Renungan Malem Jemuwah: Relevansi Tradisi Intelektual bagi Masyarakat Digital  (bag-9)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Implementasi Konsep Cinta Ilahi (al-hubb al-illahi)

Konsep, al-Ḥubb al-Ilāhī atau Cinta Ilahi; hakikatnya merupakan inti dari seluruh pengalaman spiritual; berdasakan telaah dalam Al- Futūḥāt al-Makkiyyah, al-ḥubb al-ilāhī — merupakan suatu keadaan hati yang merasakan keagungan, kemuliaan, dan kehadiran serta ketenangan bersama Allah.  Al-Ḥubb Al-Ilāhī tidak serta merta hadir begitu saja dalam hati seorang hamba– melainkan harus ada usaha yang dilakukan untuk meraihnya, baik itu secara batiniyah maupun lahiriyah.

Cinta ilahi tidak bersifat given; Maka– menuntut usaha batiniyah dan lahiriyah untuk meraihnya. Dalam kerangka ini — Cinta Ilahi dimaknai sebagai orientasi total kehidupan seorang hamba kepada Tuhan, di mana seluruh aktivitas, pilihan hidup, dan pengalaman batin diarahkan sebagai bentuk penghambaan.

Hal ini menunjukkan bahwa manifestasi cinta Ilahi bersifat personal dan unik– sehingga tidak dapat diseragamkan, namun memiliki kesamaan dalam hal kehadiran Tuhan yang terus-menerus dalam kesadaran hamba. al-Ḥubb al-Ilāhī menegaskan orientasi hidup yang sepenuhnya diarahkan kepada cinta dan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.

Prinsip Ontologis penciptaan;  adalah hakikat keberadaan, asal usul wujud dan hubungan antara sang pencipta dan yang diciptakan, pemikiran Ibnu Arabi keberadaan alam semesta tidak hanya diciptakan untuk eksis, melainkan karena adanya  Maḥabbah Ilahiyyah atau cinta ilahi;  Berdasarkan pada hadits Qudsi berikut ini — Cinta ilahi merupakan sebab wujud alam semesta. “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku rindu untuk dikenali. Maka Aku menciptakan makhluk, maka dengan-Ku mereka mengenal-Ku.”

Ibn ‘Arabi mengaitkan hakikat Tuhan  (al-ḥaqīqah al-ilāhiyyah) dengan kehendak-Nya  (al-irādah al-ilāhiyyah) yang disebut cinta (ḥubb), yang disinyalir sebagai sebab wujud dan terciptanya alam semesta.  Kehendak Tuhan dalam konteks ini merupakan kerinduan-Nya untuk ber-tajallī pada alam melalui cinta yang bersumber dari  Nafas Ar-Raḥmān.

Tujuan Tuhan menciptakan alam bukan hanya untuk melihat diri-Nya– tetapi juga untuk memperlihatkan diri-Nya. Di samping ingin mengenal diri-Nya sendiri, Dia juga ingin memperkenalkan diri-Nya melalui alam. Dia adalah  “perbendaharaan yang tersembunyi/ kanzun makhfiyyan” yang tidak dapat dikenal kecuali melalui alam.

Gagasan ini berdasar pada Hadis Nabi yang sumbernya diperoleh secara penyingkapan/kasyf– namun cukup populer dikalangan Ṣūfī. Hadis tersebut menyatakan bahwa Tuhan adalah harta tersembunyi yang tidak dikenal, karena itu– Dia ingin dikenal. Maka Dia menciptakan makhluk dan memperkenalkan diri-Nya kepada mereka. Lalu mereka mengenal-Nya.

Fase kerinduan untuk ber-tajalli  digambarkan oleh Henry Corbin? sebagai fase bersedihnya nama-nama (asma) Ilahi yang mengalami derita dalam keadaan tidak dikenal. Kesedihan inilah yang turun dalam bentuk  Nafas Ilahi (tanaffus) berupa kasih (Raḥmān) dan pengadaan (ijād) yang dalam alam misteri merupakan kasih dari Wujud Ilahi oleh dan untuk-Nya sendiri, yakni untuk nama-nama-Nya sendiri (Corbin, 1998).

Nafas ar- Raḥmān — menghasilkan segenap masa pengadaan primordial “halus” yang diistilahkan sebagai awan (‘ama). Atau dengan istilah lain, cinta merupakan asal- usul penciptaan, yang mengisyaratkan adanya gerak hasrat yang bergelora untuk dikenal. Sebagaimana Dia menciptakan makhluk untuk diri-Nya sendiri, supaya –Dia dikenal oleh ciptaan-Nya (Arabi, 2004).

Hal tersebut senada dengan pendapat Ibn Abās, beliau menafsirkan kata, ‘ibādah pada surah Adz-dzariyat ayat 56 dengan ma’rifah (mengenal/mengetahui). Sehingga pembacaan pada ayat tersebut menjadi; “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengenal-Ku”. Menurutnya, ma’rifah menuntut adanya cinta yang merupakan unsur dasar alam semesta dan sebab penciptaan. Dengan demikian, barang siapa yang mengenal Allah dengan pengetahuan yang luas, maka cintanya kepada Allah seluas pengetahuannya tentang diri-Nya– dan barang siapa tidak mengenal Allah kecuali dengan pengetahuan yang sedikit, maka cintanya kepada Allah sesuai dengan kadar pengetahuannya (Bahjat, 1984).

Berdasarkan keterangan tersebut, alam semesta adalah wujud dari cinta Ilahi yang bertujuan agar Tuhan dapat dikenal.  Cinta ini adalah bentuk kerinduan Tuhan untuk ditemukan dan dikenal oleh makhluk-Nya. Selama cinta ini ada, alam semesta akan terus bertahan sebagai wadah di mana makhluk dapat mengenal Tuhan.

Cinta ilahi dalam perspektif Ibnu ‘Arabi bukan sekadar perasaan, tetapi merupakan kekuatan hakiki yang menggerakkan seluruh eksistensi, menciptakan realitas sebagai ruang bagi manusia dan makhluk lainnya untuk menyaksikan Tuhan.

Alam semesta diciptakan sebagai ekspresi Maḥabbah Ilahiyyah, memberikan ruang bagi makhluk untuk mengenal Tuhan dan mendekat kepada-Nya.  Konsep ini menjadi landasan bagi gagasan al- Insān al-Kāmi– yaitu manusia sempurna yang dipandang sebagai cerminan Tuhan dengan potensi untuk memahami dan menyempurnakan hubungan dengan-Nya. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *