Something is Rotten In the State of Denmark…

Oleh: Renville Almatsier*

Mantan Jurnalis Majalah Tempo dan Pekerja Sosial (Foto: Renville Almatsier)

Judul di atas itu adalah kutipan salah satu quote terkenal dari pujangga William Shakespeare. Dalam kisah Hamlet, kalimat itu diucapkan oleh karakter Marcellus ketika berdialog dengan Horatio. Apa yang membuat pengawal  itu kesal dan gundah ?

Shakespeare memilih frasa itu untuk mengungkap rasa gemesnya terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.. Kalau mau disimpulkan, agaknya itu puncak kekesalannya pada situasi saat itu.. Kalau diterjemahkan ke dialek Betawi, dalam beberapa kalimat barangkali bunyinya, “Buset.apa yang salah,.. .kenape semua jadi berantakan begini, yak ?”.  Saya meminjamnya untuk disematkan pada situasi yang melanda negeri kita saat ini.

Berkaca pada apa yang terjadi di negeri kita, ungkapan itu terasa pas. Samasekali tidak ada menjelek-jelekan negeri sendiri. Cobalah simak dengan pikiran jernih dengan hati lapang dan jujur. Jauhkan dulu prasangka politik atau patgulipat penguasa, mari fokus pada moral bangsa. Ada sesuatu yang “nggak bener” di negeri ini…

Bila membuka halaman berita-berita beberapa bulan terakhir, kita tahu bahwa dana bantuan bencana, dikorup. Sebelumnya, dana makan siang gratis (MBG) untuk anak-anak didik kita seluruh negeri, juga sudah dikorup di sana -sini. Siapapun yang melakukannya,.. kok tega,  ya?

Dana haji pun sudah duluan ditilep. Kalau menyangkut “orang beragama”, cerita bisa jadi panjang. Beberapa menteri  agama yang sangat kita hormati sebagai pejabat maupun pemimpin umat, silih berganti masuk penjara. Masih segar dalam ingatan kita, bahkan fotonya masih belum terhapus dari media sosial: 12 orang santriwati di sebuah pondok pesantren, sudah tiga tahun bergiliran memenuhi nafsu seks pembinanya. Itu bukan kejadian pertama. Lalu ada peristiwa ayah memperkosa anak kandung,  anak membunuh ibu kandung, orangtua menghajar guru, anak SD menyiksa teman sekolah sampai mati.

Di kalangan yang berhak memegang senjata itupun terjadi. Ada jendral yang menembak prajurit di rumahnya sendiri. Ada kejadian di Solok, yang terakhir, beberapa hari lalu, di Pondok Cabe. Semua hal itu sungguh tidak masuk akal sehat kita. Lebih sadis lagi penderitaan aktivis HAM yang disiram air keras sehingga membuatnya cacat seumur hidup. Lagi-lagi pertanyaa kita: kok tega ? Begini parahkah moral bangsa kita?

Mana itu masyarakat kita yang di luar dikenal ramah. Selain terkenal berbudaya, kita  selalu diumbang sebagai “bangsa beragama”  dengan tempat beribadah di hampir setiap pojok jalan. Ada petinggi hukum yang menyimpan emas berkilo-kilo. Ada lembaran duit berkoper-koper. Ada rumah dinas menjadi sarang judol. Ada mafia dimana-mana:  urusan lapas, kuburan, perparkiran… Apa saja ada! Dalam banyak kasus, pelakunya kurang mendapat hukuman setimpal, bahkan ada yang dilupakan saja. Dan anehnya para wakil rakyat yang diharapkan membawa suara kita, kok diam saja?

Isu yang paling hangat hari-hari ini adalah karhutla yang membuat hampir seluruh negeri menderita.  Ada 98 korporasi diduga terlibat karhutla, jelas Kapolri Suyudi dalam rapat terbatas di Istana (IDN Times 19/10/2026).  Sementara penyebab longsor dan banjir besar di Sumatera awal tahun ini masih tidak jelas penyebabnya. Siapa pemilik kayu gelondongan yang terdampar di sungai itu gampang diusut, kalau mau. Berita lain, beberapa lahan korban karhutla, sudah ditanami sawit…

Kalau mau diruntun, akar masalah semua kebobrokan itu adalah soal moral atau budi pekerti bangsa ini yang sudah kedodoran. Sudah melorot  sampai titik terendah. Begitu jelas, kaitan masalahnya adalah pada pendidikan.  Bila pendidikan berawal dari anak-anak, maka beban ini bukan saja tanggungjawab para pendidik, tapi juga kita para orang tua dan warga masyarakat.

Entah ini jadi pemicu kerusakan moral.. awalnya, lembaga yang seharusnya menjaga keadilan, justru mengeluarkan keputusan “bengkok”. Pihak-pihak atau lembaga lain yang seharusnya meluruskan, cuma manggut-manggut dan bertepuk tangan. Banyak pejabat kita yang sudah hilang nurani dan rasa malunya.  Sedih… negara ini dikelola oleh orang-orang pintar tapi kurang beradab.  Kok, semua diam? Apakah memang semua sudah “rotten” alias busuk, di negeri ini ?

Sesudah lama ditunggu baru beberapa hari yang lalu muncul desakan dari kalangan yang kita harapkan paling  bertanggungjawab terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda, yang berarti juga masa depan bangsa ini.

Para guru besar sebagai intelektual dan akademisi merasa (walau agak terlambat) ikut memikul tanggungjawab moral mendidik generasi penerus dengan nilai-nilai moral, kebaikan, kebenaran, dan “kejuangan”. Ada apa dengan bangsa ini? Ketika tulisan ini hampir selesai, demo mahasiswa yang menyorot soal ekonomi dan pendidikan baru saja usai  di beberapa kota Jakarta, Bandung, Jogya, Makassar. Maka izinkan saya untuk menggunakan frasa dari pujangga besar itu dan mengadaptasinya….Something is rotten in the state of Indonesia…Ada apa ini, dimana salahnya?

*Mantan Jurnalis Majalah Tempo dan Pekerja Sosial

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website