Sehat Mana, Minum Kopi atau Teh– atau Keduanya?

Dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya. Anggota CoE CBSA (Community-Based Sustainable Agroindustry) (Foto: Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat)

Oleh: Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat*

Kopi atau pun teh dianggap sebagai minuman yang menyehatkan—meskipun ada juga yang mengatakan tidak baik minum keduanya. Pecinta kopi menyebut kopi baik dikonsumsi karena dapat menambah semangat– sementara penikmat teh mengatakan teh membuat hidup jadi tenang. Bagaimana dengan anda? Atau anda malah minum keduanya?

Kita sering kali merasa harus memilih salah satu kubu—apakah Anda seorang  coffee person  atau  tea person? Namun, narasi sains terbaru menawarkan perspektif yang jauh lebih menarik: Anda tidak perlu memilih. Data menunjukkan bahwa kombinasi cerdas dari kedua minuman ini justru menciptakan sinergi kesehatan yang tidak bisa didapatkan jika hanya mengonsumsi salah satunya– dengan memahami rasio yang tepat– ritual pagi Anda bisa menjadi kunci utama untuk melindungi otak dan memperpanjang usia.

Dosis aman konsumsi kopi dan teh

Penelitian berskala besar dari UK Biobank yang melibatkan hampir setengah juta partisipan telah memetakan apa yang disebut sebagai  Sweet Spot atau dosis ideal konsumsi harian. Berdasarkan studi yang dipimpin oleh  Chen et al. (2022)–hubungan antara konsumsi minuman ini dengan risiko kematian tidak bersifat linear– melainkan membentuk pola kurva yang unik- – untuk kopi, ditemukan hubungan  J-shaped —  sedangkan teh menunjukkan pola  reverse J-shapedatau kebalikannya.

Bagi orang awam, ini adalah informasi krusial: artinya, ada dosis optimal di mana manfaat kesehatan berada di titik tertinggi. Jika Anda mengonsumsi terlalu sedikit, Anda kehilangan perlindungan maksimal– namun jika berlebihan, manfaat tersebut justru bisa memudar atau bahkan berbalik menjadi risiko.

Tim peneliti dari Tianjin Medical University  menyimpulkan bahwa titik keseimbangan terendah untuk risiko kematian ditemukan pada konsumsi sekitar  1 cangkir kopi  atau  3 cangkir teh  per hari. Dalam batas moderasi inilah– tubuh mendapatkan perlindungan paling efektif terhadap risiko mortalitas.

Bagaimana jika mengkonsumsi keduanya?

Hal yang paling revolusioner dari temuan  Chen et al. (2022) — bagaimana kopi dan teh bekerja sebagai Power Couple. Saat digabungkan– keduanya memberikan proteksi yang lebih kuat bagi sistem kardiovaskular dan pernapasan. Data menunjukkan bahwa kombinasi  <1–2 cangkir kopi dan 2–4 cangkir teh per hari  dikaitkan dengan: 22 persen  lebih rendah  — risiko kematian secara keseluruhan ( all-cause mortality ). 24 persen  lebih rendah  — risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular (CVD). 31 persen  lebih rendah  — risiko kematian akibat penyakit pernapasan.

Sinergi ini terjadi karena tumpang tindih senyawa bioaktif seperti  kafein  dan  asam klorogenat  yang memperbaiki  fungsi endotel  (lapisan pembuluh darah) dan meningkatkan  sensitivitas insulin. Secara biologis, kafein bekerja memblokir  reseptor adenosin A1–  yang membantu mengatur ritme jantung dan metabolisme. Menariknya, bagi perokok, metabolisme kafein justru terstimulasi sehingga pembersihan kafein dalam darah terjadi lebih cepat (sebuah nuansa metabolisme yang menjelaskan mengapa toleransi kafein tiap individu bisa sangat berbeda).

Teh Hijau dan Kopi

Pernahkah Anda merasa gelisah atau  jittery  setelah minum kopi? Teh hijau adalah penawarnya. Keunikan teh hijau terletak pada asam amino  L-theanine  yang bekerja harmonis dengan kafein untuk menciptakan kondisi Kewaspadaan yang Tenang (Relaxed Alertness)– secara neurofisiologis, kombinasi ini meninggalkan “tanda tangan” nyata pada aktivitas otak.  L-theanine  meningkatkan  gelombang alfa  dan memperkuat komponen  P300  pada otak, yang merupakan indikator peningkatan atensi dan memori kerja. Studi menunjukkan bahwa duet kafein + L-theanine meningkatkan akurasi fokus jauh lebih baik daripada kafein sendirian, sambil secara bersamaan menekan efek samping kecemasan.

Teh dan Alzheimer

Dalam hal perlindungan jangka panjang terhadap “pencuri memori” seperti Alzheimer dan Parkinson–  sains menemukan adanya perbedaan respons yang menarik berdasarkan gender. Senyawa bioaktif dalam teh, terutama polifenol dan flavonoid, bekerja meningkatkan aliran darah ke otak dan menjaga elastisitas sinapsis. “Senyawa dalam teh, seperti  EGCG (Epigallocatechin-3-gallate)–  terbukti mampu menghambat pembentukan dan akumulasi  plak beta-amiloid (protein beracun yang menjadi ciri khas penyakit Alzheimer) sekaligus meredam peradangan saraf.”

Menariknya, konsumsi teh  memiliki kaitan yang lebih kuat dengan pelambatan penurunan kognitif pada  wanita , sementara  kopi  ditemukan lebih efektif dalam memberikan perlindungan serupa bagi  pria. Ini mempertegas bahwa profil bioaktif yang berbeda dalam setiap minuman memberikan manfaat proteksi saraf yang spesifik bagi fisiologi masing-masing gender.

Kopi pada Wanita

Kopi dan teh bukan hanya tentang performa fisik, tetapi juga kesejahteraan emosional– keduanya merupakan modulator neurotransmitter yang kuat, mempengaruhi sistem  dopamin  dan  serotonin  di otak. Penelitian sistematis mengungkapkan bahwa asupan kafein yang terlalu rendah, terutama pada wanita, justru dikaitkan dengan tingkat gejala depresi yang lebih tinggi– dengan konsumsi yang moderat, minuman ini bukan sekadar alat untuk tetap terjaga, melainkan instrumen untuk menjaga regulasi suasana hati dan menurunkan risiko gangguan mental jangka panjang.

Kopi dan Teh Mengganggu Pencernaan?

Salah satu temuan yang paling berlawanan dengan intuisi muncul dari kesehatan pencernaan. Jika untuk kesehatan jantung kita disarankan untuk moderat, perlindungan terhadap risiko kematian akibat penyakit sistem pencernaan justru mencapai puncaknya pada dosis teh yang lebih tinggi. Risiko terendah ditemukan pada kombinasi  <1–2 cangkir kopi dan ≥5 cangkir teh per hari— dengan penurunan risiko kematian yang sangat signifikan sebesar  58 persen  (HR 0.42) . Para ahli meyakini hal ini berkaitan dengan kemampuan bahan aktif dalam kopi dan teh untuk meningkatkan sekresi asam empedu dan memperbaiki komposisi  mikrobiota usus– yang secara langsung memperkuat benteng pertahanan saluran cerna kita.

Studi UK Biobank  ini– merupakan penelitian skala besar pertama yang secara spesifik melihat dampak kombinasi kopi dan teh terhadap kelangsungan hidup manusia. Pesan sains bagi kita sangat jelas: moderasi adalah kunci, dan diversifikasi adalah strategi terbaik.  Meskipun faktor genetik dan kecepatan metabolisme kafein tiap individu tetap berperan, mengintegrasikan ritual minum kopi pagi dengan beberapa cangkir teh di sore hari adalah langkah praktis yang didukung oleh data untuk mendukung kesehatan jantung, otak, dan pencernaan.

Jadi, setelah menikmati aroma kopi yang membangkitkan semangat pagi ini, apakah Anda akan menyeduh secangkir teh hijau untuk menemani fokus Anda siang nanti?  Langkah kecil ini mungkin adalah investasi kesehatan paling nikmat yang bisa Anda berikan untuk diri Anda di masa depan.

(Sumber: Chen et al. BMC Medicine (2022) 20:449. https://doi.org/10.1186/s12916-022-02636-2. Ikar and Sable.  Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry (2023) 12(2): 209-221.  https://doi.org/10.22271/phyto.2023.v12.i2c.14660)

*Dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya. Anggota CoE CBSA (Community-Based Sustainable Agroindustry)

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *