Mencari Pemimpin Negara dan Pemerintahan yang Peduli terhadap Umat Islam di Indonesia

Oleh: Benz Jono Hartono*

Sejak Islam hadir di bumi Nusantara berabad-abad lalu, perjalanan umat Islam di Indonesia tidak pernah benar-benar berada dalam ruang yang tenang dan steril dari gangguan kepentingan kekuasaan. Islam tumbuh bukan hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai kekuatan moral, peradaban, pendidikan, perdagangan, budaya, hingga kekuatan sosial yang membentuk watak bangsa Indonesia.

Dari pesisir Aceh, Demak, Banten, Makassar hingga Ternate dan Tidore– Islam datang membawa perubahan besar terhadap cara hidup masyarakat Nusantara. Islam memperkenalkan nilai keadilan, persaudaraan, ilmu pengetahuan dan perlawanan terhadap penindasan– karena itulah, sejak awal pertumbuhannya, selalu ada kekuatan yang merasa terganggu terhadap kebangkitan umat Islam.

Sejarah panjang bangsa ini menunjukkan bahwa gerakan infiltrasi, adu domba, propaganda, perang pemikiran, hingga penciptaan kondisi sosial-politik yang melemahkan umat Islam tidak pernah benar-benar berhenti. Bentuknya berubah sesuai zaman. Jika dahulu menggunakan penjajahan fisik dan kekuatan militer, maka hari ini infiltrasi dilakukan melalui penguasaan ekonomi, media, budaya populer, pendidikan, teknologi informasi hingga pembentukan opini publik.

Umat Islam sering dihadapkan pada situasi yang membuat mereka terpecah dalam konflik internal, disibukkan dengan pertarungan identitas, sementara kekuatan ekonomi dan kebijakan strategis negara perlahan bergerak jauh dari kepentingan rakyat banyak. Dalam situasi seperti ini, umat Islam membutuhkan pemimpin negara dan pemerintahan yang tidak sekadar pandai berpidato, tetapi benar-benar memiliki keberpihakan terhadap martabat rakyat dan masa depan bangsa.

Pemimpin yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah pemimpin yang memahami bahwa umat Islam bukan ancaman bagi negara– melainkan fondasi utama berdirinya republik ini. Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari darah, tenaga, pikiran dan doa para ulama, santri dan tokoh-tokoh Islam di berbagai daerah–  karena itu, negara wajib hadir melindungi hak hidup umat Islam secara adil dan bermartabat. Perlindungan itu bukan hanya dalam bentuk kebebasan menjalankan ibadah, tetapi juga perlindungan ekonomi, pendidikan, kesehatan, akses terhadap keadilan hukum dan jaminan keamanan sosial.

Kemandirian umat Islam juga menjadi agenda besar yang tidak boleh diabaikan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Ketika ekonomi umat lemah, ketika generasi mudanya kehilangan arah, ketika budaya konsumtif lebih dominan dibanding budaya ilmu dan produktivitas, maka pada saat itulah umat menjadi mudah dipengaruhi dan dikendalikan oleh kepentingan luar.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kekuatan nasional berbasis keadilan sosial, bukan berbasis oligarki dan ketergantungan asing. Pemimpin yang berani melindungi sumber daya alam bangsa, memperkuat pendidikan berkualitas, membangun industri nasional dan menciptakan ruang besar bagi generasi muda Muslim untuk tumbuh menjadi ilmuwan, pengusaha, pemikir dan pemimpin masa depan.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan pertarungan geopolitik dunia, umat Islam Indonesia juga harus menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam: perpecahan, fanatisme sempit, hilangnya tradisi ilmu, serta lemahnya persatuan — karena itu, mencari pemimpin yang peduli terhadap martabat umat bukan berarti membangun kebencian terhadap kelompok lain. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang adil, berani, berdaulat dan memiliki komitmen kuat menjaga harmoni bangsa tanpa mengorbankan kepentingan rakyatnya sendiri.

Indonesia adalah negeri besar dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Potensi itu seharusnya menjadi kekuatan besar untuk membangun peradaban yang maju, moderen, mandiri dan bermartabat. Namun semua itu hanya akan terwujud jika negara dipimpin oleh orang-orang yang memiliki keberanian moral, kejujuran dan keberpihakan nyata kepada rakyat.

Sejarah telah mengajarkan bahwa bangsa yang kehilangan arah kepemimpinan akan mudah dipermainkan oleh kekuatan ekonomi dan politik global. Sebaliknya, bangsa yang dipimpin dengan visi besar, keberanian dan keadilan akan mampu berdiri tegak menjaga kehormatan rakyatnya– dan perjuangan menjaga martabat umat Islam di Indonesia sejatinya bukan sekadar perjuangan agama, melainkan perjuangan menjaga masa depan bangsa, menjaga keadilan sosial dan menjaga kedaulatan Indonesia sebagai negara yang merdeka secarau politik, ekonomi dan peradaban.

*Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *