Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Di tengah derasnya gempuran budaya asing– sudah saatnya Indonesia lebih banyak berkreasi melahirkan aneka produk yang lahir dari rahim tradisinya sendiri. Termasuk, di bidang kesehatan. Banyak cara sehat yang bisa diproduksi dari warisan budaya sendiri dan untuk diri kita. Senam Kebudayaan Indonesia (SKI) dan Senam Hijaiyah Indonesia (SHI) adalah contoh nyata karya anak bangsa yang digali dari tradisi leluhur negeri ini. Senam yang digagas dan dikembangkan seorang budayawan Sunda, Jatnika Naggamihardja (Aki Jatnika) itu layak dipandang sebagai ikhtiar strategis dan mulia dalam membangun model kebugaran nasional yang tidak tercerabut dari akar budaya sendiri.
Cara sehat yang dikampanyekan seorang pencinta bambu berusia 71 tahun ini patut mendapat perhatian serius, karena menawarkan sintesis antara olahraga, pelestarian warisan budaya, pendidikan karakter, dan pembentukan identitas nasional. Jejak publik menunjukkan bahwa Senam Hijaiyah Indonesia telah diperkenalkan Aki Jatnika sejak 2014 dengan rujukan pada tradisi Cimande. Sedangkan Senam Kebudayaan Indonesia kemudian diluncurkan pada 2025 sebagai gerakan yang memadukan kebugaran jasmani dengan pelestarian budaya Nusantara.
Secara konseptual, keunggulan utama dari dua model senam tersebut terletak pada kemampuannya menghubungkan aktivitas fisik dengan makna simbolik. Senam tidak lagi dipahami sekadar sebagai latihan tubuh yang mekanis, melainkan sebagai media pewarisan nilai, disiplin, memori budaya, dan kesadaran spiritual.
Ini penting, sebab berbagai kajian kesehatan global menegaskan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin memberi manfaat besar bagi kesehatan jasmani dan rohani/mental– termasuk, pencegahan penyakit tidak menular, perbaikan kesejahteraan psikologis, dan peningkatan fungsi kognitif–karena itu, bila aktivitas fisik dapat dirancang agar sekaligus bermakna secara kultural, maka efek sosialnya menjadi lebih luas daripada sekadar kebugaran tubuh.
Dalam perspektif kebudayaan– Senam Kebudayaan Indonesia memiliki nilai penting karena berangkat dari kesadaran bahwa tubuh juga merupakan ruang ekspresi peradaban. Gerakannya digali dari tradisi Nusantara– termasuk kemungkinan inspirasi dari pencak silat, aksara, etika tubuh, dan simbol-simbol lokal. Sehingga, menjadikan senam ini bukan hanya alat olahraga, tetapi juga alat edukasi budaya.
UNESCO menekankan bahwa olahraga dan permainan tradisional memiliki arti penting sebagai bagian dari warisan budaya takbenda, karena dapat memperkuat dialog antargenerasi, pemberdayaan kaum muda, serta nilai-nilai etis dalam masyarakat– dengan demikian, pengembangan senam berbasis budaya lokal bukan langkah romantik yang nostalgik, melainkan bagian dari strategi modern untuk menjaga kesinambungan identitas bangsa di tengah homogenisasi budaya global.
Dari sudut pandang kebijakan publik, pengembangan senam asli Indonesia juga relevan dengan agenda penguatan karakter. Pemerintah telah menempatkan aktivitas senam sebagai bagian dari pembiasaan positif dalam Pendidikan– misalnya, melalui penguatan Senam Anak Indonesia Hebat yang ditujukan untuk membangun kebugaran, disiplin, kekompakan, dan kesiapan belajar peserta didik.
Ini menunjukkan, bahwa senam bukan sekadar urusan olahraga, tetapi juga instrumen pedagogis– maka, Senam Kebudayaan Indonesia berpotensi menjadi pengayaan penting dalam ekosistem pendidikan nasional, terutama jika dirancang sebagai media belajar yang menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri sejak usia dini.
Sementara itu– Senam Hijaiyah menawarkan dimensi yang lebih khas lagi, karena berupaya menggali gerak dari pemaknaan huruf-huruf hijaiyah. Tubuh diposisikan bukan hanya sebagai alat gerak, tetapi juga sebagai medium tafakur dan penghayatan simbolik. Huruf hijaiyah dalam tradisi Islam bukan semata unit fonetik, melainkan pintu masuk ke dunia makna, bacaan, disiplin lisan, dan pembentukan adab.
Bila setiap gerak senam dirumuskan dari makna bentuk atau filosofi huruf-huruf hijaiyah, maka senam ini dapat dibaca sebagai bentuk pedagogi embodied learning. Yaitu, belajar melalui tubuh, bukan hanya melalui ceramah. Secara akademis, pendekatan semacam ini menarik karena menjembatani pendidikan jasmani, pendidikan agama, dan semiotika budaya dalam satu praktik yang konkret.
Nilai penting lain dari Senam Hijaiyah adalah kemampuannya menghadirkan pendekatan keagamaan yang lebih hidup, ramah, dan partisipatif– membuka kemungkinan bahwa pengenalan huruf-huruf Qur’ani tidak harus selalu berlangsung secara tekstual dan pasif, tetapi juga bisa melalui ritme, gerak, dan pengalaman kolektif.
Pertanyaannya, bagaimana agar kedua jenis senam hasil karya anak bangsa dan digali dari warisan budaya bangsa sendiri itu bisa sampai ke seluruh segmen masyarakat– yang pasti perlu sosialisasi. Nah, untuk tujuan dan kepentingan itulah, sosialisasi perlu dirancang secara bertahap dan inklusif. Sekolah, pesantren, sanggar budaya, komunitas pemuda, lembaga kebugaran, hingga pemerintah daerah dapat menjadi simpul penyebaran.
Dalam kontek inilah, apa yang digagas dan dikembangkan Aki Jatnika ini sebaiknya direspon cepat oleh pemilik kebijakan nasional di negeri ini, Presiden RI Prabowo Subianto. Minimal, pemerintah daerah, dalam hal ini, mulai dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Kenapa? Karena kedua senam ini layak diposisikan sebagai inovasi kebudayaan nasional. Asli dari dalam negeri, bertumpu pada kearifan leluhur, dan relevan untuk membangun manusia Indonesia yang sehat, berkarakter, dan beridentitas.
*Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jabar
Editor: Jufri Alkatiri
