Sumpah Pemuda di Era Media Sosial: Ketika “Satoe Nusa Dijual”  Sebagai Konten

Oleh: Jufri Alkariri*

Jurnalis Senior dan Penggagas Mazhab Komunikasi Sambung Nalar (Foto: kabarkampus.com)

Setiap tangal 28 Oktober—bangsa Indoensia melakukan ritual tahunan yang sama. Di Istana, Presiden memimpin upacara. Di kantor-kantor, pegawai memakai batik dan peci. Di Instagram, para milenial dan Gen Z mengunggah template Canva: “Selamat Hari Sumpah Pemuda 1928-2026, Satoe Nusa, Satoe Bangsa, Satoe Bahasa.”

Setelah 24 jam, selesai– kita kembali menjadi Indonesia yang terbelah. Pertanyaannya– apakah Sumpah Pemuda masih relevan bagi generasi milenial? Ataukah sudah menjadi artefak museum yang hanya kita pakai untuk konten setahun sekali? Untuk menjawabnya, kita tidak bisa memakai pidato pejabat—penulis menggunakan pisau analisis filsafat paling jujur dari Mazhab Frankfurt: Theodor Adorno.

Adorno adalah filsuf yang sangat membenci budaya pop. Dalam bukunya yang terkenal Dialectic of Enlightenment — bersama Max Horkheimer, dia menggunakan dua kata Culture Industry atau Industri Kebudayaan). Menurut Adorno, di era kapitalisme lanjut, kebudayaan tidak lagi lahir dari rakyat. Kebudayaan diproduksi oleh industri, seperti pabrik memproduksi sabun. Tujuannya bukan pencerahan, tetapi keuntungan dan penjinakan. Industri kebudayaan menciptakan ilusi kebebasan, padahal dia menciptakan keseragaman dan kepatuhan.

Jika Adorno hidup hari ini dan membuka TikTok Indonesia– dia akan heran karena apa yang dia ramalkan 80 tahun lalu terjadi dengan sempurna pada generasi milenial Indonesia dan pada Sumpah Pemuda itu. Mari kita bedah Sumpah Pemuda 1928 dengan kacamata Adorno.Sumpah Pemuda 1928 adalah antitesis total dari Culture Industry– dia adalah produk dari Critical Thinking (Berpikir Kritis) yang paling murni.

Bayangkan situasinya tahun 1928– para pemuda Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes– mereka tidak dipersatukan oleh algoritma. Mereka tidak memiliki musuh bersama yang viral. Mereka justru memiliki perbedaan bahasa, suku, dan kepentingan yang sangat tajam. Secara logika Culture Industry– mereka seharusnya bertengkar– tetapi mereka melakukan hal yang menurut Adorno mustahil dilakukan oleh massa yang sudah dijinakkan industri: mereka melakukan self-reflection dan negasi.

Sumpah Pemuda adalah satu tindakan negasi– mereka menegasi ke-Jawa-an mereka, ke-Ambon-an mereka, untuk menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada: Ke-Indonesia-an. Satoe Nusa, Satoe Bangsa, Satoe Bahasa — adalah sebuah konsep abstrak yang imajiner pada tahun 1928. Indonesia belum ada di peta–tetapi mereka berani mengimajinasikan sesuatu yang melampaui realitas yang menindas mereka, yaitu kolonialisme. Inilah yang Adorno sebut sebagai kekuatan Negative Dialectics– kemampuan untuk berkata “Tidak” pada realitas yang ada demi kemungkinan yang lebih baik.

Sekarang bandingkan dengan generasi milenial hari ini, generasi yang hidup di dalam perut Culture Industry bernama media sosial. Apa yang terjadi pada Sumpah Pemuda di tangan generasi milenial dan Culture Industry? Telah mengalami apa yang Adorno sebut sebagai objektifikasidan Standarisasi. Sumpah Pemuda tidak lagi menjadi sebuah proses berpikir kritis yang menyakitkan tentang bagaimana hidup bersama dalam perbedaan. Dia telah menjadi jimat– komoditas estetik.Industri kebudayaan telah mengubah “Satoe Nusa” menjadi kaos berwarna polos.  

Mengubah “Satoe Bangsa” menjadi filter Instagram– mengubah “Satoe Bahasa” menjadi jargon kampanye yang diucapkan tanpa makna. Culture Industry bekerja dengan cara membuat segala sesuatu yang radikal menjadi jinak, yang kritis menjadi hiasan. Sumpah Pemuda yang dulu radikal, yang anti-kolonial, kini telah dijinakkan menjadi konten. Ketika sesuatu sudah menjadi konten, dia sudah kehilangan daya kritisnya. Dia sudah menjadi barang jualan. Inilah relevansi Adorno yang paling menyentak– Generasi Milenial tidak membenci Sumpah Pemuda– mereka justru mencintainya secara berlebihan sebagai estetika, tetapi melupakan substansinya sebagai etika kritis.

Milenial sangat fasih mengucapkan “Satu Nusa”, tetapi algoritma TikTok dan Instagram telah membuat mereka hidup dalam echo chamber kesukuan yang paling brutal dalam sejarah Indonesia. Coba lihat. Adorno bilang Culture Industry menciptakan pseudo-individualization (individualisasi semu), ilusi seolah-olah kita unik dan berbeda, padahal kita semua diseragamkan.

Di media sosial, seorang milenial di Jakarta merasa paling Indonesia dengan memakai batik–tetapi batik yang dia pakai adalah batik yang direkomendasikan algoritma–dia merasa paling nasionalis karena ikut membela suku A melawan suku B di kolom komentar.

Padahal perbedaan suku itu diproduksi dan diprovokasi oleh industri buzzer demi engagement. Mengucapkan Satu Nusa, tetapi kita hidup dalam Dua Dunia: dunia TikTok untuk orang Jawa dan TikTok — untuk orang luar Jawa yang isinya saling menyudutkan. Kita mengucapkan Satu Bangsa, tetapi indeks polarisasi politik kita tertinggi di Asia Tenggara. Kita mengucapkan Satu Bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, tetapi bahasa Indonesia yang kita pakai di media sosial adalah bahasa yang paling memecah belah: bahasa kebencian, bahasa doxxing (dokumen), bahasa cancel culture.

Sumpah Pemuda 1928 — adalah upaya untuk keluar dari tribalisme suku menuju imajinasi bangsa. Sumpah Pemuda 2026 versi Culture Industry — adalah upaya untuk kembali ke tribalisme baru: tribalisme algoritma. Lalu, apakah masih ada harapan?

Adorno adalah seorang kritis — tetapi dia bukan seorang yang putus asa– dia masih percaya pada satu jalan: Critical Education dan seni yang otonom. Untuk merelevansikan kembali Sumpah Pemuda bagi milenial–  tidak dibutuhkan  lebih banyak upacara bendera atau lomba baca teks Sumpah Pemuda di TikTok. Itu justru bagian dari Culture Industry  yang kita butuh adalah mengembalikan Sumpah Pemuda sebagai alat berpikir kritis, bukan sebagai alat perayaan.

Relevansi Sumpah Pemuda hari ini — bukan pada kalimatnya, tetapi pada metodenya– metode Sumpah Pemuda adalah metode  Sambung Nalar  ala Mazhab Komunikasi yang kami gagas—yaitu: berani duduk bersama orang yang paling berbeda dengan kita, tanpa dimediasi algoritma, dan mencari negasi bersama.

Apa yang harus dilakukan generasi milenial? Pertama, lakukan Detoksifikasi Culture Industry (detoksifikasi industri budaya). Adorno menyarankan untuk mematikan radio. Hari ini, matikan algoritma. Milenial harus berani secara sadar keluar dari echo chamber-nya (ruang gema). Jika  seorang milenial Jawa yang For Your Page – FYP — yaitu halaman rekomendasi utama — isinya hanya Jawa sentris, paksa diri Anda untuk mengikuti, mendengarkan, dan berdialog dengan narasi dari Papua, dari Aceh, dari NTT tanpa menghakimi. Satu Nusa tidak akan tercapai jika FYP kita masih terbelah. Kedua, Reclaim Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kritis–  bukan Bahasa Buzzer. Satu Bahasa dalam Sumpah Pemuda 1928 adalah keputusan politik yang revolusioner. Mereka memilih bahasa Melayu yang bukan bahasa mayoritas, demi persatuan. Bahasa Indonesia lahir sebagai bahasa perlawanan.

Hari ini– Bahasa Indonesia di media sosial telah menjadi bahasa perlawanan semu: bahasa untuk menyerang, bukan untuk memahami. Milenial harus merebut kembali Bahasa Indonesia sebagai bahasa deliberasi. Gunakan Bahasa Indonesia untuk menjelaskan, bukan untuk memaki– untuk menyambung nalar, bukan untuk memutus nalar. Jika kolom komentar masih dipenuhi kata “tolol, goblok, kafir, cebong, kadrun”– maka kita belum satu bahasa. Ketiga, Hidupkan Kembali Dialektika Negatif Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda 1928 adalah keberanian untuk mengingkari identitas sempit demi identitas yang lebih luas. Relevansinya hari ini: beranikah milenial mengingkari identitas algoritmiknya?

Beranikah seorang milenial yang mendapat uang dari konten adu domba untuk berhenti membuat konten itu demi Satu Bangsa? Beranikah seorang influencer politik yang hidup dari polarisasi untuk berkata “Tidak” pada industri yang membesarkannya? Itulah Sumpah Pemuda yang sesungguhnya hari ini. Bukan sumpah untuk menjadi sama, tetapi sumpah untuk berani menolak industri yang membuat kita membenci perbedaan.

Pada akhirnya, Theodor Adorno mengingatkan — tugas generasi muda bukan untuk merayakan sejarah, tetapi untuk mengkritik sejarah yang sedang diproduksi hari ini. Sumpah Pemuda 1928 relevan bukan karena harus menghafalnya—tapi relevan karena harus mengulang keberaniannya. Keberanian untuk berpikir kritis di tengah lautan industri yang menyuruh kita untuk tidak berpikir. Jika tidak, maka setiap 28 Oktober—bangsa  Indonesia hanya akan menjadi generasi yang menari-nari di atas museum Sumpah Pemuda — sambil merekamnya untuk konten TikTok–  tanpa pernah benar-benar memahami mengapa para pemuda itu bersumpah — dan sumpah itu akan terus menjadi sumpah yang palsu.

*Jurnalis Senior dan Penggagas Mazhab Komunikasi Sambung Nalar

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website