Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Di tengah hiruk-pikuk modernitas dan derasnya arus disrupsi digital– pondok pesantren tetap berdiri sebagai salah satu pilar terpenting peradaban bangsa. Lebih dari sekadar lembaga pendidikan agama, pesantren adalah kawah candradimuka pembentukan moral, adat, dan etika bangsa—tempat lahirnya para pejuang, ulama, dan negarawan yang menjaga negeri ini dengan do’a dan pengabdian–namun, pertanyaan besar yang mengemuka adalah bagaimana merawat tradisi pesantren agar tetap relevan tanpa kehilangan jati diri?
Merawat tradisi pesantren bukan berarti membekukan metode dan nilai-nilai lama dalam bentuk yang kaku. Tradisi keilmuan yang kuat di pesantren justru harus berjalan seiring dengan adaptasi teknologi dan inovasi kurikulum. Pesantren tertua di Jawa Tomur, seperti Lumajang, Tebu Ireng, Lirboyo– telah membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan seimbang, madrasah diniyah, sekolah formal, hingga perguruan tinggi dikembangkan tanpa meninggalkan pengajaran kitab kuning dan pembinaan moral ala pesantren. Inilah ruh Islam Nusantara yang sejati—tradisi dijaga, modernitas dirangkul, dan keduanya berjalan seimbang.
Tantangan terbesar pesantren saat ini adalah menjaga keseimbangan antara warisan (heritage) dan inovasi. Penelitian sistematis terhadap model pembelajaran pesantren dari tahun 2007 hingga 2025 menunjukkan pergeseran progresif dari metode klasik seperti sorogan dan bandongan menuju model hibrida dan berbasis digital yang menekankan inklusivitas, pendidikan karakter, dan literasi teknologi– namun, pesantren tetap mempertahankan inti pembinaan spiritualitas dan moralitas santri melalui tradisi shalat berjamaah, mengaji kitab kuning, tirakat, dan khidmah kepada guru. Inilah yang disebut sebagai konsep pesantren hybrid—pelestarian inti (core preservation) diiringi inovasi selektif (selective innovation) yang mengintegrasikan kurikulum, kelembagaan, dan teknologi .
Hal yang menarik, fenomena santri digital mulai marak di berbagai pesantren. Santri bersarung kini tidak hanya bergelut dengan kitab kuning, tetapi juga menulis kode pemrograman, mengelola media digital, dan merancang sistem informasi pesantren. Mereka membuktikan bahwa kemajuan digital tidak harus menanggalkan nilai kesederhanaan dan keikhlasan ala pesantren. NU Online– misalnya, lahir dari rahim pesantren—dari tangan-tangan santri muda yang menulis kode di sela-sela tadarus malam dan mengelola server di antara waktu ngaji. Media ini berhasil meraih AMSI Award 2025, membuktikan bahwa suara pesantren mampu berdiri sejajar di kancah media nasional.
Kontribusi pesantren dalam membangun karakter bangsa juga mendapat pengakuan luas. Menteri PPPA menegaskan bahwa pesantren merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa, tempat lahirnya generasi berilmu, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Bahkan menyebut pesantren sebagai penggerak moralitas kebangsaan dan peradaban di tengah gempuran globalisasi teknologi digital dan kompleksitas sosial ekonomi. Di tengah krisis moral dan disinformasi yang melanda ruang publik, pesantren hadir sebagai penyejuk—meneguhkan bahwa berdakwah di dunia digital tidak harus dengan nada keras, melainkan dengan hikmah dan kasih sayang .
Merawat tradisi pesantren berarti merawat cara pandang yang utuh tentang kehidupan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, dan bahwa kemajuan tanpa moral adalah kehancuran. Di tangan para santri, tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan sumber inspirasi masa depan. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi menaklukkannya dengan niat khidmah; mereka tidak takut modernisasi, karena ilmu agama yang kuat adalah fondasi untuk menyambut kemajuan dengan bijak. Santri hari ini adalah penggerak perubahan– dari balik layar computer– mereka menulis artikel, mengelola data, membuat aplikasi, dan menyiarkan pesan kebaikan.
Pada akhirnya, merawat tradisi pesantren adalah tanggung jawab bersama—bukan hanya para kyai dan santri, tetapi seluruh masyarakat dan negara– dengan pengakuan yang setara melalui revisi UU Sisdiknas dan dukungan kebijakan yang berpihak, pesantren akan terus menjadi benteng moral bangsa. Di tengah derasnya arus perubahan, pesantren tetap menjadi lentera—bukan dengan memadamkan cahayanya, tetapi dengan menyinari ruang digital dan kehidupan modern dengan nilai-nilai Islam yang damai, moderat, dan beradab– dari pesantren untuk dunia, dari sarungan tanpa sandal untuk teknologi—itulah wajah pesantren masa kini: tetap berakar, namun menjulang ke langit peradaban. Wallahua’lambishawab.
*Profesor Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
Caption foto: Profesor Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)
