Dilema Jurnalisme Deliberatif  dalam Menghadapi Serangan Media Sosial dan Konten Digital

Oleh: Jufri Alkatiri* 

Jurnalis Senior dan Pegiat Komunikasi (Foto:telkomuniversity.ac.id)

Jurnalisme moderen atau jurnalisme deliberatif  (jurnalisme dialog rasional) — saat ini mengalami krisis legitimasi. Di satu sisi dituntut objektif, di sisi lain terjebak dalam logika pasar dan kekuasaan. Jurnalisme sering kali hanya menjadi alat hegemoni pemilik modal dan negara.  Jurnalisme Deliberatif  atau  Jurnalsme Publik adalah  — satu model jurnalisme yang berfokus pada penyediaan ruang publik bagi warga negara untuk berdiskusi, bertukar argumen secara rasional, dan bermusyawarah sebelum satu kebijakan publik diambil.

Sumbangan Jurnalistik Profetik  atau Jurnalisme Kenabian—mungkin bisa menjadi solusi atau  jalan tengah dalam menarik viewer (penonton atau pemirsa) untuk kembali melirik jurnalisme deliberatif  dalam bersinergi dengan media sosial dan konten digital. Jurnalistik Profetik  yang digagas oleh Kuntowijoyo menawarkan jalan keluar untuk menghadapi sepak terjang media sosial dan konten digital. Jurnalistik ini tidak hanya melaporkan fakta apa adanya, tetapi membawa misi kenabian: humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minuna billah). Persoalannya– bagaimana Jurnalistik Profetik tidak jatuh menjadi sekadar khotbah atau propaganda yang subjektif? Di sinilah pemikiran Jurgen Habermas menjadi jembatannya.

Humanisasi (Amar Ma’ruf)– jurnalisme yang memanusiakan manusia. Melawan dehumanisasi oleh teknologi, kemiskinan, dan berita-berita yang eksploitatif. Berita atau news harus berpihak pada martabat manusia. Liberasi (Nahi Munkar) –jurnalisme sebagai pembebasan. Membebaskan masyarakat dari kemiskinan struktural, kebodohan, hegemoni informasi, dan penindasan.

Fungsinya adalah kontrol sosial dan watchdog– transendensi (Tu’minuna Billah)– jurnalisme yang menghubungkan fakta dengan nilai Ketuhanan. Wartawan tidak hanya bertanya “apa yang terjadi?” tetapi “apa makna transenden dari peristiwa ini?” Ini adalah dimensi etis yang hilang dalam jurnalisme positivistik atau juralisme deliberatif. Sementara ciri-ciri jurnalis profetik yaitu Sidiq (benar), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathanah (cerdas).

The Public Sphere Habermas

Habermas adalah filsuf kritis mazhab Frankfurt generasi kedua. Dua teorinya yang paling relevan– Teori Ruang Publik (The Public Sphere – Strukturwandel der Öffentlichkeit). Ruang publik adalah ruang di mana warga negara berkumpul sebagai publik untuk mendiskusikan masalah bersama secara rasional, bebas dari paksaan negara dan pasar. Idealnya, media adalah infrastruktur utama ruang publik.

Krisis yang dilihat Habermas adalah Refeudalisasi Ruang Publik– media yang seharusnya menjadi ruang diskusi publik, malah dikolonisasi oleh kepentingan kapital (rating dan clickbait) dan negara (propaganda). Media tidak lagi memfasilitasi diskusi, tetapi memanipulasi opini.

Teori  lain Habermas yaitu Tindakan Komunikatif atau The Theory of Communicative Action– Habermas membedakan dua tindakan: Tindakan Strategis– komunikasi berorientasi pada sukses, untuk mempengaruhi, membujuk, menjual. Ini yang dominan di jurnalisme clickbait dan buzzer. Tindakan Komunikatif– komunikasi berorientasi pada saling pengertian (mutual understanding) melalui klaim-klaim keabsahan yang bisa dikritisi: kebenaran (truth), ketulusan (sincerity), dan kebenaran normatif (rightness). Jurnalisme yang ideal harus berbasis tindakan komunikatif– bukan strategis.

Jika jurnalisme pasar menciptakan publik yang pasif sebagai konsumen berita—jurnalisme profetik dengan  pilar liberasi — menciptakan publik yang kritis dan aktif. Media profetik tidak boleh tunduk pada logika pasar dan kekuasaan– harus menjadi arena diskursus rasional tempat warga berdebat tentang keadilan, kemiskinan, dan moralitas publik.

Habermas mensyaratkan 3 klaim validitas dalam komunikasi yang ideal. Ini sangat paralel dengan 3 pilar profetik: Klaim Validitas Habermas, Pilar Jurnalistik Profetik, Implementasi dalam Berita Kebenaran (Truth) – Apakah faktanya benar? Humanisasi – Apakah berita ini memanusiakan? Fakta tidak dimanipulasi, sumber diverifikasi, korban tidak dieksploitasi. Jurnalisme akurat dan berpihak pada kemanusiaan. Kebenaran Normatif (Rightness) – Apakah ini benar secara moral dan hukum?  Liberasi – Apakah berita ini membebaskan? Berita mengkritik ketidak-adilan, membela yang lemah, tidak menjadi alat penindas. Ada keberpihakan etis pada keadilan. Ketulusan (Sincerity) – Apakah komunikator jujur? Transendensi – Apakah ada dimensi Ilahiah? Wartawan jujur atas niatnya. Menulis karena tanggung jawab moral kepada Tuhan, bukan karena pesanan atau viral.

Seorang jurnalisme profetik bukan penyebar dogma—dia adalah fasilitator diskursus publik. Tugasnya adalah menciptakan diskursus rasional di ruang publik– memberikan informasi yang komprehensif (tidak sepotong-potong) agar publik bisa berargumen secara rasional. Memberi ruang kepada suara-suara yang terpinggirkan (marginalized voices) – ini adalah wujud humanisasi dan liberasi.

Menolak Strategic Action seperti framing yang menipu, judul clickbait, dan berita bohong– dengan begitu jurnalistik profetik bukan anti-objektivitas, melainkan objektivitas yang berpihak — objektif dalam metode (verifikasi fakta), tetapi berpihak dalam nilai (berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan).

Jurnalistik Profetik menawarkan basis etis (humanisasi, liberasi, dan transendensi) yang selama ini hilang dari jurnalisme positivistik yang netral dan hambar. Teori Habermas menawarkan basis metodologis dan prosedural (ruang public dan  tindakan komunikatif) agar nilai-nilai profetik tersebut tidak menjadi subjektif, tetapi dapat diperdebatkan secara rasional di ruang publik. Sintesis keduanya melahirkan formula– jurnalisme yang secara etis bersifat profetik (transenden)– namun secara prosedural bersifat deliberatif-rasional (Habermasian).

Jurnalisme Indonesia perlu keluar dari jebakan jurnalisme sensasional, pendidikan jurnalistik di kampus-kampus perguruan tinggi harus memasukkan Teori Kritis Habermas sebagai alat analisis untuk mengoperasionalkan gagasan Jurnalistik Profetik agar lebih membumi dan tidak utopis.

*Jurnalis Senior dan Pegiat Ilmu Komunikasi

Editor: Dikara Meitri Pradipta Alkarisya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website