Sejarah Senayan: Kampung Betawi yang Tergusur

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*

Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Jakarta ke-499 ini–jangan pernah melupakan sejarah Kampung Senayan–  Kampung Orang Betawi yang tergusur dan kini menjadi pusat bisnis, persagangan, dan pusat politik, dengan adanya gedung MPR/DPR RI.

Senayan hari ini identik dengan stadion megah, gedung pencakar langit, dan pusat bisnis yang tidak pernah tidur–tetapi di balik beton dan kaca itu, ada cerita yang jarang disebut, Senayan dulu adalah kampung Betawi. Kampung dengan rumah panggung, pohon kelapa, dan gotong royong yang jadi denyut nadi warganya.

Sebelum 1960-an, Senayan adalah rawa dan ladang. Peta lama menyebutnya “Kampoeng Senajan”. Nama “Senajan” sendiri diyakini berasal dari kata “senang” atau “senang jajan” — refleksi karakter warga Betawi yang ramah dan suka berbagi. Mereka hidup dari bertani, berdagang, dan memelihara ikan di rawa-rawa. Masjid tua, surau, dan langgar jadi pusat kegiatan, bukan mal.

Segalanya berubah ketika Jakarta ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games IV 1962. Bung Karno punya visi besar: Jakarta harus tampil di panggung dunia. Stadion Utama Gelora Bung Karno dibangun cepat, ikonik, dan megah–tetapi di balik euforia itu, ada harga yang harus dibayar warga Senayan.

Pembebasan lahan dilakukan besar-besaran. Ratusan rumah Betawi digusur. Warga dipindah ke Jatinegara, Cipinang, pinggiran Jakarta Timur, Kebayoran, pinggiran Jakarta Selatan. Kompensasi ada, tetapi tidak pernah bisa mengganti jejak sejarah dan rasa memiliki. Pohon kelapa ditebang, rawa ditimbun, makam-makam tua dipindah. Senayan sebagai “kampung” mati, lahir kembali sebagai “kawasan”.

Ini bukan cerita unik Senayan saja. Jakarta tumbuh dengan cara yang sama: Kemayoran, Menteng, Tanah Abang, semua punya lapis sejarah kampung yang terkikis modernisasi. Bedanya, Senayan punya simbol nasional. Stadion GBK jadi saksi bisu. Setiap kali kita sorak di tribun, di bawah kaki kita pernah ada serambi rumah warga Betawi yang mengungsi.

Mengungkit sejarah ini bukan untuk menyalahkan pembangunan. Jakarta memang harus berubah. Tanpa Asian Games 1962, mungkin kita tidak punya GBK yang jadi kebanggaan Asia Tenggara. Tanpa pembebasan lahan, tidak ada Sudirman-Thamrin yang jadi urat nadi ekonomi–tetapi kita perlu ingat, pembangunan yang melupakan sejarah, akan menciptakan kota tanpa jiwa. Senayan hari ini “berhasil” secara fisik, tapi kehilangan narasi. Anak Jakarta sekarang tahu GBK, tetapi sedikit yang tahu Kampoeng Senajan. Padahal akar identitas kota ada di kampung-kampung itu.

Apa yang bisa kita lakukan

Pertama, dokumentasi–nama jalan, patung, dan monumen di Senayan nyaris tidak menyebut warga asli. Seharusnya ada plakat, mural, atau ruang kecil di GBK yang menceritakan Kampoeng Senajan. Bukan untuk nostalgia murahan, tetapi untuk jujur pada sejarah.

Kedua, ruang untuk budaya Betawi. Festival, pasar rakyat, atau pertunjukan ondel-ondel di area Senayan bisa jadi pengingat. Biar pekerja kantoran yang pulang kantor tahu, tanah yang mereka injak dulu punya tuan rumah.  Ketiga, pelajaran untuk pembangunan hari ini. IKN, reklamasi, dan proyek besar lain akan terus ada–tetapi mari belajar dari Senayan, gusur boleh, asal memori jangan. Warga yang pindah harus tetap jadi bagian dari cerita kota baru, bukan sekadar statistik.

Jakarta tidak jadi ibu kota lagi tahun 2024–tetapi sejarahnya tidak bisa dipindah. Senayan mengajarkan kita, kota besar dibangun di atas pengorbanan kecil. Menghormati pengorbanan itu adalah cara Jakarta tetap “manusiawi” meski gedungnya makin tinggi.

Kini saat lewat GBK atau SCBD, coba pejamkan mata sebentar. Bayangkan suara adzan dari langgar kayu, anak-anak main layangan di atas tanah rawa, dan aroma nasi uduk Betawi pagi hari. Senayan yang dulu tidak akan Kembali–tetapi setidaknya, namanya jangan mati dua kali, sekali karena digusur, sekali lagi karena dilupakan. Jakarta maju karena berani berubah. Jakarta bermartabat karena ingat dari mana berasal. Senayan adalah buktinya. Demikian sekelumit catatan Sejarah Kampung Senayan, yang sekarang jadi pusat bisnis, perdagangan dan politik.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *