Mata Digital Abad Ini

Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*

Namanya diambil dari dunia fiksi, tetapi dampaknya terasa sangat nyata. Palantir— kata yang dipinjam dari batu pengintai dalam kisah The Lord of the Rings, alat milik Sauron untuk melihat jauh dan mengawasi siapa saja.  Metafora yang terlalu jujur untuk nama salah satu perusahaan. Tampaknya sejak awal memang tidak berniat menyembunyikan ambisinya: melihat segalanya, sebagaimana Anda menyaksikannya digugunakan Sauron.

Perusahaan ini lahir tahun 2003, didirikan oleh Peter Thiel —otak di balik PayPal— bersama Alex Karp, Joe Lonsdale, Stephen Cohen, dan Nathan Gettings. Nama “Pal” di Palantir bukan sekadar kebetulan linguistic– adalah jejak genetik.  PayPal adalah sekolahnya, tempat mereka belajar satu hal penting: data bisa mengungkap pola tersembunyi. Di PayPal, pola itu digunakan untuk mendeteksi penipuan. Di Palantir, pola itu ditingkatkan skalanya — dari penipu menjadi teroris, dari transaksi mencurigakan menjadi target militer.

Jika PayPal membantu Anda mengirim uang dengan aman, Palantir membantu negara menentukan siapa yang harus diawasi, ditangkap, atau dalam beberapa kasus ekstrem — diserang. Cara kerjanya tidak sesederhana “mengintai”– lebih mirip mesin penggabung realitas. Platform seperti Gotham mengumpulkan potongan-potongan data dari berbagai sumber: intelijen manusia dari agen lapangan, sinyal komunikasi yang disadap, citra satelit, rekaman CCTV, data imigrasi, transaksi finansial, bahkan jejak digital di media sosial.

Semua potongan itu — yang tadinya tercerai-berai di berbagai lembaga —CIA, NSA, FBI, militer— dikumpulkan, disatukan, lalu dirajut menjadi satu narasi utuh. Seorang manusia tidak lagi dilihat sebagai individu, tetapi sebagai jaringan relasi: siapa temannya, ke mana  pergi, apa kebiasaannya, siapa yang sering  dihubungi.

Di titik itu, mesin Palantir mulai “berpikir”– mencari pola– mendeteksi anomali. Menyusun kemungkinan–  dari sekadar mengetahui, sistem ini beralih menjadi memprediksi. Memprediksi–  memberi rekomendasi– dan di ujung rantai itu, manusia bersenjata mengambil keputusan. Dalam operasi militer moderen, proses ini dikenal sebagai kill chain— rantai pembunuhan. Dulu, rantai ini lambat, bergantung pada laporan manual dan intuisi. Kini, dengan perangkat seperti Palantir, rantai itu dipercepat, dipadatkan, dan — ironisnya — dipoles menjadi lebih “rasional”.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk membandingkan. Dalam khazanah kita, ada kisah tentang seorang nabi yang juga diberi “mata” — bukan mata biasa, tetapi kemampuan melihat yang melampaui batas manusia. Dia adalah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Namun “mata” Sulaiman bukanlah hasil rekayasa algoritma. Dia adalah anugerah Ilahi– dia tidak digunakan untuk mengontrol, tetapi untuk menegakkan keadilan.

Ketika burung Hudhud membawa informasi tentang sebuah kerajaan, itu bukan sekadar intelijen, tetapi bagian dari hikmah dan amanah. Informasi tidak berdiri sendiri; dia terikat pada tanggung jawab moral yang langsung kepada Allah SWT. Bandingkan dengan “mata” moderen bernama Palantir–  mengumpulkan segalanya, tetapi tidak memiliki wahyu. Memprediksi segalanya, tetapi tidak memiliki hikmah– merekomendasikan tindakan, tetapi tidak memikul tanggung jawab moral di hadapan Yang Maha Mengetahui.

Di sinilah perbedaan itu menjadi sangat tajam: antara penglihatan yang diberi untuk membimbing, dan penglihatan yang dibangun untuk menguasai. Dalam konteks konflik seperti ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sistem semacam ini memainkan peran yang tidak selalu terlihat di layar televisi. Ketika sebuah serangan presisi terjadi, sering kali di belakangnya ada analitik data yang menyaring ribuan kemungkinan target menjadi satu titik koordinat.

Dalam operasi Israel di Gaza, penggunaan sistem berbasis data untuk identifikasi target telah menjadi bagian dari strategi militer moderen. Amerika Serikat mengakui penggunaan perangkat lunak analitik untuk mendukung penentuan target dalam operasi luar negeri– namun Palantir tidak berhenti di medan perang — juga masuk ke ruang kota. Di tangan aparat penegak hukum, sistem ini digunakan untuk predictive policing — memprediksi kejahatan sebelum terjadi.

Di Los Angeles, data warga — alamat, hubungan sosial, aktivitas digital — dikumpulkan untuk memetakan siapa yang berpotensi menjadi pelaku atau korban. Salah satu kota berubah menjadi papan catur, dan warganya menjadi bidak yang dianalisis.

Pembeli mesin itu? Daftarnya panjang seperti katalog negara moderen. Departemen Pertahanan Amerika Serikat, CIA, NSA, FBI, hingga Immigration and Customs Enforcement telah lama memakai Palantir. Di luar negeri, ada militer Inggris, pasukan Israel, Ukraina, serta berbagai kepolisian di Eropa. Palantir tidak menjual aplikasi– menjual kesadaran situasional — kemampuan melihat lebih cepat, lebih luas, dan lebih dalam daripada lawan. Di sinilah kita kembali ke Alex Karp dan manifestonya. Ketika dia menyerukan agar Silicon Valley berhenti membuat aplikasi dan mulai membangun kekuatan militer berbasis perangkat lunak, dia tidak sedang membuka jalan baru. Dia sedang memperluas jalan tol yang sudah dibangunnya sendiri.

Dia berbicara tentang republik, tentang tanggung jawab moral, tentang pertahanan peradaban Barat– tetapi di balik semua itu, ada logika yang lebih sederhana: dunia yang penuh konflik adalah dunia yang membutuhkan produknya. Kita hidup di zaman ketika mata-mata tidak lagi harus menyamar di kedutaan — bisa berupa server di ruang dingin, memproses miliaran data setiap detik.

Penyusupan tidak lagi selalu melalui agen manusia, tetapi melalui integrasi sistem. Intelijen tidak lagi hanya laporan rahasia, tetapi dashboard interaktif dengan grafik dan peta. Di  tengah semua itu, Palantir berdiri sebagai simbol zaman: ketika kekuasaan tidak hanya dipegang oleh negara, tetapi juga oleh perusahaan yang tahu lebih banyak daripada negara itu. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan digunakan. Itu sudah terjadi. Pertanyaannya adalah: ketika dunia bisa dilihat seperti peta digital yang rapi, apakah kita masih melihat manusia sebagai manusia — atau hanya sebagai titik yang bisa dipilih, disorot, dan jika perlu, dihapus?

Peristiwa ini memberi kita satu pelajaran yang sunyi tetapi dalam. Bahwa setiap zaman punya “mata”-nya sendiri. Dahulu, mata itu adalah amanah. Hari ini–berisiko menjadi alat dan di antara keduanya, kita diuji: apakah kita masih ingat untuk siapa sebenarnya kita melihat?

*Jurnalis Senior dan Kolumnis

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *