Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Oleh: Anwar R. Soediro*
Kisah Adam dalam Perspektif Sains Moderen
Sudut pandang alternative yang dikenal dalam wacana moderen adalah keselarasan kisah Adam versi Islam dengan sains moderen. Tokohnya antara lain Nidhal Guessoum— seorang fisikawan dan pemikir Muslim kontemporer asal Aljazair, dikenal luas karena upayanya merekonsiliasi teks-teks Islam dengan sains modern.
Dalam karyanya yang terkenal, Islam’s Quantum Question, Guessoum menawarkan perspektif Evolutionary Creationism (Kreasionisme Evolusioner) terkait kisah penciptaan Nabi Adam. Garis besar, pemikiran Guessoum mengenai kisah Adam berfokus pada poin-poin berikut: Menerima Evolusi Biologis sebagai Fakta– Guessoum memandang bahwa teori evolusi (baik mikro maupun makro) adalah fakta ilmiah yang didukung kuat oleh bukti-bukti nyata, dan manusia tidak terkecuali dari proses ini. Dia menolak pandangan kreasionisme literal yaitu penciptaan Adam secara mendadak dari tanah liatd tanpa melalui proses evolusi.
Kisah Adam Dicipta dari Tanah: adalah benar secara ilmiah karena tubuh manusia secara kimiawi tersusun dari unsur tanah: C, H, O, N, dll– yang artinya Tanah merupakan unsur biokimia. Ayat-ayat Al-Qur’an tentang penciptaan Adam dari tanah liat (dust/clay) adalah metafora yang bermakna asal-usul materi manusia, bukan metode penciptaan instan.
Isthifa’ (Pemilihan Divine): Menurut Guessoum, tubuh fisik Adam dan manusia purba berevolusi secara bertahap melalui hukum alam yang ditetapkan Tuhan dari spesies Homo sapiens awal. Di antara populasi tersebut, Tuhan memilih (isthifa’) pasangan tertentu (lelaki dan perempuan).
Ruh sebagai Titik Awal Manusia Spiritual: Proses krusial yang menjadikan Adam sebagai Manusia Pertama (bukan sekadar makhluk biologis) adalah saat Tuhan meniupkan ruh-Nya. Peniupan ruh ini memberikan Adam kesadaran spiritual, kemampuan moral, akal budi tinggi, serta bahasa tingkat tinggi (God-conscious/spiritual creature).
Saat kemudian Ditiupkan Ruh –pada fase ini merupakan titik pembeda; Dimana pada fase ini merupakan satu titik evolusi, Allah memilih sepasang Homo sapiens dan meniupkan “ruh”, “akal”, “kesadaran moral”, taklif– maka disitulah titik lahir spesies “Adam”. Kisah taman/surga tempat Adam tinggal sebelum turun ke bumi ditafsirkan oleh sebagian pemikir sealiran sebagai metafora dari fase awal perkembangan kesadaran dan spiritualitas manusia di bumi.
Bagi Pelanggaran Hukum Alam (Mukjizat Literal): Guessoum, mukjizat atau penciptaan tidak harus dipahami sebagai “pelanggaran terhadap hukum alam”. Sebaliknya, evolusi adalah cara kerja atau skenario besar (grand design) Allah di alam semesta ini.
Guessoum menempatkan Nabi Adam sebagai manusia pertama yang menerima amanah spiritual dan kesadaran moral (humanitas), sementara bentuk biologisnya diturunkan dari garis evolusi makhluk hidup sebelumnya. Al-Qur’an secara fundamental tidak bertentangan dengan teori evolusi. Nidhal Guessoum berpendapat bahwa kesalahan sebagian besar umat Islam adalah membaca ayat-ayat penciptaan secara literal-reduksionis.
Dalam bukunya Islam’s Quantum Question– Guessoum membagi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan evolusi ke dalam beberapa konsep dan kategori metodologis utama yakni: Ayat tentang “Proses Gradual” (Penciptaan Bertahap); Guessoum menekankan bahwa Al-Qur’an sering kali menyebutkan penciptaan makhluk hidup melalui tahapan waktu yang panjang, bukan terjadi secara instan atau dalam waktu 24 jam. Padahal QS. Nuh ayat 14 “Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan/tahapan (Atwarra).” Menurutnya, kata Atwar secara linguistik mengindikasikan adanya fase-fase transisi atau transformasi biologis yang dilewati manusia sebelum mencapai bentuknya yang sekarang.
QS. Al-Sajdah ayat 7 “…dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Penggunaan kata “memulai” (bada’a) menunjukkan bahwa penciptaan dari tanah adalah titik awal (starting point)– yang kemudian diikuti oleh proses panjang, bukan hasil akhir yang langsung jadi.
Evolusi Biologis; Ayat-Ayat tentang “Asal-usul Kehidupan berasal dari Air” (Evolusi Biologis). Sains moderen sepakat bahwa seluruh kehidupan di bumi berevolusi dari organisme air. Guessoum merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an yang selaras dengan prinsip evlosi biologis dari air. QS. Al-Anbiya ayat 30, “…dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” QS. An-Nur: 45 – “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air…”
Bagi Guessoum, ayat-ayat ini menegaskan bahwa air adalah media materi utama tempat proses evolusi biologi bermula dan berkembang atas kehendak Allah. Al-Qur’an memberi “Perintah Meneliti Sejarah Bumi” Guessoum berargumen bahwa Al-Qur’an sendiri menyuruh manusia untuk mencari bukti empiris tentang bagaimana Allah memulai penciptaan di bumi. QS. Al-Ankabut ayat 20. “Katakanlah: Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya…” Bagi seorang ilmuwan Muslim– ayat ini adalah mandat keagamaan untuk mempelajari paleontologi, geologi, dan genetika guna memahami sejarah pohon kekerabatan makhluk hidup (evolusi).
Hermeneutika “Penafsiran Berlapis” (Multi-layered Interpretation) ditawarkan Guessoum; Untuk menyelaraskan ayat-ayat tersebut dengan sains modern tanpa jatuh pada klaim “cocoklogi” yang dangkal artinya:
a. Al-Qur’an bersifat adaptif: Al-Qur’an diturunkan pada abad ke-7 dengan bahasa yang dipahami masyarakat Arab saat itu (misal: “penciptaan dari tanah liat”) agar pesan moral dan spiritualnya sampai.
b. Sains Berkelanjutan: Ketika sains berkembang dan menemukan mekanisme evolusi, umat Islam harus membuka ruang interpretasi metaforis (makna batin/filosofis) bahwa tanah adalah simbol unsur kimia bumi, dan tahapan adalah mekanisme seleksi alam serta evolusi teistik yang digerakkan oleh hukum Allah (Sunnatullah).
Konsep ini menegaskan bahwa evolusi bukanlah ancaman bagi iman, melainkan skenario keagungan Allah dalam merancang kehidupan yang terekam secara implisit di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
