Proyek Data Center Jatiluhur: Ujian KDM dalam Mencintai Alam

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan di Jatiluhur, Purwakarta— memang menjanjikan investasi dan lapangan kerja– namun, proyek dengan kapasitas pengembangan hingga 640 megawatt ini juga memunculkan pertanyaan mendasar. Berapa banyak air yang akan dibutuhkan? Dari mana pasokannya, dan siapa yang akan menanggung risikonya jika kebutuhan itu meningkat?

Angka yang disampaikan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi patut diperiksa secara terbuka. Pada tahap awal, kebutuhan air disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari. Saat pengembangan mencapai kapasitas penuh, kebutuhan itu diperkirakan dapat meningkat hingga 384 liter per detik, atau sekitar 33.000 meter kubik, 33 juta liter, per hari.

Proyek ini direncanakan tumbuh bertahap. Fasilitas pertama berkapasitas 120 MW– sementara kapasitas keseluruhan kampus data center dapat mencapai 640 MW. Perkiraan kebutuhan maksimum itu setara dengan sekitar 12,05 juta meter kubik air per tahun, jika digunakan setiap hari; sekitar 77 persen dari kapasitas 500 liter per detik yang direncanakan untuk SPAM Regional Jatiluhur—sekadar perbandingan skala, bukan berarti keduanya mengambil jatah air dari saluran yang sama.

Ada pula angka tahunan yang perlu diluruskan. Jika kebutuhan disebut 33.000 meter kubik per hari, hasil perkalian 365 hari adalah sekitar 12 juta meter kubik per tahun, bukan 356 juta. Angka 356 juta meter kubik per tahun muncul dalam salah satu pemberitaan yang mengutip penjelasan di lapangan, tetapi tidak cocok dengan hitungan harian tersebut– karena itu, pemerintah dan pengelola perlu menerbitkan angka resmi yang konsisten, lengkap dengan asumsi kapasitas dan metode pendinginannya.

Gubernur mengatakan air akan dibeli melalui PDAM, bukan diambil langsung oleh perusahaan dari waduk– namun jalur pasokan itu sendiri belum menjawab pertanyaan tentang dampaknya.  Jika air PDAM bersumber dari sistem Jatiluhur, kebutuhan tambahan tetap harus dihitung bersama kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, dan alokasi lain.

Waduk Jatiluhur berkapasitas tampung sekitar 3 miliar meter kubik dan menopang banyak fungsi, termasuk irigasi bagi sekitar 240.000 hektare sawah serta penyediaan air bersih– karena itu, angka kapasitas tampung waduk saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa pasokan aman; yang perlu diketahui ialah ketersediaan air pada musim kering, hak alokasi yang sudah ada, serta kebutuhan harian puncak proyek.

Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Di Uruguay, rencana pusat data Google pernah menuai protes ketika negara itu menghadapi kekeringan. Kasus itu mungkin tidak membuktikan bahwa Jatiluhur pasti akan mengalami dampak yang sama–namun keduanya mengingatkan bahwa teknologi pendingin, kondisi air setempat, dan keterbukaan kajian lingkungan menentukan besar kecilnya risiko– karena itu, pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu meninjau proyek ini secara serius dan terbuka.

Tinjauan itu sebaiknya mencakup dokumen AMDAL, neraca air pada tahap awal hingga kapasitas penuh, dampak pada pasokan PDAM dan irigasi, serta skenario musim kering. Publik juga perlu mengetahui berapa kebutuhan air harian puncak, berapa yang benar-benar dikonsumsi atau menguap, dan apakah air daur ulang atau teknologi pendingin dengan kebutuhan air lebih rendah dapat digunakan.  Proyek ini disebut akan memakai sistem direct-to-chip liquid cooling, tetapi rincian kebutuhan air aktual tetap perlu dibuka dan diverifikasi.

KDM selama ini dikenal luas karena kepeduliannya pada alam dan kedekatannya dengan warga. Reputasi itu memberi alasan kuat baginya untuk memastikan bahwa pembangunan teknologi tidak mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat dan kesehatan ekosistem. Proyek akan menjadi ujian berat buat KDM sebagai gubernur yang ramah terhadap alam– dan jangan sampai, citra KDM rontok karena menunjukan sikap yang sebaliknya terhadap alam.

 Investasi dan lapangan kerja memang penting bagi Jawa Barat–namun keberhasilan pembangunan tidak semestinya diukur dari nilai modal yang masuk saja. Dia juga harus dinilai dari apakah air tetap cukup bagi warga dan pertanian, serta apakah lingkungan tetap terjaga.  Jatiluhur bukan sekadar lokasi proyek; kawasan ini adalah penyangga kehidupan. Jangan sampai ambisi membangun pusat data berteknologi tinggi justru mengabaikan air yang menjadi kebutuhan paling mendasar.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website