Oleh: Toto Izul Fatah*
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Dennya JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Ada satu kekuatan besar yang sering kita cari jauh-jauh, padahal tempatnya sangat dekat– ada dalam hati kita sendiri. Kekuatan itu bernama ikhlas. Ikhlas memang mudah diucapkan– tetapi termasuk ilmu kehidupan yang paling sulit dipraktikkan. Kita mudah mengatakan, “Saya ikhlas,” ketika kenyataan sesuai dengan harapan– tetapi keikhlasan yang sesungguhnya justru diuji ketika yang datang adalah sesuatu yang tidak kita inginkan.
Sebut saja, kehilangan, kegagalan, sakit, kekecewaan, pengkhianatan dan kesulitan ekonomi– atau, pada saat doa belum terwujud sebagaimana yang diharapkan. Di situlah sebenarnya the power of ikhlas bekerja. Ikhlas bukan berarti menyerah kalah– bukan pula pasrah tanpa usaha.
Ikhlas adalah kemampuan spiritual untuk melakukan ikhtiar sebaik mungkin, tetapi menerima bahwa keputusan terakhir bukan berada di tangan manusia. Kita berusaha.Tuhan menentukan. Kita merencanakan. Tuhan yang mengetahui akhirnya– karena itulah, menurut saya, ikhlas sangat dekat dengan syukur, sabar, tawakal dan ridha.
Orang yang benar-benar ikhlas bukan orang yang kehilangan keinginan untuk maju. Justru berjuang tanpa harus menghancurkan dirinya — ketika hasilnya berbeda dari harapan. Ikhlas adalah bentuk lain dari rasa syukur. Dalam kehidupan, syukur sering dipahami hanya ketika kita memperoleh sesuatu yang menyenangkan. Mendapat rezeki lalu bersyukur. Mendapat jabatan lalu bersyukur. Sembuh dari penyakit lalu bersyukur.
Padahal tingkatan syukur yang lebih tinggi adalah kemampuan tetap melihat kasih sayang Tuhan bahkan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai kehendak kita. Artinya, syukur bukan semata-mata reaksi setelah memperoleh kenikmatan. Orang yang bersyukur memandang apa yang dimilikinya sebelum mengeluhkan apa yang belum dimilikinya. Orang yang ikhlas menerima apa yang tidak bisa diubah, sembari terus memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.
Lebih dalam lagi– Al-Qur’an mengingatkan bahwa pengetahuan manusia mengenai baik dan buruknya peristiwa sangat terbatas. “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak.” (QS Al-Baqarah: 216).
Berapa banyak kegagalan yang beberapa tahun kemudian justru kita syukuri? Berapa banyak jalan yang tertutup ternyata menyelamatkan kita dari masalah yang jauh lebih besar? Berapa banyak perpisahan yang dahulu kita tangisi tetapi kemudian kita sadar bahwa Tuhan sedang membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik?
Al-Qur’an juga mengatakan: “Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS At-Taghabun: 11). Meski begitu, bukan berarti orang beriman tidak sedih. Bukan berarti orang ikhlas tidak boleh menangis. Rasulullah SAW menangis ketika kehilangan orang-orang yang beliau cintai– tetapi ada perbedaan besar antara kesedihan yang diterima dengan kesedihan yang dilawan oleh hati secara terus menerus– yang pertama perlahan-lahan menjadi ketenangan– yang kedua bisa berubah menjadi kemarahan, dendam, kecemasan dan stres berkepanjangan –karena itulah Al-Qur’an memberi resep spiritual yang sangat terkenal: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28).
Jauh sebelum manusia modern mengenal istilah stress management, mindfulness, positive psychology, dan emotional regulation, agama telah mengajarkan manusia bagaimana menenangkan hati. Salah satunya, lewat dzikrullah, bersyukur, bersabar, bertawakal dan menerima apapun keputusan Tuhan. Senang tidak membuatnya lupa diri. Susah tidak membuatnya kehilangan harapan. Menang tidak membuatnya sombong. Kalah tidak membuatnya hancur– karena itu, orang ikhlas tidak terlalu tersiksa oleh penilaian manusia. Kalau manusia memuji, ia bersyukur. Kalau manusia mencaci, dia melakukan introspeksi–tetapi keduanya tidak boleh mengambil alih pusat kendali hatinya. Disinilah ikhlas ternyata relevan dengan Kesehatan– yang menarik, apa yang selama berabad-abad diajarkan dalam tradisi spiritual kini mempunyai titik temu dengan ilmu kesehatan modern. Misalnya, ilmu kedokteran semakin jelas menunjukkan bahwa stres kronis bukan masalah sepele. American Heart Association menjelaskan bahwa stres berkepanjangan membuat tubuh terus berada dalam keadaan siaga.
Kondisi ini berhubungan dengan peningkatan hormon stres, gangguan tidur, tekanan darah tinggi, inflamasi, dan perilaku tidak sehat yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Ketika manusia mengalami stres, tubuh mengaktifkan mekanisme fight or flight. Adrenalin meningkat, denyut jantung bertambah cepat dan tekanan darah naik. Penelitian juga menunjukkan hubungan antara tingginya hormon stres dengan risiko hipertensi serta kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Jadi, ungkapan bahwa hati yang terus gelisah bisa mempengaruhi kesehatan tubuh bukan sekadar bahasa spiritual. Ada mekanisme biologis yang masuk akal di baliknya. Sebuah penelitian juga menunjukkan hubungan yang konsisten antara kondisi psikologis yang positif dan kesehatan jantung yang lebih baik.
Di sinilah saya melihat jembatan menarik antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Ilmu kedokteran menyebutnya pengelolaan stres, kesehatan psikologis, dan kesejahteraan mental. Lalu agama mengajarkan sabar, syukur, tawakal, husnuzan dan ikhlas.
Bahasanya berbeda, tetapi pada titik tertentu keduanya bertemu pada satu pesan: jangan biarkan pikiran dan hati terus-menerus hidup dalam keadaan perang. Sehingga, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak mempunyai garis finis. Sudah punya rumah ingin rumah lebih besar. Sudah punya mobil ingin mobil lebih mahal dan seterusnya.
Keinginan sebenarnya manusiawi. Ambisi juga tidak selalu salah– yang menjadi masalah adalah ketika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada terpenuhi atau tidaknya seluruh keinginan tersebut. Disitulah, hati dituntut untuk berdamai dengan kenyataan. Disitulah kekuatan ikhlas berperan– dan disitulah ikhlas bekerja. Salah satu inti the power of ikhlas adalah husnuzan kepada Allah, berbaik sangka kepada Tuhan.
Ketika doa belum terkabul, kita percaya mungkin waktunya belum tiba. Ketika kehilangan sesuatu, mungkin Tuhan sedang menyelamatkan kita. Ketika rencana gagal, mungkin Tuhan punya maksud lain– namun ingat, ikhlas bukan berarti kalah. Orang ikhlas tetap berobat ketika sakit. Tetap bekerja ketika miskin. Tetap mencari keadilan ketika dizalimi. Tetap belajar ketika gagal. Setelah seluruh ikhtiar dilakukan, dia tidak memaksa Tuhan mengikuti seluruh kehendaknya.
Ada wilayah usaha manusia. Ada wilayah keputusan Tuhan. Ketika manusia mampu membedakan keduanya, beban hidup menjadi jauh lebih ringan. Itulah Mukjizat hati yang berdamai.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Dennya JA
Editor: Jufri Alkatiri
