Oleh: Anwar R. Soediro*
Masalah komunikasi
Para ilmuwan menyadari bahwa bahasa umum kita tidak dapat menggambarkan realitas atom dan subatom– dengan munculnya relativitas dan mekanika kuantum dalam fisika, menjadi jelas bahwa pengetahuan baru ini melampaui logika klasik dan tidak dapat dijelaskan dalam bahasa sehari-hari. Kaum Sufi selalu menyadari bahwa realitas melampaui bahasa sehari-hari dan tidak takut untuk melampaui logika dan konsep umum.
Masalah bahasa yang dihadapi oleh para Sufi dan fisikawan sama: Keduanya ingin mengkomunikasikan pengetahuan mereka, tetapi ketika mereka melakukannya dengan kata-kata, pernyataan mereka paradoks dan penuh dengan kontradiksi logis.
Dualitas Cahaya
Dalam fisika kuantum—banyak situasi paradoks terkait dengan sifat ganda cahaya atau, lebih umum, dengan radiasi elektromagnetik. Cahaya menghasilkan fenomena interferensi, yang terkait dengan gelombang cahaya. Hal ini diamati ketika dua sumber cahaya digunakan, karena hasil akhirnya adalah pola cahaya terang dan redup.
Di sisi lain, radiasi elektromagnetik juga menghasilkan efek fotolistrik: ketika cahaya dengan panjang gelombang pendek (misalnya, sinar ultraviolet, sinar-X, atau sinar gamma) mengenai permukaan beberapa logam, cahaya tersebut dapat melepaskan elektron dari permukaan. Oleh karena itu, permukaan tersebut harus terdiri dari partikel yang bergerak.
Pada tahap awal teori kuantum, para fisikawan bingung bagaimana radiasi elektromagnetik dapat terdiri dualitas cahaya: yakni partikel (entitas yang terbatas pada volume yang sangat kecil) dan gelombang (yang menyebar di area yang luas di ruang angkasa) secara bersamaan. Baik bahasa maupun imajinasi tidak dapat menangani realitas semacam ini dengan baik, fenomena ini bergantung pada bagaimana cahaya tersebut diamati dan berinteraksi dengan materi.
Sufisme telah mengembangkan beberapa cara untuk menangani aspek paradoks realitas. Karya-karya Attar (wafat 1299), Hafiz (abad ke-14), Ibn al-Arabi (wafat 1240), Rumi (wafat 1273), Basmati (wafat 875), dan lainnya penuh dengan kontradiksi yang menarik. Lebih jauh lagi, bahasa mereka yang ringkas, kuat, dan sangat puitis dimaksudkan untuk mengalihkan pikiran pembaca dari jalur penalaran logis yang biasa mereka gunakan.
Heisenberg pernah bertanya kepada Bohr: “Mungkinkah alam begitu absurd seperti yang tampak bagi kita dalam eksperimen atom ini?” Pengalaman indrawi kita, yang ranahnya adalah dunia makroskopis, memungkinkan kita untuk menggambar citra dan konsep intelektual serta mengungkapkannya dalam suatu bahasa. Bahasa ini cukup dan memadai untuk menggambarkan fenomena alam.
Model mekanistik Newton tentang alam semesta menggambarkan dunia makroskopis. Pada abad ke-20, para fisikawan memverifikasi keberadaan atom dan partikel subatomik, blok bangunan utama alam, melalui eksperimen– karena partikel-partikel ini berada di luar persepsi indrawi kita, pengetahuan kita tentangnya tidak lagi berasal dari pengalaman indrawi langsung– dengan demikian kita menghadapi masalah yang disebutkan sebelumnya ketika berurusan dengan yang menyangkut hakikat cahaya.
Dalam kacamata sufi, dualitas cahaya bukan tentang pertentangan fisik, melainkan manifestasi kesatuan Ilahi (Tauhid). Realitas terbagi menjadi dua aspek utama: Cahaya Mutlak _(Wujud Tuhan/Nur Ilahi) dan Cahaya Relatif (pantulan ciptaan atau alam semesta).
Hierarki dualitas cahaya diawali dari Allahu nurus-samwati wal ardhi (Allah adalah cahaya langit dan bumi), QS. An-Nuur ayat 35, yang kemudian dalam tasawuf dibagi: Cahaya Mutlak (Nur al-Anwar): Tuhan sebagai sumber segala eksistensi. Cahaya ini bersifat swa-ada dan menerangi segala sesuatu tanpa Dia sendiri diterangi oleh yang lain.
Dan Cahaya Relatif (Zhill / Bayangan): Alam semesta atau materi adalah manifestasi (Tajalli) dari Cahaya Mutlak. Bagaikan bayangan yang ada karena cahaya, ciptaan tidak memiliki wujud mandiri melainkan bergantung mutlak pada Sang Pencipta.
Makrifat dan Kegelapan: Dalam diri manusia, cahaya melambangkan hidayah dan pengetahuan spiritual. Kegelapan adalah ketiadaan cahaya atau kondisi manusia yang terhalang (hijab) dari pengenalan akan Tuhan. Imam Suhrawardi al-Maqtul: Mengembangkan Filsafat Iluminasi (Isyraq), yang menyatakan bahwa seluruh realitas adalah spektrum gradasi cahaya, dari yang tertinggi (Cahaya di Atas Cahaya) hingga yang terendah-materi yang gelap. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
