal yang lebih kejam atas nama Bapak Jenderal. Dinginnya datang dari ketenangan itu, dari kenyataan bahwa perempuan yang kukenal sedekat ini bisa mengucapkan rencana seperti itu tanpa berkedip. “Dan sesudahnya apa?” tanyaku pelan. “Kalian memenangkan kursi itu, kalian memenangkan pemilu, dan negeri yang kalian menangkan sudah tidak ada.” “Jangan mulai.” “Aku hanya menghitung.” Aku menunduk menatap teh yang mulai dingin. “Grup keluarga sudah pecah. Orang berhenti bicara dengan iparnya, dengan teman kantornya, dengan ibunya sendiri, karena satu tagar.
Dua kubu saling memaki soal isu yang tidak seorang pun sanggup menjelaskan ujungnya. Proyek yang sudah siap ditandatangani ditahan para investor, karena mereka membaca negeri ini sedang sibuk mencopot Wapres. Dua kuartal pertumbuhan jalan di tempat. Nilai tukar rupiah goyah, target investasi tahun ini baru tercapai separuh, dan forum investor tinggal tiga minggu.” “Itu urusan Bapak Jenderalmu.”
“Itu urusan semua orang yang membayar sewa dengan gaji di negeri ini.” Aku mengangkat wajah. “Dan itu belum semuanya. Kas negara bocor dari tiga arah. Kebakaran hutan menyelimuti dua provinsi dengan asap, dan setiap hari pesawat pemadam menelan anggaran yang tak ada di pos mana pun. Banjir bandang menyapu tiga kecamatan di lereng gunung, ratusan keluarga hidup di tenda. Gempa dua minggu lalu merobohkan sekolah dan jembatan.
Dana siap pakai tinggal seperempat. Kalau pemerintah masih harus menghabiskan tenaga menjawab tuduhan, siapa yang mengurus orang-orang yang kehilangan rumah? Dan kalau kalian akhirnya menang, Ibu Ketua akan menerima kursi di atas puing.”
Dia tidak langsung menjawab. Lampu neon di luar jendela berkedip, memantulkan hujan ke wajahnya, dan sesuatu di rahangnya mengeras. Dia memalingkan muka ke jendela, sebentar, seakan di luar sana ada tenda-tenda yang bisa dia lihat. “Itu bukan argumenmu,” katanya akhirnya. “Itu argumenku. Kau mencurinya.” “Aku meminjamnya. Dari seseorang yang biasa menang di meja seperti ini.”
“Ibu Ketua juga menghitung hal yang sama, tahu.” Suaranya merendah. “Dia hanya berpikir kalian akan lebih dulu menyerah.” Dia melirik arlojinya. “Dan ada satu hal lagi. Rilisan berikutnya sudah siap. Rekaman heboh yang belum pernah dilihat siapa pun. Pukul enam pagi, tiga jam sebelum pasar buka. Setelah itu tidak ada yang bisa menariknya kembali.” “Kau menggertak.” “Coba saja.” Di balik kerah blusnya, rantai tipis dengan liontin kecil bergoyang sekilas. Dia menyadari tatapanku. Tanpa kata, dia menyelipkannya kembali. Kami melanjutkan, dan kali ini tidak ada yang mengalah dengan mudah. Satu jam penuh kami saling menawar seperti dua pedagang di pasar yang sama-sama tahu barangnya akan hancur bila tak laku.
Dia menolak angka dua puluh satu hari, aku menolak dua belas. Dia menuntut kandidat mereka dijamin, aku menolak menjamin apa pun yang bukan pilihan Bapak Jenderal. Aku menawarkan penghentian pemeriksaan pajak atas dua penyandang dana mereka, dan dia menjawab bahwa itu bukan hadiah, melainkan pengembalian barang curian. Namun angka-angkanya akhirnya bertemu.
Tidak ada sidang paripurna DPR dan tidak ada hak angket; mosi dibekukan. Wapres akan mundur sendiri setelah forum investor, paling lambat dua puluh satu hari, dengan alasan yang bisa dijelaskan tanpa menyeret siapa pun. Presiden mengajukan dua nama: satu pilihan Bapak Jenderal, satu pilihan Ibu Ketua. Fraksi koalisi dibebaskan memilih menurut Nurani– dan di dunia yang tidak pernah muncul di laporan mana pun, satu gencatan: dalam dua puluh empat jam akun-akun dimatikan, tagar diturunkan, rilisan pukul enam ditarik. Sebagai balasan, pasukan tanpa nama di pihakku dibubarkan malam ini juga.
“Bebas yang sungguh bebas,” tanyanya, “atau bebas yang sudah diatur?” “Bebas yang cukup bagi kalian untuk menang, kalau kandidatmu memang layak.” “Itu bukan janji.” “Itu satu-satunya yang bisa kuberikan tanpa berbohong.” Dia menatapku lama, seperti seseorang yang menimbang apakah kejujuran itu sebuah kelemahan atau sebuah tawaran. Lalu dia mengangguk sekali. Tidak ada yang boleh kalah di depan kamera, dan tidak ada yang boleh menang terlalu keras.
Pukul sebelas kurang, semuanya selesai. Tidak ada jabat tangan. Kami tidak pernah berjabat tangan. Hanya dua orang yang duduk berseberangan, terlalu lelah untuk bersikap resmi, terlalu paham untuk berpura-pura. “Kau belum makan,” katanya. Dia mengeluarkan roti dalam plastik dari tasnya dan mendorongnya ke arahku. “Maagmu.” “Dari mana kau tahu aku punya maag?” “Dari caramu memegang perut setiap kali Bapak Jenderalmu bicara terlalu lama.” Aku mengambil roti itu. Dia memerhatikanku makan. Kamar 412 mendadak terasa sempit, seakan dindingnya menggeser diri lebih dekat.
Dia berdiri dan berjalan ke jendela. Hujan masih turun, lebih pelan sekarang. Aku bangkit dan berdiri di belakangnya. Tidak terlalu dekat. Cukup dekat untuk merasakan hangat tubuhnya. “Kalau mereka tahu soal malam-malam seperti ini,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Mereka tidak akan tahu.” “Kita sudah berkata begitu terlalu lama.” Aku menyentuh rambutnya, dan dia memejamkan mata. Lalu dia berbalik, dan ciumannya datang lebih dulu daripada jawabannya. Lapar, tertahan, seperti seseorang yang berminggu-minggu menahan napas. Aku membuka kancing blusnya satu per satu, dan di tiap kancing napasnya makin dalam. Blus itu jatuh ke karpet. Kulitnya hangat, beraroma hujan yang bercampur sabun hotel.
Kami jatuh ke ranjang tanpa melepaskan satu sama lain. Dia melepas kemejaku sambil menggigit bibir, tidak sabar, jarinya menelusuri dadaku seakan menghafal kembali peta yang sudah dia kenal. Lampu di samping ranjang tetap menyala, redup, dan dia menolak ketika aku hendak mematikannya. “Aku ingin melihatmu,” bisiknya.
Lalu tidak ada lagi kata-kata. Hanya kulit yang bertemu kulit, napas yang pecah, tangan yang tahu persis di mana harus berhenti dan di mana harus memaksa. Dia naik ke atas pinggulku, rambutnya jatuh menutupi wajah kami seperti tirai. Rantai tipis itu berayun dan menyentuh dadaku, dingin, lalu hangat, dan aku tahu persis apa yang tergantung di ujungnya.
“Kau masih memakainya,” kataku di sela napas. “Kau juga masih menyimpannya.” Dia membenamkan desahnya di bahuku sementara seluruh tubuhnya bergetar, dan aku menyusul sesaat sesudahnya, menyebut sesuatu di rambutnya yang tak akan kuulang kepada siapa pun.
Di ranjang itu tidak ada pemerintah dan tak ada oposisi, tidak ada Bapak Jenderal dan tidak ada Ibu Ketua, tidak ada kursi dan tidak ada sidang paripurna. Hanya dua orang yang terlalu lama menahan diri, yang tahu di mana lelah masing-masing disimpan, dan bagaimana menyembuhkannya tanpa banyak bicara.
Sesudahnya, dia berbaring dengan kepala di lenganku, rambutnya terurai di dadaku seperti sungai yang kehilangan arah. “Berapa lama lagi kita sanggup begini?” tanyanya. “Sampai semua ini selesai.” “Itu selalu jawabanmu. Dan semua ini tidak pernah selesai.” Aku tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang jujur dan tidak melukai.
Pukul dua belas kurang dua puluh, dia berpakaian dalam cahaya redup. Menyisir rambutnya dengan jari, merapikan mantel, mengenakan sepatu di ambang pintu. Dia menoleh sekali, sebentar. “Jangan lupa makan,” katanya. Pintu menutup. Aku menunggu tiga puluh menit, sesuai aturan kami. Kubakar catatan di wastafel dan kubilas abunya. Kuhabiskan teh yang sudah dingin. Lalu aku turun, melewati resepsionis yang masih tidak mengangkat kepala dari layarnya, dan menyalakan mobil ke arah yang berlawanan dengan jalan yang dia ambil.
Pukul enam pagi esoknya– rilisan yang dijanjikan tidak pernah naik. Akun-akun yang berminggu-minggu mengulang tagar yang sama mendadak sunyi, seakan seseorang mematikan saklar di sebuah ruangan yang tidak pernah kulihat. Hari Kamis– sidang paripurna tidak membahas hak angket. Pimpinan sidang menyebutnya “belum cukup matang” dan mengembalikannya ke komisi. Jumat, bursa menghijau tipis dan nilai tukar rupiah menguat setengah persen. Para analis menyebutnya “kelegaan sementara”, tanpa seorang pun tahu siapa yang meredakan apa.
Seorang menteri dengan wajah lelah berkata di depan kamera bahwa tenaga dan anggaran yang tidak lagi terbuang pada perang tagar akhirnya bisa dialirkan ke tenda-tenda pengungsi korban bencana alam. Bapak Jenderal memanggilku ke ruangannya sore itu. Dia menepuk bahuku, hal yang jarang dia lakukan. “Kerja bagus– tetapi hati-hati dengan perempuan itu. Licin. Terlalu pintar untuk dipercaya.”
Aku mengangguk, dan tahu persis bahwa di sisi lain kota, di sebuah ruangan lain dengan lampu yang sama redupnya, Ibu Ketua sedang mengatakan hal yang sama tentang aku kepadanya. Itulah yang membuat kami berguna. Dua kubu yang tidak pernah saling percaya hanya bisa percaya pada dua orang yang sama-sama mereka curigai.
Minggu pagi aku mengemudi sendirian, keluar dari kota, melewati sawah, lalu kampung kecil tempat rumah ibuku berdiri dengan pagar bambu dan pohon jambu. Aku memarkir mobil di bawah pohon itu dan menunggu. Sepuluh menit kemudian, sebuah taksi berhenti di ujung jalan. Perempuan itu turun dengan rambut diikat ekor kuda, mengenakan kaus dan celana longgar, sama sekali berbeda dari perempuan yang kukenal di kamar 412– atau sebenarnya, justru itulah yang kukenal paling lama.
Pintu rumah terbuka dan seorang gadis kecil berlari keluar, dengan seragam sekolah yang belum sempat diganti. “Ayah! Ibu!” teriaknya, melompat ke pelukan kami berdua. “Kok pulangnya barengan?” “Kebetulan,” kata perempuan itu sambil menatapku dengan senyum yang tidak pernah kulihat di hadapan siapa pun selain kami.
Dua belas tahun yang lalu– kami menikah dalam satu upacara kecil yang saksinya hanya ibuku dan seorang penghulu. Kami menyimpan cincin masing-masing, dan menyimpan nama keluarga kami dari dunia. Dia pergi ke satu kubu, aku ke kubu lain, karena kami sama-sama percaya bahwa negeri ini akan lebih baik bila ada orang yang bisa menjembatani dua sisi yang tidak sudi saling bicara. Di rumah, kami tidak pernah membicarakan pekerjaan. Di hotel, kami tidak pernah membicarakan rumah. Hanya di antara dua dunia itulah kami bisa menjadi dua orang yang berbeda sekaligus.
“Dua puluh satu hari,” bisik istriku di telingaku– sementara anak kami masih memeluk kakinya. “Setelah itu, mereka akan membutuhkan kita lagi.” “Aku tahu.” “Pulang lebih sering, ya, Yah,” kata anak kami. Aku mengangkat dan menggendongnya. Di luar pagar bambu itu, di kota yang tidak akan pernah tahu, orang-orang masih mengira kami musuh. ***
Catatan: Cerpen ini ditulis dengan bantuan Claude AI– namun ide cerita, karakter tokoh, plot, dan penentuan ending adalah dari penulis sendiri.
*Penulis Cerpen Remaja di Majalah Anita Cemerlang dan Gadis pada era 1980-an. Saat ini Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA
Editor: Jufri Alkatiri
