Menyambut Gembira Kiamat: Sebagai Hari Kebangkitan dan Harapan

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Mendengar kata kiamat, banyak orang langsung membayangkan langit runtuh, bumi–  berguncang, gunung hancur, dan manusia berlarian dalam ketakutan. Kiamat kemudian hadir dalam kesadaran kita sebagai sesuatu yang mengerikan– namun, jika pemahaman kita berhenti pada kehancuran, ada pesan besar yang terlewat, karena kehidupan manusia tidak selesai ketika dunia berakhir. Ada kebangkitan, pertanggungjawaban, keadilan, dan harapan akan rahmat Allah.

Secara bahasa, kata kiamat berasal dari bahasa Arab, al-qiyāmah, yang berkaitan dengan berdiri atau bangkit.  Dalam konteks keimanan Islam, yawm al-qiyāmah berarti hari kebangkitan– yaitu, manusia dibangkitkan untuk menghadapi pengadilan Allah. Makna ini jauh lebih luas daripada gambaran kehancuran yang sering mendominasi percakapan kita.

Al-Qur’an menggambarkan kesinambungan itu dalam Surah Az-Zumar ayat 68. Sangkakala ditiup, lalu mereka yang berada di langit dan bumi mati, kecuali yang Allah kehendaki.  Setelah tiupan berikutnya, manusia bangkit dan menunggu. Artinya, berakhirnya kehidupan dunia disusul oleh kebangkitan. Kiamat merupakan akhir kehidupan dunia, tetapi bukan akhir dari seluruh keberadaan manusia.

Meskipun demikian, kita perlu jujur membaca seluruh pesan Al-Qur’an. Kiamat memang mengandung kedahsyatan yang nyata. Surah Al-Hajj ayat 1–2 menggambarkan guncangannya sebagai peristiwa yang sangat besar, sampai manusia kehilangan ketenangan– karena itu, rasa takut terhadap kiamat tidak selalu lahir dari pemahaman awam. Dapat tumbuh dari kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan– yang perlu diluruskan adalah ketika ketakutan tersebut menutup seluruh pintu harapan.

Mengajarkan kiamat hanya melalui gambaran kengerian dapat membuat orang lupa bahwa Allah juga menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan. Sebaliknya, menyebut kiamat sebagai kabar gembira bagi semua orang tanpa memperhatikan iman dan perbuatannya juga tidak sesuai dengan pesan wahyu. Ada peringatan bagi kezaliman, sekaligus pengharapan bagi mereka yang memperoleh rahmat-Nya.

Sisi pengharapan itu sangat kuat dalam Surah Al-Anbiya ayat 101–103. Allah menerangkan keadaan orang-orang yang telah dijanjikan kebaikan: mereka dijauhkan dari neraka, menikmati kebahagiaan, dan tidak dibuat bersedih oleh kedahsyatan terbesar.  Para Malaikat menyambut mereka dengan kabar bahwa inilah hari yang dahulu dijanjikan.

Jadi, di tengah pembicaraan tentang kiamat– Al-Qur’an menghadirkan sebuah penyambutan yang menenteramkan. Dalam pengertian inilah kiamat dapat menjadi kabar gembira. Bagi orang beriman yang berusaha hidup benar, ada harapan bahwa kesabaran, kejujuran, pengorbanan, dan kebaikannya tidak akan hilang.

Hari kiamat, dengan demikian, membawa kepastian bahwa pengadilan Allah tidak melupakan perkara yang luput dari pengadilan manusia. Di dunia, kita menyaksikan kenyataan yang sering menyakitkan. Ada orang jujur yang hidup sulit. Ada orang yang berbuat baik tetapi tidak mendapat penghargaan. Ada korban yang suaranya kalah oleh kekuasaan.

Dalam renungan keimanan, hari kiamat memberi alasan untuk tetap menjaga integritas, bahwa  kemenangan duniawi bukan ukuran terakhir dari benar dan salah– namun, keyakinan tersebut harus mendorong kita memperjuangkan keadilan sekarang. Orang yang percaya kepada pengadilan Allah semestinya semakin berhati-hati ketika memegang kekuasaan, mengelola uang, menyampaikan tuduhan, atau memperlakukan orang yang lemah.

Kesadaran tentang akhirat mempunyai akibat moral yang langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyambut kiamat? Rasulullah memberi arah yang sangat membumi. Ketika seseorang bertanya kapan kiamat terjadi, beliau mengalihkan perhatian kepada persiapan: apa yang sudah disiapkan untuk menghadapinya? Orang itu menyampaikan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu Nabi memberikan kabar bahwa ia akan bersama orang yang dicintainya.

Menyambut kehidupan akhirat berarti mengisi kehidupan sekarang dengan perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan– karena itu, menyambut kiamat dengan gembira dapat dipahami sebagai menumbuhkan harapan akan rahmat, kebangkitan, dan keadilan Allah.

Harapan itu berjalan bersama rasa takut yang menjaga kita dari kesombongan. Kita berharap diterima, sambil terus mengoreksi diri. Kita merindukan keselamatan, sambil mempersiapkan bekalnya. Maka, mari memahami kiamat dengan hati yang utuh. Kedahsyatannya menggugah kewaspadaan. Kebangkitannya meneguhkan bahwa kehidupan mempunyai kelanjutan. Keadilannya menjaga keberanian kita untuk berbuat benar. Janji rahmat-Nya memelihara harapan.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website