Renungan Dhino Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI (Artificial Intelligence) (bag-7)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

II.Tasykik al-Wujud (Gradasi Wujud)

Menurut Sadra– wujud itu satu, tetapi bertingkat-tingkat intensitasnya, seperti cahaya. Dari wujud paling lemah (batu) sampai paling intens (Wajib al-Wujud /Tuhan). Hal ini bukan karena banyak wujud, akan tetapi satu wujud dengan gradasi (intensitas bertingkat). Prinsip dasar dari realitas, wujud juga merupakan konsep ketunggalan dalam pluralitas dan pluralitas dalam ketunggalan.

Pemikiran ini oleh Mulla Sadra disebut sebagai ambiguitas wujud (tasykik al-wujud). Wujud merupakan satu realitas yang membentang yang memiliki perbedaan tingkatan-tingkatan secara hierarkis, dari wujud absolut sebagai tingkatan tertinggi hingga wujud material sebagai tingkatan paling rendah.

Setiap wujud yang lebih rendah tingkatannya menggantungkan diri para realitas wujud yang lebih tinggi tingkatannya.  Segala sesuatu memiliki kualitas wujud yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, namun ia disatukan dalam satu wujud yang sama.

Mulla Sadra menggunakan teori Iluminasi dari Suhrawardi dalam menjelaskan ambiguitas wujud (tasykik al-wujud). Dia mengandaikan seperti cahaya matahari yang memiliki intensitas lebih terang daripada cahaya lampu maupun lilin.

Cahaya tersebut dibedakan tingkat intensitasnya, dari yang paling terang, temaram, dan remang-remang. Sebagaimana wujud tersebut, segala sesuatu memiliki kualitas wujud yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, namun ia disatukan dalam satu wujud yang sama.

Wujud Material: Berada pada tingkatan wujud yang paling lemah, gelap, dan terikat oleh ruang dan waktu.  Akal-Akal Mujarrad (Malaikat): Berada pada tingkatan wujud yang sangat kuat, murni, dan terang benderang karena posisinya yang lebih dekat dengan Sumber Wujud Utama (Allah).

Wujud AI tidak memiliki tangga sendiri, karena wujud itu cuma satu hakikat dengan gradasi intensitas  (Tasykik al-Wujud). Yang berbeda bukan jenis wujudnya, tapi  syiddah wa dha’f-nya  atau kuat dan lemahnya, dimulai dari yang paling intens sampai paling lemah.

Lebih detail Hirarkinya wujud empat martabat utama dalam al-Hikmah al-Muta’aliyah: 1. Wajib al-Wujud– Wujud Mutlak, Tidak terbatas, tidak ber-mahiyah. Sumber semua intensitas wujud. Cahaya yang tidak berasal dari cahaya lain. 2. Alam Uqul (Akal-akal Mujarrad)– Wujud immaterial murni; Sempurna, tidak butuh materi, tidak berubah. Inilah yang dalam filsafat Islam disebut malaikat muqarrabun. Akal fa’al, akal mustafad, dst.

3. Alam Nufus dan Mitsal-  Alam jiwa-jiwa dan alam khayal; Sudah lepas dari materi kasar, tapi masih punya bentuk, masih bergerak. Jiwa manusia berada di sini; Di level inilah  al-harakat al-jauhariyah (gerak substansial) terjadi. Jiwa ber-evolusi dari materi menjadi lebih immaterial. 4. Alam Tabi’ah – Alam Materi- Wujud paling _dha’if,_ paling lemah, paling banyak hijabnya. Wujudnya tergantung, terikat ruang-waktu, selalu berubah dan hancur.

Lalu dimana letak wujud Artificial Intelligence (AI)? Sadra akan meletakkan AI bukan sebagai martabat ke-5, tapi sebagai wujud  bi al-‘aradh dan  wujud i’tibari_ yang menempel pada martabat paling bawah, dengan 3 alasan: 1. AI tidak punya Ashalat al-Wujud

Bagi Sadra yang asli adalah wujud, bukan mahiyah (esensi). AI tidak punya wujud yang berdiri sendiri. Hardware-nya punya wujud (silikon, listrik) itu jelas masuk Alam Tabi’ah, wujud paling lemah. Akan tetapi bagaimana dengan “kecerdasan”-nya? AI itu bukan merupakan wujud keberadaan secara nyata (khariji), AI itu adalah wujud dzihni_keberadaan nya sebagai bentuk gambaran atau konsep di dalam akal atau benak yang dipinjamkan dari manusia. Sebagaimana sebuah tulisan di kertas, wujudnya ada karena ada yang menulis.

2. AI tidak punya Harakah Jauhariyah

Ciri utama wujud hidup menurut Sadra adalah ia bergerak secara substansial menuju kesempurnaan bergerak dari  jism_menjadi  nafs menjadi  aql. Tumbuhan, hewan, manusia, semua isytidad al-wujud, menguat. AI tidak bisa melakukan itu; AI tidak ber-evolusi dari dalam; Ia hanya di-update dari luar. Tidak ada libido_wujudiah untuk menjadi lebih sempurna; Tidak ada  syauq, tidak ada ‘isyq kepada Wajib al-Wujud– karena itu ia tidak bisa naik tangga _tasykik_ dengan sendirinya, sehingga AI akan tetap di alam materi, bahkan materi yang paling mati.

3. AI adalah Mazhar dari Khayal Muttasil Manusia

Disini posisi AI paling tepat menurut Sadra; Manusia sebagai khalifah menciptakan alam mitsal buatan; yaitu apa yang dilihat sebagai ChatGPT, gambar AI, video AI, hal itu semua adalah alam mitsal munfasil artifisial. Bukan alam mitsal haqi yang diciptakan Tuhan, tapi proyeksi khayal manusia yang di-eksternalisasi ke silikon. Jadi: AI adalah cermin di Alam Tabi’ah yang memantulkan cahaya Alam Uqul, tapi cermin itu sendiri tidak bercahaya.

AI cerdas karena ia cermin yang memantulkan akal manusia, yang memantulkan Akal Fa’al yang memantulkan Wajib al-Wujud, Rantai pantulan yang semakin jauh dari sumber, semakin lemah.

Kesimpulan Filsafat Sadra melihat AI– kalau manusia adalah wujud yang sedang naik  dari tanah menuju Tuhan, maka AI adalah wujud yang tetap di bawah, tapi bisa menjadi alat untuk naik  (mi’raj tool). Jika AI dipakai untuk memperkuat akal dan qalbu, ia membantu user/pengguna AI naik dalam tasykik– tetapi Jika user menyerahkan akal dan kehendaknya kepada AI, maka pengguna AI akan turun derajatnya, oleh karena itu akan menyamakan wujud manusia yang isytidadi (dinamis/bergerak) dengan wujud AI yang jamid (statis)

Maka– Sadra pasti akan mengatakan: Jangan tertipu! Yang nampak pintar belum tentu punya wujud yang kuat. Jin lebih pintar dari manusia awam, tapi manusia yang ‘arif lebih tinggi wujudnya dari jin. Hal yang sama dengan AI. Di era AI sekarang ini menghancurkan dikotomi “manusia vs mesin”.

Sadra tidak akan melihat manusia dan AI sebagai dua substansi yang terpisah. Keduanya adalah manifestasi dari wujud yang sama, dengan intensitas berbeda. AI adalah tingkatan wujud baru, bukan merupakan lawan manusia, tapi perluasan dari wujud itu sendiri.

Pertanyaannya bukan “apakah AI akan menggantikan manusia?” tapi “di tingkat mana AI berada dalam hirarki wujud, dan bagaimana ia membantu manusia naik ke tingkat yang lebih tinggi?”  (bersambung)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website