Oleh: Renville Almatsier*
Saat ini mungkin Anda sedang asyik menikmati kehebohan Piala Dunia 2026. Mulai dari kehebatan kiper Vozinha yang berusia 41 tahun, ketangguhan tim Cabo Verde negeri yang berpenduduk 500 ribu orang, sampai hukuman berat buat Messi. Kesimpulannya, memang tim-tim peserta babak final Piala Dunia ini, hebat-hebat.
Di sini saya tidak mau mengajak Anda membandingkan permainan timnas kita dengan tim-tim kelas dunia itu–tetapi mari kita kembali sejenak meninggalkan euphoria kesuksesan timnas kita melibas Oman dan Mozambique bulan lalu. Dari sisi penyelenggaraan, para pemain kedua tim tamu itu bilang mereka terharu. dan kagum pada keramahtamahan warga tuan rumah. Mereka disambut di bandara, di hotel bahkan di mall, dan pulang membawa kesan Indonesia itu negara yang hangat. Aamiin…
Bersamaan dengan usainya kemenangan kita dalam FIFA Matchday itu– sebenanya ada noda kecil yang tidak begitu mengambil perhatian tetapi bisa merupakan api dalam sekam. Di akhir pertandingan, salah seorang pemain kita, Beckham Putra terlibat adu mulut dan hampir bentrok dengan penonton yang mengejek pemain timnas asal Persib itu. Kita ketahui itu merupakan buntut dari persaingan dalam Kompetisi Super League antara Persija dan Persib Dimana, Beckham dkk mengalahkan Persija.
Kasus Beckham yang kena lempar olok-olok dari oknum Persija itu contoh nyata dendam klub terbawa ke timnas. Di sinilah kita, para supporter harus belajar. Ini bukti nyata banyak supporter fanatik belum bisa lepas dari dendam persaingan klub saat membela Merah-Putih.
Sebenarnya– masih ada yang tertinggal atau perlu kita perbaiki dalam semangat menggebu-gebu para fanatikus sepak bola. Harus kita akui, pemain daerah tertentu masih sering jadi sasaran rasisme masyarakat penonton kita. Bentuknya teriakan atau celetukan, sampai stereotip soal fisik dan gaya rambut. Kita tidak dilarang berteriak, tetapi jangan membawa kekecewaan kita pada urusan personal. Kadang-kadang umpatan kasar itu muncul di media sosial dari penonton di balik laptop. Rizky Ridho, Ferrari dan Hokky Caraka pun pernah kena hujat,cuma gara-gara para supporter yang sudah beralih fungsi menjadi “analis amatir”, kecewa pada pilihan pelatih.
Pelajaran paling pahit dariketerlibatan pendukung adalah tragedi di Stadion Kanjuruhan, lalu ada kasus tendangan kungfu Alberto, yang terakhirkericuhan di Stadion Lukas Eenembe Jayapura. Semua insiden itu meletus akibat ulah pendukung di tribune tak bisa mengontrol diri.
Ini mengingatkan saya pada masa-masa kompetisi perserikatan, puluhan tahun lalu–masa itu hampir setiap pertandingan yang melibatkan Persija, baik melawan Persebaya atau PSMS selalu membangkitkan rasa kedaerahan para supporter sehingga dikhawatirkan menjurus ke perpecahan nasional. Alhamdulillah– kini pemain-pemain sudah mewakili klub– namun tetap saja, para pendukung melihat dengan kacamata lain.
Fanatik boleh tetapi lepaskan dendam klub. Warna Jersey klub boleh beda tetapi begitu Indonesia Raya berkumandang, warnanya cuma satu—tidak ada lagi Persib-Persija. Adanya cuma Garuda– dan anehya, tamu kita sanjung tetapi anak kandung sendiri kita lukai.
Kini, selagi asyik menonton Piala Dunia dengan penonton yang berbagai macam tingkah laku mendukung negara masing-masing, mari kita belajar beretika sebagai supporter. Ada baiknya kita ingat petuah Baron Pierre de Coubertin, bapak Olympiade moderen, “yang penting bukan menang, tetapi berjuang dengan baik”.
*Mantan Wartawan Majalah Tempo dan Pekerja Sosial
Editor: Jufri Alkatiri
