Beragama di “Akhir Zaman”: Ritual yang Tidak Lagi Berefek Sosial

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Ada setu  paradoks yang layak direnungkan dalam kehidupan beragama kita. Rumah ibadah semakin banyak. Jamaah pengajian semakin ramai. Perjalanan umrah dan haji terus diminati. Majelis zikir tumbuh di banyak tempat. Simbol-simbol keagamaan semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari– tetapi pada saat yang sama, kita masih menghadapi korupsi, kebohongan, ketidakadilan, kekerasan, eksploitasi terhadap kaum lemah, perusakan lingkungan, dan berbagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Lalu muncul pertanyaan sederhana tetapi mendasar.

Mengapa kesalehan ritual tidak selalu berbanding lurus dengan kesalehan sosial? Mengapa seseorang bisa rajin beribadah, tetapi masih mudah berbohong? Mengapa seseorang bisa berkali-kali datang ke rumah Tuhan, tetapi ketika memegang jabatan justru mengambil hak rakyat? Mengapa seseorang begitu fasih berbicara tentang agama, tetapi kasar kepada sesama?

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual adalah hubungan manusia dengan Tuhan melalui ibadah ibadah yang bersifat langsung seperti salat, puasa, zikir, membaca Al-Qur’an, haji, umrah dan berbagai bentuk ibadah lainnya.

Semua itu tentu sangat penting– tetapi Islam tidak pernah mengajarkan bahwa keberagamaan berhenti pada ritual. Ritual justru seharusnya melahirkan perubahan perilaku. Salat seharusnya melahirkan manusia yang semakin takut melakukan kejahatan. Puasa seharusnya melahirkan pengendalian diri. Zakat melatih kepedulian sosial.

Haji mengajarkan persamaan manusia. Zikir seharusnya membuat hati semakin lembut. Membaca Al-Qur’an seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan Amanah– karena itu, jika ritual semakin banyak tetapi perilaku tidak berubah, maka ada sesuatu yang patut direnungkan dalam cara kita memahami agama. Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat keras mengenai hal ini.

Dalam Surah Al-Ma’un, Allah bahkan mengaitkan pendustaan terhadap agama dengan sikap terhadap anak yatim dan orang miskin. Yang disebut mendustakan agama bukan hanya orang yang tidak mengenal ritual. Justru Al-Qur’an memperlihatkan bahwa seseorang dapat terlihat melakukan salat, tetapi tetap mendapat kecaman ketika ibadahnya kehilangan makna sosial.

Pesannya yang sangat kuat adalah agama tidak hanya diukur dari cara seseorang berdiri di hadapan Tuhan, tetapi juga dari cara ia memperlakukan manusia. Seseorang tidak bisa mengatakan hubungannya dengan Tuhan baik apabila pada saat yang sama ia terus menyakiti sesama. Sebab manusia yang ia sakiti juga ciptaan Tuhan. Hak yang ia rampas juga hak yang diperintahkan Tuhan untuk dihormati.

Hal yang sama dapat dilihat dari fungsi salat. Al-Qur’an menegaskan bahwa salat seharusnya mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Artinya, salat bukan sekadar gerakan tubuh. Ia adalah proses pendidikan moral. Jika seseorang telah melakukan salat bertahun-tahun tetapi masih menikmati korupsi, kebohongan, fitnah, atau kedzaliman, maka yang perlu diperiksa bukan kewajiban salatnya, melainkan apakah ruh salat itu benar-benar sudah masuk ke dalam perilakunya. Inilah persoalan yang sering luput. Kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak ibadah yang dilakukan, tetapi jarang bertanya tentang apa yang berubah setelah ibadah itu dilakukan?

Apakah setelah salat seseorang menjadi lebih jujur? Apakah setelah puasa ia menjadi lebih sabar? Apakah setelah haji ia menjadi lebih rendah hati? Apakah setelah membaca Al-Qur’an ia semakin adil kepada bawahannya? Jika tidak, boleh jadi ritual baru berhenti di tubuh dan belum sampai ke hati. Ibadah ritual ternyata tidak otomatis membuat seseorang selamat jika pada saat yang sama ia merusak hubungan sosial.

Dalam konteks bernegara– persoalan ini menjadi jauh lebih serius. Bayangkan jika seorang pejabat rajin beribadah tetapi korup. Seorang pemimpin sering mengutip ayat tetapi tidak adil kepada rakyat.  Di sini agama berisiko berubah menjadi kosmetik moral– tampak di luar, tetapi tidak mengubah substansi perilaku. Bahkan lebih berbahaya jika ritual kemudian digunakan sebagai alat membangun citra. Kesalehan dipertontonkan, tetapi amanah diselewengkan. Inilah bentuk keberagamaan yang perlu dikritik.

Bukan ritualnya yang salah– yang salah adalah ketika ritual dipisahkan dari akhlak. Dalam kehidupan politik, kita sering menemukan kecenderungan untuk mengukur religiusitas calon pemimpin dari atribut. Ukuran yang jauh lebih penting adalah: Apakah  adil?  Apakah  jujur? Apakah menjaga amanah? Apakah membela yang lemah? Apakah  menggunakan kekuasaan untuk kepentingan rakyat? Sebab bisa jadi seseorang tidak banyak mempertontonkan simbol keagamaan, tetapi perilakunya justru sangat dekat dengan nilai agama.

Sebaliknya, seseorang bisa sangat kuat dalam simbol tetapi lemah dalam integritas– karena itu, dalam memilih pemimpin, masyarakat seharusnya belajar membedakan antara religiusitas simbolik dan religiusitas substantif. Kesalehan sosial bukan berarti menggantikan ritual. Ini penting ditegaskan. Ada kecenderungan sebagian orang mengatakan bahwa yang penting berbuat baik, tidak perlu ibadah. Pandangan seperti ini juga tidak tepat. Islam tidak mengajarkan memilih salah satu.

Ritual memperkuat hubungan dengan Tuhan, sedangkan kesalehan sosial membuktikan dampaknya dalam kehidupan. Salat membangun kesadaran ketuhanan. Kesadaran itu melahirkan kejujuran. Puasa melatih pengendalian diri. Pengendalian diri mencegah kerakusan.

Zakat mendidik manusia untuk berbagi. Berbagi mengurangi kesenjangan sosial. Haji mengajarkan persamaan. Persamaan melahirkan penghormatan kepada sesama.  Itulah agama yang hidup. Agama yang turun dari mimbar menuju kehidupan– dari sajadah menuju ruang kerja– dari masjid menuju pasar– dari zikir menuju kebijakan—dan dari doa menuju keadilan.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website