Kehadiran Wanita di Industri Tambang, Tidak Hanya tentang Kesetaraan

Oleh: Anindita K. Alkarisya

Industri Pertambangan — selama ini kerap dipandang sebagai industri yang maskulin. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, mengingat secara jumlah tenaga kerja di sektor ini masih didominasi oleh pria. Selain itu, karakteristik pekerjaan pada industri tambang, mulai dari aktivitas eksplorasi, pengoperasian alat berat, hingga pola kerja dengan jam panjang serta lokasi kerja yang berada pada wilayah yang tidak berada pada pusat kota, turut memperkuat persepsi tersebut.

Meskipun demikian– seiring dengan meningkatnya dorongan terhadap inklusivitas pada beberapa tahun terakhir, jumlah wanita yang berada pada industri pertambangan mulai menunjukkan peningkatan. Kondisi ini mengajak kita untuk berefleksi terhadap peran wanita pada industri pertambangan di masa kini.

Peningkatan partisipasi wanita seharusnya tidak berhenti pada pemenuhan angka representasi yang harus dipenuhi organisasi semata. Lebih dari itu, kehadiran wanita perlu dimaknai sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas organisasi. Keberagaman gender dapat memperkaya perspektif dalam tim, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pengambilan keputusan, efektivitas kerja, hingga produktivitas. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Gender Action Portal dari Harvard Kennedy School yang menunjukkan bahwa tim dengan komposisi gender yang lebih beragam cenderung memiliki kinerja yang lebih baik.

Kehadiran wanita di dalam tim juga membawa perubahan pada dinamika kerja dengan memberikan perspektif yang berbeda, sehingga menciptakan proses diskusi yang lebih terbuka serta memperluas cara pandang dalam melihat suatu permasalahan. Hal ini mendorong ketepatan dalam pengambilan keputusan di dalam tim serta meningkatkan produktivitas.

Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin menempatkan keberagaman sebagai salah satu indikator penting dalam menilai kualitas tata kelola perusahaan. Organisasi yang mampu menunjukkan komitmen terhadap keberagaman cenderung dipandang lebih adaptif dan berkelanjutan, sehingga memiliki daya tarik bagi investor. Dalam hal ini, keterlibatan wanita dalam industri tambang juga memiliki implikasi terhadap daya saing perusahaan.

Keberagaman– juga berkaitan erat dengan kemampuan organisasi dalam berinovasi. Industri pertambangan saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan baru, mulai dari tuntutan keberlanjutan hingga perkembangan teknologi. Dalam situasi seperti ini, keberagaman perspektif menjadi penting untuk menghasilkan inovasi yang dapat memperkuat keberlanjutan organisasi. Kehadiran wanita yang dapat meningkatkan keberagaman di organisasi menjadi salah satu sumber perspektif tersebut, yang dapat memperkaya cara organisasi merespons perubahan.

Meski demikian– kondisi yang sesungguhnya menunjukkan keterlibatan wanita di industri pertambangan masih rendah, dengan proporsi global yang berkisar antara 8 hingga 17 persen, dan bahkan lebih rendah pada posisi strategis. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi kontribusi wanita sebenarnya masih belum sepenuhnya dimanfaatkan. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya yaitu masih kuatnya persepsi bahwa industri pertambangan merupakan industri yang maskulin.

Persepsi ini secara tidak langsung membentuk bias, tertentu yang menghambat kemajuan bagi pegawai wanita. Terlebih lagi, wanita juga kerap dihadapkan pada tantangan dalam menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan peran lain di luar pekerjaan. Kondisi ini seringkali dikenal sebagai glass ceiling effect, yaitu adanya batas tidak kasat mata yang menghambat kemajuan seseorang ke posisi yang lebih tinggi. Selain itu, beberapa aspek lain juga perlu diperhatikan untuk menunjang rasa aman bagi wanita dalam bekerja, seperti ruang laktasi, sanitasi, maupun perlengkapan kerja yang sesuai, sehingga mendukung optimalisasi kinerja individu di lapangan.

Lebih jauh lagi, inklusivitas yang efektif juga berkaitan dengan terciptanya psychological safety— kondisi di mana individu merasa aman untuk menyampaikan ide dan berkontribusi secara aktif. Tanpa adanya ruang yang aman ini, keberagaman yang ada berisiko hanya menjadi simbol, tanpa benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi organisasi– oleh karena itu, upaya meningkatkan peran wanita di industri pertambangan tidak cukup hanya dengan menambah jumlah wanita yang bergabung di organisasi, tetapi menyusun strategi bagaimana membentuk sistem dan budaya kerja yang mendukung untuk seluruh pihak.

Hal ini meliputi — tidak terbatas pada, penyediaan fasilitas yang memadai, serta penciptaan lingkungan kerja yang memungkinkan setiap individu untuk berkontribusi secara optimal. Selain itu, mental resilience dan kedisiplinan wajib dimilki setiap orang di organisasi. Dengan demikian, ketika mengalami hambatan, ia bersedia untuk bangkit dan berjuang kembali.

Pada akhirnya, kehadiran wanita di industri pertambangan tidak hanya berkaitan dengan upaya mencapai kesetaraan. Lebih dari itu, keterlibatan wanita merupakan bagian dari strategi untuk membangun organisasi yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan di masa depan. (*)

*Human Resources disalah satu Perusahaan di Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Kehadiran Wanita di Industri Tambang, Tidak Hanya tentang Kesetaraan (Foto: Kontan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *