Pertarungan Narasi Papua Pada Pemilu Tahun 2019 dan 2024 di Media Digital

Pijarberita.com-Bandung, Pada Pemilu 2024 lalu terjadi pergeseran signifikan dalam konfigurasi aktor. Jika pada 2019 narasi lebih didominasi oleh aktor formal seperti elite politik, maka pada 2024 dominasi berpindah ke akun-akun anonim dan non-formal yang viral dan masif di ruang digital.  Polarisasi tajam terbentuk antara narasi negara dan kelompok separatis — yang saling memperebutkan makna melalui simbol, propaganda, dan retorika digital. Bahkan media digital, khususnya Twitter/X, telah menjadi arena utama pertarungan wacana politik mengenai Papua dalam dua pemilu terakhir.

Temuan peneliti Kennorton Hutasoit tersebut terungkap dalam sidang Terbuka Promosi Doktor di Universitas Padjadjaran, Rabu di Jatinangor Bandung. Sidang Promosi Doktor Kennorton Hutasoit ini diketuai Dr. Dadang Sugiana. Ketua Promotor Prof. Dr. Suwandi Sumartias, anggota Promotor Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, representasi guru besar Prof. Dr. Eni Maryani, dan oponen ahli yang terdiri atas Prof. Dr. Atwar Bajari, Dr. Evie Ariadne Shinta Dewi, dan Dr. Agus Rahmat mencecar promovendus yang sehari-hari jurnalis media televisi ini dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tajam mulai dari paradigma, teori, metodologi, hasil, dan kesimpulan dapat dijawab promovendus dengan baik.

Hasil riset yang dilakukan Kennorton yang sehari Produser News di Metro TV Jakarta itu, dengan pendekatan mixed-methods. Studi ini secara komprehensif mengintegrasikan analisis media online, media sosial, dan wawancara elite untuk memetakan dinamika narasi antara kubu pro-NKRI dan Papua Merdeka.

Menurut Kennorton, analisis jejaring media sosial dan pendekatan semiotika sosial Halliday, penelitian ini menunjukkan bahwa media online ikut mereproduksi narasi hegemonik negara, sementara media sosial menjadi ruang artikulatif yang memperlihatkan politik identitas dan trauma kolektif orang Papua. “Di sinilah muncul bentuk baru partisipasi politik digital berupa connective action, yang berkembang karena kemajuan teknologi, ketidakadilan struktural, serta peran diaspora Papua di ranah global,” kata Kennorton yang memulai berkarir sebagai jurnalis sejak 2002.

Penelitian ini melahirkan lima model teoretis penting, termasuk Model Connective Action Papua Merdeka yang memperluas cakupan teori gerakan sosial digital dalam konteks konflik etnopolitik. “Model ini dapat menjadi kerangka kerja baru dalam memahami dinamika digitalisasi gerakan separatis di wilayah konflik atau perbatasan, serta menjadi alat analitis bagi pemerintah dan aktivis dalam membangun ekosistem informasi yang adil dan inklusif.”

Menurut Hutasoit, negara kini tidak hanya menghadapi tantangan penguasaan wilayah fisik, tetapi juga harus berhadapan dengan pertarungan makna di ruang publik digital. “Tanpa strategi komunikasi politik yang adil dan berbasis hak asasi manusia, narasi Papua Merdeka akan terus menguat dan menemukan momentumnya di platform internasional melalui solidaritas digital yang mengglobal,” kata  Kennorton yang juga Penguji UKW di LPDS Jakarta.

Ditambahkan,  riset tersebut, merekomendasikan arah kebijakan komunikasi ke depan difokuskan pada studi longitudinal terhadap generasi muda Papua di ruang digital, serta etnografi digital yang menghubungkan diskursus daring dengan dinamika komunitas akar rumput. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil diharapkan dapat merumuskan strategi komunikasi politik digital yang lebih transformatif dan berkeadilan sosial. (jal)

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *