Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Pondok Pesantren selama ini telah memainkan perannya sebagai benteng moral dan pilar pendidikan karakter bangsa– namun, akhir-akhir ini, dunia pesantren kembali tersorot tajam, tidak hanya karena tragedi seperti ambruknya bangunan di Sidoarjo, tetapi juga karena narasi publik yang kerap salah tafsir terhadap tradisi internal mereka.
Polemik yang dipicu oleh tayangan televisi yang dinilai mendeskreditkan praktik tabarruk dan ta’dzim santri kepada kyai menjadi cermin nyata benturan cara pandang antara logika moderen dan kearifan lokal pesantren yang telah mengakar kuat.
Menarik untuk menyimak pandangan Menteri Agama Nasaruddin Umar — yang mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren tidak bisa diukur hanya dengan kacamata moderen. Beliau menyebut bahwa sumber pengetahuan di pesantren tidak hanya bertumpu pada deduksi akal semata, melainkan juga mencakup intuisi, ilham, bahkan mimpi. Ini bukanlah anti-rasionalisme, melainkan pengakuan bahwa ada dimensi spiritual dalam transfer ilmu yang tidak terjangkau oleh sekadar logika. Di sinilah konsep tabarruk atau menjemput barakah menemukan panggung utamanya.
Bagi sebagian masyarakat awam– ritual seperti mencium tangan kyai membalikkan sandal, atau bahkan ngesot (merangkak) mendekati kyai, sering dipandang sebagai praktik feodal atau irasional– namun, bagi warga pesantren, ini adalah ekspresi adab dan penghormatan tertinggi. Diskursus ini bukan lahir dari ruang hampa, melainkan dibentuk oleh teks (seperti kitab Ta’lim al-Muta’allim karya al-Zarnuji) dan praktik tubuh yang diwariskan turun-temurun .
Penghormatan kepada guru diposisikan sebagai syarat mutlak agar ilmu yang didapat menjadi berkah dan bermanfaat. Seorang santri yang manut (patuh) dan berkhidmat (mengabdi) kepada kyai meyakini bahwa ridha guru adalah kunci kemudahan dalam memahami ilmu, bahkan hal ini disetarakan dengan usaha menempuh jalan spiritual. Keyakinan ini bersumber dari pandangan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi (al-‘Ulama Waratsatul Anbiya).
Menjemput Berkah Sebelum Makna: Satu Prioritas?
Fenomena menarik sekaligus problematis terkait praktik tabarruk ini. Dalam realitas di lapangan, banyak santri, khususnya yang masih baru, melakukan tradisi tersebut lebih karena mengikuti senior atau tradisi turun-temurun, tanpa benar-benar memahami dalil atau landasan teologisnya secara mendalam .
Penelitian menunjukkan bahwa meskipun mereka meyakini tabarruk— sebagai bagian dari syariat dan sumber ketenangan, pemahaman akan hadis-hadis yang mendasarinya seringkali tidak terliterasi dengan baik di kalangan santri awam. Mereka “berlomba-lomba” mencari keberkahan, namun tidak sedikit yang belum mencapai tahapan pemahaman makna filosofis di balik tindakan tersebut. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah menjemput barakah mendahului pemahaman akan substansi ilmu yang diajarkan?
Paradoks ini memang sering terjad– di satu sisi, mencari berkah adalah upaya spiritual yang sah– di sisi lain, jika hanya dilakukan sebagai ritual ikut-ikutan– berpotensi kehilangan esensi transformatifnya. Ada kekhawatiran bahwa pendekatan yang sangat menekankan barakah ini, seperti yang terlihat dalam pembelajaran tafsir bandongan yang terkadang menghalangi dialog kritis, dapat mengarah pada apa yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai “idiogi pendidikan konservatif” .
Kita tidak bisa serta-merta menolak tradisi tabarruk karena bagian integral dari habitus pesantren yang membentuk moralitas dan ketahanan komunal– namun, di tengah gempuran modernisasi dan tuntutan transparansi, pesantren perlu melakukan penyesuaian tanpa kehilangan jati diri.
Praktik tabarruk harus dijaga sebagai bentuk pelestarian adab, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan literasi keagamaan santri agar mereka memahami why (mengapa) di samping how (bagaimana). Santri tidak boleh hanya menjadi “pengabdi” yang pasif, melainkan juga subjek ilmu yang kritis, sebagaimana ajaran inti Islam yang memuliakan ilmu pengetahuan.
Media massa dan publik juga diharapkan tidak framing negatif terhadap tradisi pesantren. Memahami pesantren membutuhkan empati dan pengetahuan mendalam, bukan penilaian dangkal dari kacamata efisiensi semata.
Hari Santri adalah momentum untuk merawat warisan– namun, merawat bukan berarti membiarkan tradisi berjalan tanpa refleksi. Sudah saatnya dunia pesantren dan masyarakat luas duduk bersama, menjembatani pemahaman agar barakah yang dijemput benar-benar mengalir dalam kebaikan, tanpa kehilangan akar, namun tetap relevan bagi masa depan Indonesia. Wallahua’lambishawab.
*Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)
