Gelar Kuliah Umum Bersama Ketum PWI Pusat Akhmad Munir, UDK Tegaskan Peran Jurnalistik sebagai Pilar Demokrasi dan Pemersatu Bangsa (Foto: Humas PWI Pusat)
Pijarberita.com, Kotamobagu, Sulawesi Utara– Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) sukses menggelar Kuliah Umum bertajuk “Peran Jurnalistik dalam Memperkuat Demokrasi dan Persatuan Bangsa” Jumat di Aula Kampus UDK, Kotamobagu, Sulawesi Utara. Kuliahu mum tersebut dipandu Wakil Rektor III UDK, Dr. Cand. Henratno Pasambuna.
Kegiatan akademik yang dihadiri oleh ratusan civitas akademika dan mahasiswa ini menghadirkan narasumber utama Akhmad Munir, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Perum LKBN ANTARA.
Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Rektor UDK Dr. Muharto menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi atas kehadiran pimpinan PWI Pusat beserta jajaran pengurus PWI Sulawesi Utara dan pengurus PWI se-Bolaang Mongondow Raya. Dia mengatakan, topik kuliah umum sangat relevan dengan fenomena sosial dan politik era digital saat ini.
“Peran jurnalistik dan media bekerja sebagai variabel moderator. Media memiliki kekuatan luar biasa untuk memperkuat persatuan bangsa, merekatkan kebinekaan, serta mengedukasi masyarakat. Namun di sisi lain, media juga berpotensi melemahkan persatuan apabila tidak dikelola dengan integritas, etika, dan tanggung jawab sosial. Kehadiran Ketua Umum PWI Pusat beserta jajaran pimpinan PWI di kampus UDK memberikan pencerahan substansial bagi kita semua tentang pentingnya wawasan kebangsaan dan demokrasi,” kata Dr. Muharto.
Dalam sesi pemaparan materi yang berlangsung interaktif, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir mengawali kuliah umum dengan membagikan kisah perjalanan kariernya. Beliau menceritakan bagaimana merintis profesi sebagai wartawan di Kantor Berita ANTARA sejak tahun 1991 hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, seperti Kepala Biro, Direktur Utama, Ketua Dewan Pengawas LKBN ANTARA, hingga menjabat Ketua Umum PWI Pusat.
“Saya berangkat dari profesi nol — tanpa basis jaringan awal yang besar. Namun dengan ketekunan, integritas, dan konsistensi pada aturan profesi, semua jenjang karier dapat dicapai tanpa ada yang dilewati. Hal ini juga berlaku bagi adik-adik mahasiswa di UDK dalam meraih mimpi-mimpinya,” ungkap Akhmad Munir.
Akhmad Munir membedah posisi historis dan strategis pers di Indonesia– Sejarah Pers Perjuangan– Pers Indonesia lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan. Sejak masa penjajahan Belanda, era Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi, pers senantiasa hadir dan beradaptasi untuk satu misi utama: mencerdaskan kehidupan bangsa. Pilar Keempat Demokrasi (The Fourth Estate)–bersanding dengan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, pers berdiri di luar struktur pemerintah untuk menjalankan tugas-tugas jurnalisme yaitu mencari, menulis, menganalisis, menyiarkan, dan menyajikan informasi yang jujur serta objektif.
Fungsi Kontrol Sosial dan Titik Temu dengan Pemerintah– Pers bertugas memperjuangkan kebenaran, keadilan, serta melakukan kontrol sosial (watchdog). Meskipun bekerja di luar struktur, tujuan pers dan pemerintah sejatinya bermuara pada titik yang sama, yakni memajukan kesejahteraan dan memakmurkan bangsa, dan kepastian Hukum dan Etika Profesi.
Akhmad Munir menegaskan pers tidak memiliki imunitas atau kebal hukum. Dalam menjalankan tugasnya, wartawan dibatasi dan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik (11 Pasal). Sengketa pers kerap terjadi akibat kurangnya pemahaman yang utuh dari masyarakat maupun aparat terhadap koridor hukum pers tersebut.
Akhmad Munirjuga mengimbau mahasiswa UDK terkait maraknya disrupsi informasi dan kabar bohong (hoax) di ruang digital. Beliau menyoroti kecenderungan masyarakat modern yang sering kali menilai atau berbicara terlebih dahulu sebelum berpikir dan memahami.
“Adik-adik mahasiswa saat bermain di media sosial — apapun platformnya — tolong dibantu dengan menerapkan kaidah-kaidah jurnalistik. Pahami prinsip verifikasi, ketepatan, dan keberimbangan _(check and balance)_. Dengan memahami basis etika jurnalisme, kalian turut membantu meliterasi publik dalam membedakan mana berita yang benar dan mana informasi bohong. Inilah kontribusi nyata mahasiswa sebagai benteng pertahanan demokrasi dan persatuan bangsa,” pesan Ketum PWI Pusat.
Rangkaian kegiatan Kuliah Umum ini turut dihadiri dan didukung penuh oleh jajaran pengurus PWI Kabupaten/Kota se-Bolaang Mongondow Raya, yang meliputi PWI Kota Kotamobagu, PWI Kabupaten Bolaang Mongondow, PWI Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, dan PWI Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Dalam kunjungan kerja, Ahmad Munir didampingi Wakil Ketua Bidang Hukum PWI Pusat Jimmy Endey, Wakil Ketua Bidang TNI Polri Musrifah, Humas PWI Pusat Mercys Charles Loho, serta Ketua PWI Provinsi Sulawesi Utara Sintya Bojoh dan Fahmi Gobel dari PWI BMR. (juf)
Editor: Jufri Alkatiri
