Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
H. Mina; Simbol Cinta Dan Kesyahidan
Istirahat yang terakhir yang paling lama berlangsung di Mina– peristiwa ini menandakan harapan, cita-cita, idealisme dan cinta. Cinta adalah fase terakhir setelah pengetahuan dan kesadaran– karena, selama menjalani “Drama Ketuhanan” dalam manasik ibadah haji, berlangsunglah tiga fase yakni: pengetahuan, kesadaran dan cinta.
Mina adalah negeri cinta, perjuangan, dan kesyahidan– inilah negeri di mana umat manusia mengucapkan janji kepada Tuhan– sebagai umat yang satu, mereka berjanji untuk berpartisipasi dalam amal-amal saleh dan memerangi kejahatan dalam kehidupan ini. Mereka berjanji untuk menanggapi seruan Nabi Muhammad. Nabi yang menggenggam Kitab Suci di tangannya yang satu dan pedang di tangannya yang lain, dan untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi musuh-musuh yang keras kepala dan dalam berurusan dengan orang-orang yang bersahabat.
Mina adalah negeri keyakinan, cinta dan tempat segala harapan dan kebutuhan. Ia merupakan front arena dari segala kemenangan yang gemilang dan terhormat. Mina adalah hajinya seseorang, menuju puncak kesempurnaan dan cita-cita kehidupan. Mina adalah langkah Tauhid yang pertama dan juga penyergapan setan, musuh manusia yang paling berbahaya.
Pasukan Tauhid telah menghabiskan waktu malam mereka dengan mengumpulkan senjata (batu kerikil), berkomunikasi dengan Allah dan menunggu terbitnya Matahari– sebagai komandan utama, matahari memerintahkan para prajurit untuk “beraksi”, “berlari” dengan “langkah-langkah pendek dan cepat”, serta “berkumpul” dan “bergegas”! Mereka yang dipengaruhi intuisi dan berada dalam keadaan tenang di Masy’ar — tiba-tiba menjadi gesit dan resah, dan berlari ke Mina.
Di muka bumi manapun, kapan pun dan di negeri mana pun tidak pernah “mentari” memiliki otoritas seperti di Mina– dan di Mina, jama’ah haji akan menjumpai satu-satunya pasukan dalam sejarah yang diperintah oleh matahari dan satu-satunya negeri yang mau diatur oleh matahari dan sang pagi.
Ketika pasukan (pelaku haji) menghadap ke Mina, sang Matahari pun terbit di belakangnya yang kemudian melewati pegunungan Arafah dan memasuki Mina– oleh karena itu maka Matahari juga turut menunaikan ibadah haji karena sang mentari terbit di Arafah lalu melewati Masy’ar dan memasuki Mina. Dalam kesempatan ini matahari memerintahkan pasukan Tauhid untuk melakukan pembalasan dengan cara menyerang tiga pusat kaum penindas sejarah.
Hari Tasyrik dari kata syarraqa yang berarti matahari terbit, sebagai basis terbesar setan di muka bumi akan dimusnahkan. Hari tasyrik– politeisme akan dibunuh. Pada Hari itu, Tauhid, cinta dan pengabdian akan menampakkan wajah-wajahnya yang agung– dengan kata lain, mereka akan mewujudkan hakikat yang sejati. Sebab hakikat seorang manusia, yang sesungguhnya, tidak lain adalah keyakinan dan perjuangan.
Haji dan jihad (perjuangan) adalah satu kesatuan sebagai amal terbaik (HR Bukhori-Muslim) bahkan jihad itu merupakan peningkatan dari ibadah haji (QS At Taubah 19) — sehingga mereka yang telah memiliki predikat haji tidak boleh hanya menjadikan ibadah sebagai kepuasan diri semata. Ada tanggungjawab yang berkaitan dengan perjuangan nilai keagamaan; Mengubah kemungkaran dan membela kebenaran; Mengoreksi dan mencari solusi. Di segala bidang kehidupan selalu ada kemungkaran dan kebenaran. Haji mabrur bukan saja peduli akan tetapi berbuat dengan sekuat tenaga untuk mengubah kemungkaran menjadi lurus dan benar kembali.
Mereka yang telah berhaji adalah Mujahid. Andai jumlah haji yang banyak itu mampu menempatkan diri sebagai pejuang, penggerak dan penegak kebenaran serta pengubah kemungkaran, maka betapa dahsyatnya perubahan yang dapat terjadi dalam berbagai bidang itu. Gerakan perubahan ekonomi, budaya, atau politik ke arah yang lebih baik adalah jihad sabilillah melawan: Liberalisme, Kapitalisme, dan riba adalah kemungkaran ekonomi; Sekularisme, Komunisme, dan Otoritarianisme adalah kejahatan politik; Pragmatisme, Hedonisme, dan ambivalensi merupakan kerusakan budaya; Paganisme, kemusyrikan dan kedurhakaan adalah dosa dan maksiat dalam agama.
Semua mesti diubah oleh tangan, lisan, dan do’a para haji. Mereka yang telah berhaji itu “ahli” dalam melempar syaithan di Jamarot. Kini mereka dituntut untuk menjadi pejuang dalam melawan para perusak yang terstruktur dan masif mengembangkan ajaran politik, ekonomi, serta budaya yang sesat. Haji adalah ritual untuk fungsi sosial, kultural dan struktural.
Sebagaimana pasukan Tauhid yang dikomandoi oleh matahari harus bergerak serentak dan bersama, maka, tidak ada yang dapat dilakukan kalau hanya oleh satu orang! Al-Qur’an berbicara tentang “manusia” bukan “individu”, dan kata yang digunakannya sungguh indah, an-Naas (manusia), yang berbentuk jamak dan tidak ada bentuk tunggalnya.
Gerakan, kesempurnaan, wakil Allah di dunia ini, kemenangan dan semuanya tertulis dalam “takdir manusia”. Menjadi Sunnatullah adalah menolong ummat dan masyarakat pada umumnya. “Takdir sejarah” menyangkut tradisi Allah dalam menciptakan manusia. Yang dapat dilakukan manusia adalah menemukan tradisi (sunatullah) dan melakukan seleksi yang tepat dari takdir yang tertulis.
Sejarah sebagai konstruksi archetypal_ (pola dasar) dari berbagai realitas unik yang muncul dalam fakta-fakta sejarah untuk diarahkan mencapai tujuan-tujuan ideologis tertentu– dengan kata lain, fakta-fakta sejarah yang akan “membisu” jika dibiarkan begitu saja, haruslah direkonstruksi secara revolusioner. Sejarah bergerak dalam kesinambungan “seragam” dan “pertahanan”, menambahkan suatu pergerakan agama (dalam hal ini, Islam) harus dijaga agar tetap dalam modus agresifnya melalui interpretasi aktif terhadap kandungan aktualnya ketimbang berpegang teguh pada manifestasi lahiriahnya.
Analisis sejarah sociological history — yakni sejarah yang dijelaskan secara lebih Sosiologis. Dalam kerangka sociological history –sejarah tidak berupa sekedar past events (peristiwa masa lampau) yang disampaikan secara naratif, tetapi lebih dilihat sebagai hasil dari interaksi atau “dialektika” faktor-faktor sosiologis. Jadi sejarah lebih merupakan penggerak perubahan ketimbang tokoh manusianya; Sejarah adalah faktor yang mengubah manusia dari makhluk biadab menjadi makhluk kontemporer, mencapai tingkat pribadi ideal, makhluk termulia di alam materi.
Dalam konteks ini, maka manusia adalah makhluk yang selalu berada dalam proses “menjadi” (becoming) dengan tujuan utama tauhid menuju Allah SWT. Salah satu tujuan utama ibadah haji adalah menghancurkan perasaan tidak berdaya yang menyebabkan manusia terperangkap dalam situasi dan pola destruktif, dan menciptakan pola hidup yang terarah dan memiliki tujuan yang jelas yang secara aktif akan berjuang di jalan Tuhan.
Haji adalah antitesis dari segala sesuatu yang tidak bertujuan– adalah pemberontakan menghadapi jeratan takdir yang dituntun kekuatan-kekutan jahat. Haji merupakan aksi revolusioner yang memberikan kepada manusia horizon yang jelas dan jalan yang bebas untuk bermigrasi ke kekekalan menuju Allah yang mahakuasa.
Mina adalah negeri Allah dan Setan– maka jamaah haji harus menentukan pilihan, mengikuti panggilan Allah atau menuruti bujuk rayu Setan, di sini dia menentukan takdirnya sendiri. Sebagaimana Ibrahim yang dengan ketundukan yang mutlak memenuhi panggilan Allah dengan menyembelih anaknya Ismail, dan tidak menghiraukan godaan setan, maka jamaah haji pun harus mengikuti ketundukan Ibrahaim– karena haji adalah perjanan menuju Allah! Allah adalah Yang Mutlak; perjalanan ini adalah gerakan menuju keindahan yang mutlak, pengetahuan yang mutlak, kekuasaan yang mutlak, keabadian dan kesempurnaan!
Perjalanan tersebut merupakan gerakan yang tiada henti dan abad– namun, ada empat penjara yang merintangi manusia ke arah tahap kesempurnaan, yaitu sifat dasar, sejarah, masyarakat, dan ego manusia– namun demikian, masih ada kesempatan bagi manusia untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman kekuatan-kekuatan deterministic selama ia mampu mengabdikan gerakannya dalam evolusi dan “peninggian”. Dengan usaha itu– bisa mengubah dirinya dari kedudukannya sebagai *makhluk biasa (being) menjadi makhluk yang sempurnya (becoming). Pertama, untuk membebaskan diri dari sifat dasarnya, manusia harus berusaha sendiri dengan membangun iptek. Dengan menggunakan pikirannya yang kritis, manusia memanfaatkan ilmu untuk menghasilkan teknologi. Teknologi punya satu misi fundamental; membebaskan manusia dari genggaman determinisme alam.
Meskipun teknologi telah dikecam karena — telah melakukan dehumanisasi dan mengorbankan manusia– dapat digunakan untuk mengurangi bebabn kerja dan keringat manusia, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dan untuk mebentengi manusia dari bahaya yang diakibatkan oleh kekuatan-kekuatan alam yang bengis– dengan demikian ia diharapkan bisa membawa sifat dasar itu di bawah pengawasannya.
Kedua,_untuk membebaskan diri dari penjara sejarah Prisons of history) manusia bisa membebaskan sendiri dari kendala itu dengan mengetahui tahap-tahap historis dan hukum-hukum deterministik. Ketiga, manusia melalui pengetahuan dan kesadaran tentang masyarakatnya sendiri, juga mampu membebaskan diri dari kurungannya. Keempat, semua manusia itu berada dalam penjara egonya– dan ini merupakan persoalan yang paling sulit dipecahkan, karena antara “penjara” dan “tawanan” sering kali tidak bisa dipisahkan; manusia hanya mempunyai satu cara untuk membebaskan dirinya dari egonya, yakni dengan cinta.
Cinta di sini tidak dipahami dalam pengertian Sufistik, Platonik, Mistik, dan abstrak– sebab, bentuk-bentuk cinta seperti itu merupakan penjara-penjara itu sendiri. Sebaliknya, melihat cinta sebagai– kekuatan gunung berapi, hal ini menimbulkan sebuah revolusi dalam diri dengan menggerakkan dirinya sendiri melawan tahanan yang mengurungnya dalam penjara ego.
Pemberontakan harus mulai dari dalam diri sendiri– yakni harus diledakkan– dengan demikian, cinta secara substantif harus melahirkan kekuatan yang mendorong pecinta untuk mengorbankan semua yang ia miliki, baik kepentingan, perhatian, dan bahkan hidupnya sendiri untuk sesuatu yang dicintai. Dengan kata lain, cinta menimbulkan kekuatan untuk memberontak melawan sifat dasar manusia dan mengorbankan kehidupannya untuk sebuah idaman. Inilah arti sebenarnya berkorban (itsaar), sebagai tahapan “menjadi” tertinggi, hal ini yang dipahami sebagai sebuah gerakan revolusioner dan konsep kesyahidan Islam. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Renungan Hari Nahar: Hakikat Haji Mengenal Diri Sejati dan Mengenal Tuhan (bag-9)
