Oleh: Anwar R. Soediro*
Wawasan tentang Realitas
Dalam tradisi intelektual (tasawuf) — realitas didasarkan pada wawasan langsung tentang hakikat realitas; sedang dalam fisika didasarkan pada pengamatan fenomena alam dalam eksperimen ilmiah. Dalam fisika, model, dan teori bersifat perkiraan dan mendasar bagi penelitian ilmiah moderen. Demikian pula dengan pepatah Einstein: Sejauh hukum matematika merujuk pada realitas, hukum tersebut tidak pasti; sejauh hukum tersebut pasti, hukum tersebut tidak merujuk pada realitas; Setiap kali akal menganalisis hakikat esensial dari segala sesuatu, hal itu pasti tampak absurd atau paradoks.
Kaum Sufi selalu menyadari hal ini, akan tetapi menjadi masalah dalam sains. Berbagai macam fenomena alam termasuk dalam lingkungan makroskopis ilmuwan, dan dengan demikian fenomena termasuk dalam ranah pengalaman indrawi mereka– karena bahasa, citra, dan konsep intelektual kesemuanya diabstraksikan dari pengalaman indrawi– mereka terbatas pada deskripsi fenomena alam.– tetapi karena dunia atom dan subatom berada di luar persepsi indrawi, maka pengetahuan tentangnya tidak lagi berasal dari pengalaman indrawi langsung– dengan demikian, bahasa kita sehari-hari, dengan citra-citra dari dunia indrawi, tidak lagi memadai untuk menggambarkan fenomena dunia atom dan sub atom yang diamati.
Semakin mendalam dalam memahami alam semesta– kita harus meninggalkan lebih banyak citra dan konsep bahasa sehari-hari– dengan menyelidiki bagian dalam atom dan meneliti strukturnya, sains melampaui batas imajinasi indrawi kita dan dengan demikian tidak lagi dapat mengandalkan logika dan akal sehat secara mutlak.
Dalam hal ini Fisika kuantum memberi para ilmuwan pandangan pertama tentang hakikat sesuatu; sebagaimana halnya kaum Sufi, para fisikawan sekarang berurusan dengan pengalaman realitas non-indrawi dan menghadapi aspek paradoks dari pengalaman ini. Akibatnya, model dan citra fisika moderen mirip dengan model dan citra kaum Sufi–dengan mengembangkan satu realitas yang mengintegrasikan konsep-konsep metafisik dengan pandangan tentang realitas fisik.
Dalam pandangan Ibn Arabi– realitas alam semesta adalah manifestasi dari Tuhan yang Maha Esa, dan seluruh ciptaan merupakan refleksi dari prinsip-prinsip Ilahi yang tertanam dalam setiap aspek realitas. Konsep utama dalam realitas, semesta bersal dari yang satu (Tauhid), Kesatuan Wujud yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada merupakan ekspresi dari eksistensi Tuhan yang maha tunggal. Menyatakan bahwa seluruh realitas ini mutlak satu dalam Wujud Allah– secara bersamaan juga menegaskan kemutlakan realitas itu sebagai eksistensi yang berbeda.
Pemikiran ini terepresentasi dalam ungkapan Quote; Huwa la Huwa (Dia [Allah] dan sekaligus bukan Dia). Quote tersebut; menyatakan paradigma yang dualistik terhadap realitas secara keseluruhan terkait dengan eksistensinya. Syeikh Akbar Ibn Arabi, menekankan pentingnya perantara antara Tuhan dan ciptaan, yang memberikan makna dan struktur pada kosmos. Pandangannya tentang kosmos melibatkan pemahaman tentang lapisan-lapisan spiritual dan material yang saling terkait, di mana setiap aspek ciptaan memiliki tujuan dan makna yang lebih dalam.
Dalam menjelaskan konsep perantara antara Tuhan dan realitas secara mendalam melalui teori metafisikanya. Menurutnya, perantara utama tersebut adalah Al-Haqiqah al-Muhammadiyyah (Realitas Muhammadiyah) atau Al-Insan al-Kamil (Manusia Sempurna):
1. Al-Haqiqah al-Muhammadiyyah (Realitas Muhammadiyah): yang dimaksud bukan merujuk pada tubuh fisik Nabi Muhammad, melainkan prinsip spiritual universal–yang merupakan Cetak Biru Alam Semesta– adalah logos atau cetak biru spiritual yang melaluinya Tuhan menciptakan seluruh realitas. Jembatan Kosmik: Bertindak sebagai perantara yang menerima limpahan ilahi (tajalli) dan memancarkannya ke seluruh alam semesta.
2.Al-Insan al-Kamil (Manusia Sempurna) Mikrokosmos: Manusia Sempurna adalah rangkuman dari seluruh nama dan sifat Tuhan sekaligus rangkuman dari alam semesta. Cermin Tuhan– berfungsi sebagai cermin tempat Tuhan melihat diri-Nya di dalam ciptaan-Nya. Penjaga Alam Semesta: Kehadiran Manusia Sempurna menjaga harmoni dan keberlangsungan realitas agar tidak runtuh.
3. Barzakh (Dunia Antara) Pemisah dan Penghubung: Ibnu Arabi menggunakan istilah Barzakh untuk menggambarkan wilayah perantara antara alam ketuhanan yang murni (ghaib) dan alam materi yang tampak (syahadah). Imaginasi Kreatif (Khayal): Realitas ini bersifat seperti bayangan di cermin– bukan Tuhan, tetapi tidak terpisah dari Tuhan.
Melalui pendekatan mistisnya, Ibn Arabi memperkenalkan ide bahwa pengetahuan tentang kosmos tidak hanya diperoleh melalui observasi empiris, tetapi juga melalui pengalaman spiritual dan kontemplasi. Kosmologi Ibn Arabi mencerminkan integrasi antara ilmu pengetahuan, teologi, dan spiritualitas, dan tetap menjadi sumber inspirasi bagi pemikir dan praktisi mistik hingga saat ini.
Abstraksi ini menyoroti kontribusi Ibn Arabi dalam memperkaya pemahaman tentang alam semesta, menjembatani antara dimensi material dan spiritual melalui kerangka kosmologi yang holistik dan penelitian menggunakan pendekatan filosofis dan metode kepustakaan. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
