Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)
Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Ketika berbicara tentang pesantren dan perjuangan kemerdekaan– nama-nama seperti Tebuireng, Denanyar, atau Lasem mungkin lebih dulu terlintas di benak kita–namun, ada satu lembaga pendidikan Islam yang tidak kalah penting perannya dalam melahirkan pejuang dan membangun kesadaran kebangsaan, yaitu Pesantren Persatuan Islam (Persis). Lembaga yang lahir dari gerakan pembaruan Islam ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan semangat juang, nasionalisme, dan keberanian intelektual yang menjadi modal utama dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pesantren Persis lahir dari rahim organisasi Persatuan Islam yang didirikan pada 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok muslim yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhammad Yunus. Berbeda dengan organisasi Islam lain yang lebih bergerak di bidang sosial atau politik, Persis sejak awal memusatkan perhatiannya pada pembentukan faham keagamaan yang murni, jauh dari takhayul, bid’ah, dan khurafat– namun, pemurnian akidah ini bukan berarti mengasingkan diri dari realitas kebangsaan. Justru, keyakinan bahwa Islam adalah agama yang sempurna untuk seluruh aspek kehidupan, mendorong para tokoh Persis untuk terlibat aktif dalam perjuangan melawan penjajahan.
Puncak dari komitmen Persis dalam mencetak kader pejuang terjadi pada bulan Maret 1936, ketika didirikan Pesantren Persis pertama di Bandung, yang kemudian dikenal dengan Pesantren Pajagalan. Pendirian pesantren ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan para ulama terhadap kondisi umat Islam yang terpecah antara mereka yang mengenyam pendidikan Belanda dan mengalami sekulerisasi, dengan mereka yang belajar di pesantren tradisional namun terjebak dalam praktik-praktik yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Pesantren Persis hadir sebagai jawaban untuk mencetak kader-kader yang tidak hanya paham agama dengan benar, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan semangat perjuangan.
A. Hassan: Pendiri dan Tokoh Sentral
Di balik berdirinya Pesantren Persis, terdapat sosok sentral bernama Ahmad Hassan– ulama kelahiran Singapura pada tahun 1887 ini adalah tokoh utama yang memberikan bentuk dan karakter bagi Pesantren Persis. Ahmad Hassan bukan hanya guru utama dan kepala pesantren, tetapi juga arsitek ideologis yang menanamkan semangat juang kepada para santri. Metode dakwahnya yang khas—melalui debat terbuka dan tulisan-tulisan tajam di majalah seperti Pembela Islam dan Al-Lisan—menjadi identitas yang melekat pada Persis hingga kini. Para santri dididik untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga berpikir kritis, berani berargumentasi, dan membela kebenaran dengan ilmu.
Pesantren Persis didirikan dalam dua jenjang: Pesantren Kecil untuk anak-anak dengan 100 murid, dan Pesantren Besar untuk remaja yang bertujuan membentuk kader mubalig, pengajar, dan pembela Islam. Pada awal pendiriannya, Pesantren Besar menampung 40 santri yang berasal dari berbagai kepulauan Indonesia. Mereka mendapat pengajaran dari para tokoh Persis seperti Ahmad Hassan, E. Abdul Kadir, dan tidak lain adalah Mohammad Natsir—tokoh yang kelak menjadi Perdana Menteri Indonesia dan salah satu arsitek perjuangan diplomasi kemerdekaan. Kehadiran Natsir sebagai penasehat dan guru di pesantren ini menjadi bukti bahwa Pesantren Persis adalah laboratorium bagi lahirnya pemimpin-pemimpin besar bangsa.
Dari Bandung ke Bangil
Pada tahun 1940, Pesantren Persis pindah dari Bandung ke Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, diikuti oleh 25 santri yang masih menempuh pendidikan. Perpindahan ini bukanlah kemunduran, melainkan perluasan. Di Bangil, Ahmad Hassan mendirikan Pesantren Persis Putri pada tahun 1941– langkah maju dalam pemberdayaan perempuan di bidang dakwah dan pendidikan. Ketika Perang Pasifik meletus dan Jepang mulai masuk ke Jawa pada tahun 1942, banyak santri yang pulang ke daerah masing-masing–namun, benih-benih perjuangan yang ditanam di pesantren telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.
Ciri khas Pesantren PERSIS
Apa yang membuat Pesantren Persis begitu efektif dalam melahirkan pejuang? Jawabannya terletak pada kurikulum yang mengintegrasikan ilmu agama dan pemikiran kritis. Di pesantren ini, santri tidak hanya mempelajari kitab-kitab klasik, tetapi juga diajak untuk berdialog dan berdebat tentang berbagai persoalan keislaman dan kebangsaan. Metode mujadalah (debat) yang dikembangkan oleh Ahmad Hassan menjadi ciri khas yang membentuk santri menjadi pribadi yang berani, cerdas, dan tidak mudah terprovokasi. Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, keberanian intelektual ini menjadi senjata yang tak kalah ampuh dari senjata fisik.
Komitmen Kebangsaan
Para tokoh Persis juga menunjukkan komitmen politik yang kuat dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, Persis bersama Muhammadiyah dan NU menjadi anggota istimewa Partai Masyumi, yang menjadi kendaraan perjuangan Islam di panggung politik nasional. Mohammad Natsir, tokoh Persis yang paling dikenal, bahkan menjabat sebagai Perdana Menteri RI pada masa Kabinet Natsir (1950-1951). Tokoh lainnya seperti Isa Anshari juga menjadi pemimpin Masyumi dan aktif dalam perjuangan diplomasi. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa santri dan alumni Pesantren Persis tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga di meja perundingan dan dalam pemerintahan.
Hal yang tidak kalah penting adalah peran Pesantren Persis dalam menanamkan kesadaran bahwa menuntut ilmu adalah bentuk jihad melawan penjajahan–seperti yang ditegaskan para pendiri Pesantren Persis– ilmu adalah senjata utama dalam melawan penjajahan, baik penjajahan budaya yang mereduksi ajaran agama maupun penjajahan fisik yang merenggut kemerdekaan. Para santri dididik untuk menjadi manusia yang rasional, kritis, dan berani menyuarakan kebenaran. Sikap ini tercermin dalam penolakan Persis terhadap komunisme melalui Manifesto Politik 1957, yang menegaskan bahwa teori dan praktik komunis bertentangan dengan ajaran agama dan Pancasila.
Kini– warisan perjuangan Pesantren Persis terus hidup melalui ratusan pesantren Persis yang tersebar di seluruh Indonesia—78 pesantren pada tahun 1980 dan terus berkembang hingga mencapai 230 lembaga pendidikan berbasis pesantren saat ini. Ribuan alumni yang tersebar di berbagai bidang profesi terus mengabdikan diri untuk umat dan bangsa. Mereka adalah bukti bahwa semangat perjuangan yang ditanamkan oleh Ahmad Hassan, M. Natsir, dan para pendiri lainnya tidak pernah padam.
Maka, di balik peringatan Hari Santri dan Hari Kemerdekaan– mari kita kenang jasa Pesantren Persis yang telah melahirkan para pejuang kemerdekaan—pejuang yang tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga mengangkat pena dan pikiran untuk membangun kesadaran kebangsaan. Dari ruang kelas di Bandung dan Bangil, semangat jihad mereka menyebar ke seluruh Nusantara, menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan Indonesia. Dirgahayu para pejuang dari Pesantren Persis! Semangat kalian adalah lentera bagi generasi penerus bangsa. Wallahua’lambisgawab.
*Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidaytullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
