Jokowi dan Telinga Keledai Raja Midas

Oleh: Helmi Hidayat, M.Si

Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta(Foto adalah hasil rekayasa Meta AI)

Apa hubungan Jokowi dengan Raja Midas? Bagaimana pula cerita telinga raja ini jadi telinga keledai? Mari terbang ke Phrygia– tempat Raja Midas berkuasa jauh sebelum era Masehi. Meski kisah Raja Midas populer di Yunani dan Romawi, raja kaya-raya ini tidak bertahta di kedua negara itu, melainkan di Anatolia (kini Turki moderen). 

Suatu hari Silenus– dewa tua, gendut, tetapi bijak, tersesat di kebun anggur milik Raja Midas. Silenus adalah guru dewa anggur bernama Bacchus (versi sastrawan Romawi Ovidius) atau bernama Dionysus versi Yunani. Raja Midas tidak segera menuduh Silenus sebagai pencuri apalagi menghukumnya, tetapi malah menjamunya 10 hari 10 malam dalam satu meriah.

Dewa Bacchus tentu saja senang gurunya diperlakukan terhormat. Sebagai hadiah, dia berjanji akan mengabulkan satu saja permintaan Midas.  Sebagai raja yang serakah dan haus kekuasaan, Midas lalu minta agar tangannya jadi sakti: semua yang dia sentuh berubah jadi emas. Bacchus kaget bukan main. Dia tidak menyangka Midas sedemikian serakah–tetapi, janji harus dikabulkan.

Sehari pertama tangan Midas jadi sakti– sang raja adalah orang paling bahagia sedunia. Ranting dia pegang jadi emas, batu dia genggam jadi emas, tembok istana dia sentuh jadi emas! –tetapi, bersama bahagia selalu ada derita, di samping surga selalu ada neraka. Saat makan malam, Midas lupa tangannya sekarang sakti. Roti yang dia sentuh jadi emas, keju dalam genggamannya jadi emas, air anggur jadi emas. Bahkan putrinya yang bernama Zoe, yang berlari memeluknya, seketika jadi patung emas, dingin tidak bergerak.

Midas kaget, menjerit, lalu pingsan. Dewa Bacchus iba lalu langsung turun dari langit. ‘’Kamu lupa Midas, tidak semua anggota keluargamu sebenarnya siap dengan keserakahanmu,’’ tutur Bacchus.  Sang dewa kemudian menyuruh Midas pergi ke sumber sungai Pactolus untuk mandi tobat dan mencuci keserakahannya. Midas segera mandi di Pactolus, lalu kesaktiannya luntur. Kekuatan emas dari tangannya melebur ke Sungai, menciptakan mitos bahwa pasir sungai Pactolus mengandung butiran emas.

Raja Midas pun tobat lalu meninggalkan istana. Dia menuju hutan untuk hidup menjadi pandito, menjadi pengikut dewa Pan yang bersatu dengan keasrian alam.  Hidup nyaman di hutan, suatu hari Midas menyaksikan lomba musik antara Dewa Apollo yang memainkan lira (alat musik dewa yang melambangkan rasionalisme) melawan Dewa Pan yang memainkan musik dengan suling terbuat dari rumput ilalang (mencerminkan tradisionalisme). Juri lomba ini adalah Tmolus, dewa gunung. Tentu saja Tmolus memilih Apollo sebagai juara! — tetapi Midas, yang masih trauma dengan kehidupan istana yang glamor penuh musik hura-hura, berteriak di antara para penonton: “Wah, tidak adil! Musik Apollo biasa saja, musik Pan lebih syahdu menyatu dengan alam!”

Dewa Apollo menoleh dengan gusar ke arah Midas. Bagi Apollo, telinga yang tidak bisa membedakan antara musik dewa dengan musik keledai berarti bukan telinga manusia. Maka, dia pun berbisik kepada Midas: “Kalau begitu, biarlah kau punya telinga yang cocok dengan selera rendahmu.” Seketika itu juga telinga Midas memanjang, berbulu abu-abu, bergerak-gerak – ah, telinga keledai! Midas panik. Dia tidak bisa lagi tampil di depan publik dengan telinga keledai di kepalanya. Dia kembali ke istana lalu memerintahkan pelayannya membuat topi Phrygia yang tinggi untuk menutupi telinganya — topi merah itu sekarang bisa Anda lihat di kepala patung Liberty di New York, Amerka Serikat!

Mulai sekarang, semua rakyat Phrygia dilarang melihat kepalanya-tetapi Midas butuh seorang tukang cukur untuk memangkas rambutnya. Ovidius tidak pernah mencatat nama tukang cukur ini, kecuali therapon alias pelayan. Dia memerankan tokoh kunci sebab Midas melibatkannya dalam sumpah: ‘’ Kalau kau bocorkan kepada orang lain, kau pasti mati!”

Si therapon stres. Rahasia itu mengganjal di perutnya seperti penyakit yang harus dibasmi. Jika tidak bercerita kepada orang lain, dia selamat tapi stress– tetapi, jika bercerita kepada orang lain, mampuslah dia.  Sebagai jalan keluar, diam-diam si ‘’therepon’’ pergi ke satu padang yang luas lalu menggali lubang lumayan dalam. Kepada lubang itu dia berbisik — Midas rex habet aures asini — Midas punya telinga keledai.

Setelah merasa plooong, dia tutup lubang itu rapat-rapat–tetapi di musim penghujan, di atas lubang itu ternyata tumbuh rumput ilalang. Ketika angin bertiup, rumput-rumput ilalang itu saling bergesekan dan mengeluarkan suara berbisik, persis seperti bisikan tukang cukur tadi. Para gembala yang lewat mendengar: “Midas, telinganya telinga keledai…”

Para gembala bercerita kepada pedagang, pedagang bercerita kepada pembeli di pasar, dan akhirnya seluruh rakyat Phrygia tahu di balik topi Midas tersimpan telinga keledai. Itulah akhir tragis cerita Raja Midas. Kisahnya populer di Romawi sebab Publius Ovidius Naso– penyair yang mengabadikan kisah ini dalam bukunya  Metamorphoses  hidup antara 43 SM – 17/18 M di zaman Kaisar Augustus di Roma.

Kisah-kisah mitologi yang beredar baik di Yunani maupun Romawi kuno tidak mati-mati. Anda semua bebas menghidupkan kembali kisah-kisah itu dengan tafsir kekinian yang kontekstual dan mengaitkannya dengan kisah moderen yang aktual saat ini.  Jika Anda cermati, banyak kejadian di era moderen seperti mengulang kisah-kisah kuno itu. Misalnya sebagian kisah Raja Midas ternyata mirip dengan kisah Jokowi dan kekuasaan yang melatarbelakanginya.

Jokowi memang tidak minta tangan sakti seperti Midas memintanya kepada Bacchus, tetapi ambisinya agar anaknya jadi wakil presiden seolah menghadirikan kembali kisah haus kekuasaan Raja Midas. Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang meloloskan Gibran jadi calon presiden tidak ubahnya kesaktian Raja Midas yang mampu mengubah semuanya jadi emas. Jika Putusan MK itu normal alias ‘’tidak sakti’’, tidak mungkin MK menggelar Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK)!

Secara hukum Gibran pada akhirnya memang lolos jadi cawapres dan kini menjabat wakil presiden, tetapi publik di Indonesia terus meramaikannya dengan isu kepemilikan ijazah, pemakzulan, juga kegamangannya tampil di depan publik. Sifat, karakter dan nasib politik Gibran saat ini bisa dianalogikan dengan Zoe– anak Midas yang berubah jadi emas yang dingin tidak bergerak sesaat setelah disentuh bapaknya yang ambisius dan haus kekuasaan! Mari hidupkan kembali peringatan Bacchus kepada Midas: ‘’Kamu lupa Midas, tidak semua anggota keluargamu sebenarnya siap dengan keserakahanmu!’’

Kisah telinga keledai Midas hampir persis sama dengan analogi ijazah Jokowi yang diduga palsu. Jika saja Raja Midas mau membuka diri dengan mendengarkan musik Dewa Apollo (lambang rasionalitas), tidak nantinya dia jadi punya telinga keledai.

Dalam analogi di kehidupan modern, semakin Jokowi tidak mau menampilkan ijazahnya, semakin kuat ‘’rumput-rumput ilalang’’ (masyarakat akar rumput) bercerita yang bukan-bukan tentang ijazah itu, baik di warung kopi maupun di jejaring medsos.

Pelajaran penting dari kisah Raja Midas adalah ‘’tidak ada rahasia yang bisa dikubur jika fakta-faktanya demikian telanang.’’ Hikmah inilah yang seharusnya diambil Jokowi dan para pendukungnya.  Benar, saat ini Polri yang konon dititipkan ijazah Jokowi tidak berani buka mulut sebab para oknum yang diberi amanat masih menjabat–tetapi, di balik seragam kepolisian, mereka adalah manusia-manusia normal yang punya moral dan rasionalitas.

Entah 10 atau 20 tahun dari sekarang, ketika sejarah Indonesia hendak ditulis ulang dan Jokowi serta para pendukungnya mungkin saja sudah tiada, sangat mungkin sebagian oknum polisi, pengacara, atau siapa pun yang masih hidup, tiba-tiba menjalankan peran rumput-rumput ilalang dalam kisah Raja Midas yang terus bernyanyi membuka kedok sang raja.

Jika saja Jokowi mau mendengarkan saran banyak pakar agar dia mau menampilkan ijazahnya kepada publik terutama di pengadilan – itu pun jika benar ijazahnya asli – tidak nantinya isu ijazah palsu itu beredar ke seluruh Indonesia, bahkan ke dunia internasional.

Selama Jokowi menolak menunjukkan ijazahnya, selama itu pula isu ijazah ini akan terus merebak liar tidak terkontrol, seperti nyanyian rumput-rumpul ilalang di padang luas yang selalu mengulang-ulang kalimat si tukang cukur ke dalam lubang dalam kisah Raja Midas. Saya cuma khawatir buku sejarah negeri saya, Indonesia, di kemudian hari tidak lagi didominasi narasi perjuangan, tetapi diganti dengan narasi rumput-rumput ilalang yang bernyanyi tentang ijazah yang hilang.

*Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website