Renungan Dhino Jemuwah: Relevansi Tradisi Intelektual bagi Masyarakat Digital (bag-2)

Oleh: Anwar R. Soediro*

II. Ancaman dunia digital.

Manusia hari ini telah masuk ke dalam era di mana hampir seluruh aspek kehidupannya dipengaruhi oleh teknologi digital. Masyarakat moderen, yang kerap disebut sebagai masyarakat digital, menciptakan realitas baru di mana identitas, hubungan sosial, dan pengalaman pribadi didominasi oleh peran platform digital.

Banyak manusia moderen kini — terperangkap dalam siklus media tanpa akhir, di mana validasi sosial diukur melalui jumlah like, follower, share, dan komentar positif. Individu-individu terus menampilkan citra diri sempurna dalam realitas digital, yang sering kali mengorbankan kejujuran dan kedalaman makna batin. Di sisi lain, kemajuan teknologi digital yang pesat juga mendorong gaya hidup serba instan, dengan arus informasi yang kian membanjir. Arus ini kerap mengalihkan perhatian individu dari hal-hal yang mendalam dan esensial pada hal-hal yang material dan artifisial. Perkembangan  teknologi  digital  telah  mengubah  lanskap  kehidupan  manusia  secara radikal.

Revolusi  informasi  menjadikan dunia seolah  tanpa batas, di mana jarak dan waktu tidak  lagi  menjadi  penghalang bagi  komunikasi,  hiburan, maupun  pendidikan. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) telah menjadi bagian integral  dari  kehidupan masyarakat  moderen,  terutama  kalangan  mahasiswa.

Indonesia menempati  peringkat  ketiga dunia dalam durasi penggunaan media sosial, dengan rata-rata pengguna menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di dunia maya. Fakta ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya alat  komunikasi, tetapi  telah  menjadi  ruang  pembentukan  identitas  diri  dan  interaksi  sosial baru yang melekat dalam kehidupan sehari-hari;

Fenomena digital addiction atau  kecanduan  digital menjadi  salah satu  bentuk  ketergantungan  baru  yang  menimbulkan  gangguan  konsentrasi,  menurunkan produktivitas,  memicu  stres  emosional,  bahkan  menyebabkan  kelelahan mental  (digital fatigue).

Studi yang dilakukan oleh Dewi Kartikasari  (2023) menunjukkan bahwa 67persen mahasiswa mengalami kesulitan mengontrol penggunaan media sosial mereka, dan lebih dari setengahnya  mengaku  merasa  cemas  atau  tidak  berharga  jika  tidak  mendapatkan  perhatian berupa likes atau  komentar  positif.  Fenomena ini  menunjukkan  bahwa  perilaku  digital tidak lagi  bersifat instrumental,  melainkan  telah  berkembang  menjadi kebutuhan  psikologis  yang kompleks dan sering kali tidak disadari; dan lebih  jauh,  kecanduan  digital  juga  membawa  dampak  serius  terhadap  dimensi spiritual  manusia.

Di  tengah  derasnya  arus  informasi  dan pencitraan,  manusia  cenderung terjebak  dalam  pencarian  validasi  sosial yang semu, sehingga mengabaikan  nilai-nilai introspektif dan transendental.  Akibatnya,  muncul  gejala spiritual  emptiness,kekosongan batin yang ditandai  dengan  kehilangan  makna  hidup,  lemahnya  kesadaran  moral, serta renggangnya hubungan dengan Tuhan.

Dalam pandangan Islam, kondisi ini disebut  ghaflah — yaitu  kelalaian  hati yang menjauhkan manusia  dari  kesadaran Ilahi.  Al-Qur’an menegaskan, “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang  yang  lalai  terhadap  Allah,  maka  Allah menjadikan  mereka lalai  terhadap  diri mereka  sendiri”(QS.  Al-Hasyr [59]:19). 

Ayat ini mengingatkan  bahwa  kelalaian  spiritual merupakan  akar  dari  berbagai  krisis  moral  dan psikologis yang dialami manusia moderen. Warga bangsa ini generasi intelektual dan digital native menghadapi dilema unik: di satu   sisi   dituntut   untuk   melek   teknologi,   sementara   di   sisi   lain   terancam   kehilangan keseimbangan  spiritual  akibat  keterpaparan  informasi  tanpa  batas.

Aktivitas daring yang semestinya  menjadi  sarana  produktif, justru  sering kali berubah  menjadi  sumber  gangguan dan  distraksi  yang  melemahkan  potensi  intelektual  dan moral. Dalam  konteks  inilah,  perlu adanya pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh dimensi etika dan spiritual untuk mengembalikan keseimbangan kehidupan digital manusia.

Materialisme Barat moderen  memperlakukan  alam  seperti pelacur– mereka  menikmati  dan  mengeksploitasi  alam  dan sumberdaya manusianya demi  kepuasan dirinya  tanpa  rasa  kewajiban  dan  tanggung  jawab  apa  pun.  Sikap  inilah yang  kemudian  melahirkan  berbagai  krisis  dunia  modern  yang menjalar tidak  hanya  dalam  kehidupan  spiritual, tetapi  juga dalam  kehidupan sehari-hari. 

Seharusnya  manusia  sebagai  penguasa  di muka  bumi  secara vertikal berfungsi sebagai hamba Allah, sedangkan secara horizontal ber-fungsi sebagai khalifah Allah– dengan demikian manusia akan dapat menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidupnya, dan tidak menjadi budak dari nafsu (egonya) sendiri.

Landasan Ontologis modern Barat yang telah kehilangan  transendensi  dan prinsip  yang  serba  suci  (the  sacred) ini dinilai oleh  golongan  tradisionalis  sebagai  penyebab yang kemudian  menjadi sasaran kritik mereka timbulnya berbagai krisis dunia: berdampak ancaman perang, kerusakan lingkungan, kelangkaan makanan dan sumber daya alam, dan lain  sebagainya.

Ketika teknologi digital terlepaskan dari orientasi sakral, manusia modern berubah menjadi sosok Promethean yang haus kendali, menjadikan alam dan realitas sebagai objek manipulasi tanpa batas. Dalam dunia digital– wajah dari gejala ini tampak jelas– makna hidup sering direduksi menjadi angka likes, views, followers yang seolah ukuran eksistensi manusia bisa disaring ke dalam statistik.

Alih-alih menjalani peran kosmiknya sebagai khalifah (wakil Tuhan) — manusia justru terjebak dalam pengejaran citra yang dangkal.  Maka seharusnya teknologi diperlakukan sebagai jalan penghubung, bukan tujuan.  Syaratnya adalah menghadirkan kembali adab, mengarahkan niat ke pusat transendensi, dan menata performativitas digital bukan sebagai panggung ego melainkan sebagai cermin yang menyingkap lapisan makna terdalam. (bersambung)

*Pemerhati Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Pemerhati Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar Sudiro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *