Disaat Jurnalisme Menjadi Industri Budaya: Apakah Masih Perlu Filsafat?

Oleh: Jufri Alkatiri

Jurnalis Senior dan Ketua Mazhab Komunikasi Sambung Nalar (Foto: Jufri Alkatiri)

Di salah satu rapat redaksi media online di Jakarta beberapa minggu lalu, penulis mendengar percakapan yang membuat terhenyak (heran) dan terdiam. Seorang pemimpin redaksi muda berkata kepada timnya –“Jangan terlalu banyak berfikir. Filosofi-filosofi itu bikin lambat– yang penting sekarang adalah, mana berita yang bisa trending dalam satu jam? Mana judul yang bisa bikin orang marah dan klik? Itu baru jurnalistik.”Nyaris semua jurnalis i ruangan itu mengangguk.

Di saat itulah – penulis terdiam sesaat — pertanyaan yang sering dianggap remeh oleh mahasiswa dari disiplin ilmu – ilmu sosial, “Apakah filsafat masih dibutuhkan dalam dunia jurnalistik?” adalah pertanyaan hidup dan mati. Bukan pertanyaan akademis–  tetapi  adalah pertanyaan tentang apakah — jurnalisme data dan jurlamisme arus utama (mainstream) masih menjadi alat pencerahan, atau sudah berubah menjadi pabrik yang memproduksi kebodohan massal.

Mengkritisi secara kritis, rasional, dan deskriptif—penulis kolom opini ini–  tidak menggunakan  teori jurnalisme biasa atau ilmu komunikasi tetapi menggunakna pemikiran radikal filsuf Theodor Adorno dan Max Horkheimer — dalam melihat kebudayaan moderen. Adorno dan Horkheimer– pendiri Mazhab Frankfurt.

Jurnalisme sebagai Industri Budaya

Pada tahun 1944– di tengah pelarian dari kekejaman Nazi, Adorno dan Horkheimer menulis satu  buku yang sangat gelap berjudul  Dialektika Pencerahan“– di dalamnya ada satu bab yang paling terkenal—yaitu Industri Budaya.  Teori mereka sederhana namun menakjubkan– mereka berkata, di era kapitalisme lanjut, kebudayaan tidak lagi lahir dari ekspresi jiwa manusia yang bebas. Kebudayaan diproduksi secara massal di pabrik, seperti sabun dan mobil. Tujuannya bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk menghasilkan keuntungan dan membuat masyarakat tetap jinak dan patuh. Film, musik, majalah, radio pada zaman itu– semuanya distandarisasi. Semua terlihat berbeda, padahal isinya sama– hiburan yang dangkal agar kita lupa akan penderitaan hidup.

Apa yang  ditulis Adorno dan Horkheimer 80 tahun lalu —  tentang radio dan film, hari ini terjadi persis di depan mata — di dalam dunia jurnalistik media sosial dan konten digital. Jurnalisme pasca-kebenaran atau post-truth — hari ini telah menjadi Industri Budaya yang sempurna. Coba lihat beranda media sosial kita– semua media online– dari yang paling serius sampai yang paling gosip, memproduksi berita dengan formula yang sama persis. Formula pertama– standarisasi. Berita harus pendek, harus ada “5 Fakta Mengejutkan”, harus ada judul clickbait “Bikin Gelisah” atau “Bikin Nangis”. Kreativitas jurnalis dibunuh– tidak lagi dituntut untuk berpikir mendalam, hanya dituntut untuk mengisi template yang sudah disiapkan oleh algoritma.

Formula kedua–  pseudo-individualisasi. Semua media merasa paling unik dan paling beda. Padahal jika mencermati  sepuluh edia online yang memberitakan kasus artis yang sama– isinya plek –ketiplek (mirip sekali atau persis sama). Hanya dibedakan oleh satu dua kalimat agar tidak dianggap plagiat oleh Google– inilah yang Adorno sebut sebagai keunikan palsu. Formula ketiga– tujuan akhirnya bukan pencerahan, melainkan kepatuhan. Jurnalisme industri budaya tidak ingin pembacanya berpikir kritis setelah membaca berita– hanya ingin pembacanya marah, sedih, atau tertawa selama 5 detik, lalu melakukan klik, lalu lupa. Besok diberi kemarahan baru lagi dengan berita yang lain. Pembaca dijaga agar tetap menjadi konsumen yang pasif dan mudah diprediksi. Inilah jurnalisme tanpa filsafat– lincah, cepat, kaya raya dari Adsense atau layanan periklanan gratis dari Google — tetapi hampa makna.

Nalar Instrumental vs Nalar Kritis

Lalu di mana letak masalahnya? Mengapa jurnalisme bisa jatuh menjadi industri budaya yang dangkal? Di sinilah kritik kedua Adorno dan Horkheimer masuk  yang disebut Nalar Instrumental. Mereka membedakan dua jenis nalar. Nalar Instrumental adalah nalar yang hanya bertanya: “Bagaimana caranya?” Bagaimana caranya agar berita ini viral? Bagaimana caranya agar SEO-nya naik? Bagaimana caranya agar engagement (keterlibatan)TikTok kita tinggi? Nalar ini — sangat canggih dalam hal teknik, tetapi buta dalam hal tujuan.

Sementara Nalar Kritis atau Nalar Substantif adalah nalar yang bertanya– “Untuk apa?” Untuk apa berita ini kita buat? Apakah berita ini membuat manusia menjadi lebih bermartabat? Apakah berita ini membantu publik memahami akar masalah kemiskinan, atau hanya mengeksploitasi kemiskinan itu untuk tontonan?

Jurnalisme di era media sosial hari ini– dikuasai total oleh Nalar Instrumental. Di ruang-ruang news room atau ruang  redaksi — yang dibicarakan setiap hari adalah data: berapa pageview, berapa watch time, berapa share. Jarang sekali– bahkan hampir tidak pernah, yang dibicarakan adalah: apakah berita yang kita kejar pageview-nya itu benar-benar penting bagi demokrasi? Jurnalis berubah menjadi teknisi algoritma– bukan lagi menjadi pemikir kebudayaan– dan di sinilah filsafat menjadi kebutuhan yang mutlak, bukan lagi hiasan.

Filsafat adalah satu-satunya disiplin yang melatih jurnalis untuk kembali dari Nalar Instrumental kepada Nalar Kritis. Seorang jurnalis yang belajar filsafat– ketika melihat kasus seorang ibu mencuri susu untuk anaknya yang kelaparan, dia tidak akan berhenti pada pertanyaan instrumental: “Bagaimana cara membuat judulnya agar viral.

Seorang jurnalis akan terdorong oleh filsafat untuk bertanya lebih dalam “Apa struktur sosial yang membuat seorang ibu harus mencuri susu di negara yang kaya ini? Apakah negara telah gagal menjalankan keadilan distributif seperti yang dibicarakan oleh John Rawls? Apakah ini bentuk kekerasan struktural seperti yang dikatakan Johan Galtung?” Berita yang pertama akan viral selama 2 jam lalu hilang. Berita yang kedua akan abadi karena  menyentuh akar persoalan kemanusiaan. Adorno pernah berkata dengan sangat pedas: “Tugas seorang pemikir bukanlah untuk menjelaskan dunia– melainkan untuk menunjukkan bahwa dunia yang ada saat ini adalah dunia yang salah.”

Tugas Jurnalis yang berfilsafat pun sama– tugasnya bukan hanya melaporkan bahwa “telah terjadi banjir”, melainkan menunjukkan bahwa “banjir ini terjadi karena ada kesalahan logika dalam pembangunan yang hanya mengejar keuntungan dan melupakan etika lingkungan.”Tanpa filsafat, wartawan hanya akan menjadi tukang catat peristiwa. Dengan filsafat, wartawan menjadi pembongkar kebohongan zaman.

Jalan Sambung Nalar – Filsafat Sebagai Jangkar

Jawaban atas pertanyaan judul di atas sangat jelas– filsafat tidak hanya masih dibutuhkan, melainkan menjadi jangkar terakhir agar jurnalisme tidak tenggelam dalam Industri Budaya– namun, filsafat seperti apa yang kita butuhkan?  Kita tidak butuh filsafat yang melangit dan membuat wartawan menjadi sok pintar dengan jargon-jargon Jerman yang susah dimengerti publik. Mazhab Sambung Nalar– menawarkan tiga fungsi praktis filsafat untuk wartawan di era media sosial– filsafat sebagai teknik bertanya– filsafat mengajarkan wartawan untuk tidak mudah puas dengan jawaban pertama dari pejabat. Jika pejabat berkata “Bansos sudah tersalurkan”, wartawan yang berfilsafat akan bertanya– “Apa definisi ‘tersalurkan’ menurut Anda? Apakah tersalurkan secara administratif sama dengan tersalurkan secara keadilan?”

Filsafat sebagai Etika Keberpihakan– di era konten digital di mana semua orang dituntut netral demi algoritma, filsafat ala Horkheimer mengajarkan bahwa netralitas yang palsu adalah kejahatan. Ketika berhadapan dengan penindasan, wartawan tidak boleh netral. Filsafat memberikan keberanian moral untuk berpihak pada martabat manusia– bukan pada kekuasaan. Filsafat sebagai penjaga jarak– media sosial menuntut wartawan untuk selalu  inside (di dalam) tau terlibat secara emosional agar kontennya terasa autentik. Filsafat justru mengajarkan pentingnya jarak. Jarak untuk berpikir, jarak untuk meragukan, jarak untuk tidak ikut larut dalam histeria massa yang sedang viral di Twitter.

Pada akhirnya, Adorno dan Horkheimer sudah mengingatkan — dunia yang hanya dikuasai oleh teknik dan kecepatan tanpa direnungkan maknanya adalah dunia yang sedang menuju pada kebarbaran (biadab) baru. Kebarbaran baru itu – berita yang cepat tetapi kosong. Konten yang viral tetapi palsu. Jurnalis yang terkenal tetapi tidak dipercaya– melawan kebarbaran itu– tidak butuh, pulpen untuk menulis,  kamera yang lebih mahal atau internet yang lebih cepat– butuh jeda– butuh berpikir. Dan itulah fungsi filsafat –adalah jeda yang menyelamatkan jurnalisme dari menjadi sekadar pabrik.

*Jurnalis Senior dan Ketua Mazhab Komunikasi Sambung Nalar

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website