Oleh: Renville Almatsier*
Mantan Jurnalis Majalah Tempo dan Pegiat Sosial (Foto: Renville Almatsier)
Hari Rabu kemarin adalah Hari Sumpah Pemuda — hampir lewat begitu saja. Ketimbang ikut memperingatinya, penulis lebih terfokus bahwa pada apa yang akan terjadi. Sejak pagi layar televisi menayangkan persiapan alat negara mengantisipasi demo yang digelar pemuda dan mahasiswa di berbagai sudut kota Jakarta — yang terbayang pada hari itu — bukan kesepakatan dan ikrar luar biasa para pemuda pada Kongres Pemuda tahun 1928 itu: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.
Bulan-bulan ini memang dunia sedang rada kacau. Wajar kalau masyarakat mengharap aksi pemuda dan mahasiswa akan berpengaruh pada kondisi negara yang tidak baik-baik saja. Selain soal kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan perdagangan yang menekan kehidupan, salah satu tuntutan mahasiswa adalah perbaikan pendidikan.
Pemuda adalah hasil pendidikan– ada adagium yang sering kita dengar: “Menghancurkan suatu bangsa tidak perlu pakai bom atom”. Cukup hanya dengan menurunkan kualitas pendidikan dan membiarkan penipuan dalam pendidikan. Ngerinya, contohnya sudah terjadi di sini: penipuan dalam menguji para mahasiswa oleh guru besar.
Termasuk di dalamnya– pemberian gelar kesarjanaan kepada yang tidak berhak– dengan demikian, jangan heran bila banyak dampaknya ditemukan dalam kehidupan kita– dari hasil pendidikan seperti itu, ada pasien meninggal di tangan dokter medis. Jembatan, bendungan dan bangunan rubuh di tangan insinyur. Uang pun hilang di tangan ahli ekonomi dan akuntan begituan. Keadilan dibelokkan , bahkan kemanusiaan, sirna di tangan hakim seperti itu. Sangat memprihatinkan– dan sayangnya, selama ini belum ada pihak-pihak yang tersentuh atau berani mempersoalkannya. Mengharapkan wakil-wakil kita untuk melek, wow jauh panggang dari api.
Membaca laporan media setahun terakhir ini, kita mengurut dada. Berbagai kejahatan terjadi. Banyak perbuatan bangsa kita yang tidak berakhlak. Melanggar lalin, membeli ijazah palsu, penerima pungutan liar, menyuap, korupsi, menebang hutan lindung, menyiram air keras kepada sesama manusia, merusak sekolah karena tidak lulus ujian, dan seterusnya.
Di sisi lain, banyak video beredar di media sosial menggambarkan kebodohan para pelajar kita. Ada yang tidak tahu aritmetika dasar, ada yang ngawur logikanya. Kita yang kebetulan menonton akan tertawa kecut, melihatnya sebagai lelucon yang tidak lucu.
Pada hari Sumpah Pemuda — kita bisa berharap semua perhatian akan menyorot pada berbagai masalah akut tadi. Mungkin kita terbiasa dengan ungkapan “kamu masih terlalu muda”, satu ungkapan yang justru akan memicu apatisme generasi muda untuk ikut memikirkan bangsa ini ke depan– tetapi kini sudah waktunya representasi generasi muda di setiap aspek pengambilan keputusan harus difahami sebagai kebutuhan mutlak dalam pembangunan nasional.
Pemuda harus disiapkan untuk berpartisipasi mengatasi persoalan saat ini serta ikut merencanakan pembangunan di masa mendatang. Bukan dalam konteks partisipasi formalitas saja, tetapi juga partisipasi yang nyata. Mudah-mudahan sorotan pada “masalah pendidikan” akan membuka mata kita semua.
Pendidikan tidak hanya mampu membuat dan meningkatkan status diri dalam masyarakat, melek huruf dan membuat mereka lebih produktif tetapi juga dapat membangun sikap dan perilaku positif dalam peran masyarakat. Sikap dan perilaku untuk baik secara etika dan benar secara aturan.
“Akhlak” — adalah jargon agama untuk “budi pekerti”, seperti yang kita pelajari di sekolah doeloe– istilah ilmiahnya adalah “moral” atau “etika”. Faktor ini tidak kalah pentingnya dari matematika, sains dan teknologi. Inilah tantangan kita sekarang: menaikkan kualitas generasi dengan memperbarui sistem pendidikan.
*Mantan Jurnalis Majalah Tempo dan Pegiat Sosial
Editor: Jufri Alkatiri
