Renungan Malem Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI (Artificial Intelligence) (bag-6)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Membedah AI dengan Pisau Analisis Filsafat Mulla Sadra

Konstruksi pemikiran Mulla Sadra Meskipun hidup di abad ke-17, tetap memiliki relevansi yang luar biasa dalam menjawab tantangan intelektual dan spiritual di era kontemporer. Model sintesis Al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah (filsafat transenden) menawarkan solusi bagi krisis pengetahuan yang terjadi saat ini.

Era moderen ditandai oleh fragmentasi ilmu pengetahuan, di mana sains (rasio/objektif) dipisahkan dari spiritualitas (subjektif/agama). Sebagai suatu kontruksi pemikiran, al-hikmah al-muta’aliyah  tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu hasil dari proses interaksi dan asimilasi antara pemikiran; Mulla Sadra dengan berbagai pemikiran keislaman sebelumnya.

Filsafat Peripatetik  (masysya’iyyah)  dari Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M), Iluminasionisme (isyraqiyyah) dari Suhrawardi (549-587 H/1153-1191 M),  Sufisme (‘Irfan)  dari Ibn ‘Arabi (560-638 H/1165-1240 M), beserta masing-masing pengikut mereka, ilmu-ilmu keagamaan dalam arti sempit, termasuk kalam, seluruhnya dikombinasikan dan diharmonisasikan oleh Mulla Sadra secara sadar sehingga tercapai suatu grand synthesis miliknya sendiri.

Berbeda dari pemikiran filsafat pada umumnya, aliran ini bersumber pada, dan selalu disinari oleh Kitab Suci, Hadits-hadits Nabi, dan ucapan-ucapan para Imam Syi’ah– dengan demikian, dalam aplikasinya, yang ditonjolkan disini adalah prinsip-prinsip berpikir rasional, yang dipadukan dengan intuisi intelektual yang bersifat supra-rasional, sebagai hasil dari praktek-praktek dan pengalaman spiritual secara langsung, dan dilandasi oleh agama atau wahyu sebagai otoritas tertinggi.

Formulasi Mulla Sadra tentang filsafat wujud didasarkan atas tiga prinsipnya yang fundamental, yaitu: ashalah al-wujud, wahdah al-wujud, dan tasykik al wujud.  Masing-masing prinsip filosofis ini berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Meskipun sudah dikenal sebelum Mulla Sandra, namun dialah yang dipandang telah berhasil dalam menyusunnya secara sistematis dan terperinci dalam sejarah pemikiran Islam. Bagi Sadra, tidak ada yang hadir di dunia secara terputus dari sebabnya. Keberadaan apa pun, entah manusia, benda, atau perangkat, membawa jejak sumber yang menjadikannya ada. “Sesuatu yang lahir dari kebaikan akan memancarkan kebaikan, dan sesuatu yang lahir dari ketidakteraturan akan menebarkan kekacauan”._

Cara pandang Mulla Sadra: AI (Artificial Intelligence) bukanlah makhluk baru yang berdiri sendiri– dia hanyalah keberadaan yang bergantung sepenuhnya pada manusia. Dia adalah bentuk wujud yang hadir melalui yang lain. AI bukan wujud mandiri, tetapi keberadaan yang mengikuti arah tangan yang membentuknya. Oleh sebab itu, AI tidak lahir dari ruang kosong. dia lahir dari ambisi, keinginan, dan imajinasi manusia. AI belajar dari kata-kata yang kita ketik, dari foto-foto yang kita unggah, dari artikel yang kita baca, dari cara kita marah, bercanda, bahkan dari ketidaksabaran kita di media sosial. AI tidak memiliki hati untuk menilai atau menyaring– dia tidak punya nurani untuk memilih mana yang adil dan mana yang keliru; AI hanya mengulang, mengatur ulang, dan memperbesar jejak-jejak yang ditinggalkan manusia dalam bentuk data.

Konsep Filsafat Mulla Sadra (1571-1640), justru jadi sangat relevan di era AI, karena dia membalik cara kita memandang realitas, pengetahuan, dan manusia, tiga hal yang sedang diguncang AI. Mulla Sadra, pendiri Hikmah Muta’aliyah, tidak hanya menggabungkan filsafat Yunani, Kalam, Irfan, dan Qur’an.

Inti pemikirannya ada 5 konsep kunci yang kalau kita bawa ke era AI menjadi provokatif: I. Ashalat al-Wujud (Prinsip Keutamaan Wujud)–Wujud merupakan suatu prinsip mendasar yang meliputi segala sesuatu dalam dunia eksternal. Selain itu wujud merupakan sesuatu yang paling jelas yang mendasari semua realitas, sehingga wujud tidak dapat didefinisikan. Karena tujuan definisi adalah memperjelas sesuatu yang didefinisikan, sedangkan wujud merupakan suatu konsep yang paling jelas.

Menurut logika Aristoteles, untuk mendefinisikan sesuatu kita memerlukan genus dan deferentia. Padahal wujud merupakan sesuatu yang paling umum dalam kemencakupannya. Wujud secara fenomenal dapat diketahui oleh siapapun tanpa terkecuali.

Wujud mendahului mahiyah (esensi), karena mahiyah tidak dapat dikenali tanpa ada hubungannya dengan wujud. Misalnya, bayi yang baru lahir dapat mengetahui keberadaan sesuatu secara intuitif tanpa mengenali terlebih dahulu sesuatu tersebut.  Oleh karena itu, agar mahiyah dapat diketahui dalam konsepsi pikiran, wujud  harus melekat pada mahiyah.

Bagi Sadra, yang fundamental itu bukan apa sesuatu (mahiyah/esensi), tetapi bahwa sesuatu itu ada (wujud/bentuk).  Di era AI sekarang ini: Kita terjebak menilai AI dari esensinya, yang sesungguhnya “AI itu cuma statistik, cuma LLM, cuma simulasi”. Maka Sadra akan mengatakan, lihatlah wujudnya, bahwa AI itu “ada” dan memberi efek nyata di dunia, mengubah kerja, perang, cinta, dan  iman.

Wujudnya lebih riil daripada definisi kita tentangnya. Kita terlalu sibuk debat “apakah AI sadar?” atau “esensi”, padahal dampak wujudnya sudah mengubah realitas. Maka ketika masyarakat digital penuh prasangka dan bias, AI akan memantulkan prasangka itu dalam skala besar– seperti apabila ekonomi Indonesia didorong oleh kerakusan, maka AI akan memperkuat logika efisiensi yang mengorbankan banyak orang.

AI akan menjadi mata yang tidak pernah berkedip; Dalam dunia yang demikian, AI hanyalah cermin raksasa yang membesarkan wujud wajah manusia, baik sisi yang terang maupun sisi yang gelap. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website