Tradisi Kebersamaan dan Kemandirian Pesantren: Sekolah Kehidupan di Tengah Zaman Individualis

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi yang mengagungkan pencapaian individu– pondok pesantren hadir sebagai oase yang menawarkan narasi berbeda. Di sini, kebersamaan dan kemandirian bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup yang dijalani setiap hari. Di era ketika masyarakat cenderung individualistis dan transaksional, pesantren justru mengajarkan bahwa kesuksesan sejati tidak pernah diraih sendirian, melainkan lahir dari gotong royong dan kemandirian yang dibangun di atas fondasi keikhlasan.

Tradisi gotong royong di pesantren, yang akrab disebut  ro’an_– adalah salah satu wujud nyata pendidikan karakter yang tidak tertulis dalam buku teks. Kegiatan membersihkan lingkungan, membangun fasilitas, hingga memasak bersama bukan sekadar rutinitas, melainkan latihan kepedulian sosial dan penguatan ikatan persaudaraan. Di sinilah santri belajar bahwa hidup bermakna ketika berguna bagi orang lain .

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii menegaskan bahwa budaya gotong royong ini merupakan cerminan nilai-nilai keikhlasan, kemandirian, dan tanggung jawab. Ini adalah sekolah kehidupan  yang mengajarkan empati dan solidaritas di tengah kecenderungan masyarakat moderen yang makin individualistis. Kebersamaan ini pula yang menjadi benteng moral menghadapi krisis etika global yang ditandai dengan lunturnya rasa hormat dan melemahnya tanggung jawab sosial .

Jika kebersamaan adalah nilai kolektif, kemandirian adalah karakter personal yang ditempa pesantren sejak hari pertama. Santri dididik untuk mengurus keperluan pribadi—mencuci, memasak, mengatur keuangan—tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian ini bukanlah kemiskinan, melainkan kesederhanaan yang disadari sebagai kekuatan untuk fokus pada esensi kehidupan: belajar, beribadah, dan berinteraksi sosial tanpa terdistraksi oleh hal-hal materialistis .

Kemandirian pesantren juga tampak dalam posisinya yang selalu menjaga jarak dari kepentingan oportunistik, sebagaimana terbukti sejak zaman kolonial. Dalam konteks kekinian, kemandirian diartikan sebagai kemampuan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar tradisi. Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa pesantren harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan ekonomi, namun tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kemandirian sebagai kekuatan utamanya. Survei menunjukkan 79 persen anak muda menginginkan kombinasi kurikulum pesantren dengan ilmu komputer dan ekonomi. Ini membuktikan bahwa nilai kemandirian tetap relevan sepanjang masa.

Nilai Luhur di Tengah Arus Zaman

Pesantren adalah oase kearifan di tengah padang modernisme– di tengah dunia yang serba instan dan transaksional, pesantren mengajarkan bahwa manajemen terbaik bukanlah anggaran besar, melainkan niat tulus dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan. Sistem pendidikan ini, sebagaimana diingatkan Anggota DPR, mencetak keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedalaman ilmu agama, dan kehalusan akhlak melalui pengawasan 24 jam yang menekankan kemandirian, kesederhanaan, dan disiplin tinggi .

Tradisi kebersamaan dan kemandirian di pesantren adalah jawaban atas kegelisahan zaman. Saat individualisme mengancam, pesantren mengajarkan gotong royong. Saat materialisme menggoda, pesantren mengajarkan kesederhanaan. Saat instan menjadi trend, pesantren mengajarkan proses dan keikhlasan. Inilah mengapa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sekolah kehidupan yang terus relevan membentuk manusia Indonesia beradab. Sudah saatnya kita belajar dari pesantren, bahwa menjadi kuat tidak berarti sendiri, dan menjadi mandiri tidak berarti melupakan sesama. Wallahua’lambishawab.

*Profesor Sejarah Perdaban Universitas Islam Negeri (UIN)  Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Profesor Sejarah Perdaban Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta  (Foto: Murodi al-Batawi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *