Oleh: Helmi Hidayat*
Jurnalis Senior dan Magister Ilmu Komunikasi dari Inggris (Ilustrasi gambar dibuat oleh Meta AI)
Setiapkali membaca ulang kisah Phaethon– secara khusus saya selalu teringat Gibran dan secara umum terbayang pola yang berulang dalam sejarah kekuasaan, termasuk di Indonesia. Phaethon adalah anak Dewa Matahari, Helios. Dalam Metamorphoses Buku II karya Ovidius, sang penyair Romawi ini melukiskan Phaethon sebagai anak muda yang tumbuh dalam bayang-bayang nama besar ayahnya, tapi terus-menerus diejek orang-orang di sekelilingnya:
“Kalau kamu benar anak dewa, buktikan!” demikianlah Phaeton mendengar suara-suara sumbang itu setiap hari dari teman-teman di sekolahnya. Maklum, meski jadi anak kandung Dewa Matahari, Phaeton bukan murni keturunan dewa. Ibunya manusia biasa bernama Clymene.
Muak dengan keraguan itu, tulis Ovidius dalam karyanya yang telah berusia lebih dari 2.000 tahun, Phaethon memohon legitimasi ayahnya bahwa dia benar-benar anak dewa. Helios, dalam luapan kasih sayang seorang bapak yang kini berada di puncak kekuasaan, melakukan kesalahan klasik seorang penguasa: ia segera bersumpah di atas Sungai Styx, sebuah sumpah dewa yang tak bisa dibatalkan, bahwa dia akan mengabulkan apa pun permintaan anaknya demi legitimasi yang diminta anaknya.
Kalau anak lain minta sepeda, Phaethon tidak mau tanggung-tanggung. Dia minta Kereta Matahari yang selama ini dikendarai ayahnya, dari pagi sampai sore, dari Timur ke Barat. “Satu hari saja, Ayah, agar orang-orang yakin bahwa aku adalah putra Dewa Matahari …”
Helios pucat– dia tahu kuda-kuda api itu hanya bisa dikendalikan oleh tangan dewa yang terlatih ribuan tahun. Tapi apa mau dikata: sumpah sudah terucap, gengsi sudah dipertaruhkan. Maka malapetaka pun dimulai. Ketika pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh sosok dewasa, matang, dan terlatih dipaksakan kepada sosok yang belum cukup pengalaman, semua makhluk menanggung akibatnya. Ovidius mencatat dengan pilu: kuda-kuda api dengan kereta beroda api itu merasakan beban mereka kali ini terlalu ringan. Kereta pun oleng; ditarik terlalu tinggi, bumi membeku; ditarik terlalu rendah, hutan terbakar, sungai mengering.
Akibatnya dewa-dewa panik, Bumi mengadu kepada Zeus. Akhirnya Zeus melempar petir ke dada Patheon. Anak muda itu jatuh seperti bintang jatuh ke Sungai Eridanus. Ia gugur muda bukan semata karena kecerobohannya, tapi karena ambisi politik dan sumpah ayahnya.
Apa yang terjadi pada Helios setelah itu? Ia memang berkabung, tapi satu hari saja. Sang Dewa lalu naik kereta lagi seolah tak terjadi apa-apa. Tinggallah planet Bumi yang gosong akibat kecerobohan anaknya.
Mari kita baca pola yang ditulis Ovidius itu di Indonesia. Penyair Yunani ini tentu tidak pernah membayangkan, pola ini akan terasa begitu dekat di satu negeri besar bernama Indonesia. Kita pinjam kacamata itu untuk membaca fenomena yang kita saksikan saat ini.
Pola pertama adalah tentang beban legitimasi. Phaethon harus membuktikan dirinya anak dewa. Di ruang publik Indonesia hari ini, kita juga menyaksikan Gibran harus menanggung beban pembuktian yang berat: mulai dari isu-isu tentang latar belakang pendidikannya yang digugat ke MK, pengalaman berorganisasi yang dipertanyakan, hingga janji kampanye membuka 19 juta lapangan kerja yang sampai kini terus dikritisi publik.
Bahkan, seandainya pun MK memutuskan ijazah Gibran ada dan sah secara hukum, secara politik kematangan berorganisasi putra Jokowi ini pun dipertanyakan. Bagaimana mungkin hanya lulusan SLTA bisa merasakan dinamika organisasi mahasiswa seperti HMI, PMII, IMM, GMNI, Forkot dan banyak lagi? Semua organisasi itu hanya ada di perguruan tinggi, bukan di SLTA.
Terlepas dari benar-tidaknya isu itu, bebannya nyata: dengan kapasitas setara SLTA itu Gibran harus mengendarai “kereta” yang sangat besar bernama Indonesia di usia yang sangat muda. Dia harus melaksanakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan orang dewasa!
Pola kedua adalah tentang sumpah yang tidak bisa ditarik. Jika sumpah Helios dilakukan di Sungai Styx, dalam konteks Indonesia, banyak pengamat menganalogikan Putusan MK No. 90 sebagai momentum “sumpah” itu — putusan yang secara hukum sah dan final, namun secara kosmik politik mengubah aturan alam: batas umur minimal 40 tahun buat setiap anak bangsa bisa mencalonkan diri sebagai wakil presiden tiba-tiba berubah. Begitu palu diketuk, tak ada jalan kembali.
Di sinilah tragedi Phaethon berulang: ketika aturan diubah demi kasih sayang seorang bapak kepada anak dan ambisi politik sang bapak, bencana kosmik pun terjadi.
Pola ketiga adalah tentang kereta yang oleng dan dewa-dewa yang marah. Dalam mitos, ketika Phaethon tidak kuasa mengendalikan Kereta Matahari ayahnya, dewa-dewa panik. Dalam konteks Indonesia, kepanikan kosmik itu mirip dengan munculnya petisi dari ratusan purnawirawan TNI pada 2025 — 103 jenderal, 73 laksamana, 65 marsekal, dan lainnya — yang menyuarakan kekhawatiran mereka atas kepemimpinan Gibran. Mereka tak ubahnya dewa-dewa yang mengadu kepada Zeus dalam mitos yang ditulis Ovidius.
Lalu di mana Zeus dan siapa yang memerankannya? Dalam mitos, Zeus berani memotong rantai bencana dengan petir. Dalam negeri kita, peran Zeus itu ada pada mekanisme checks and balances: bisa di Mahkamah Konstitusi, di DPR, di pers, atau di suara publik seperti Anda.
Pertanyaan kita bersama, apakah Prabowo — yang hari ini memegang tali kekang kekuasaan tertinggi — akan memerankan peran Zeus itu? Ataukah kereta itu akan terus oleng? Kereta Matahari tengah bergoyang di atas Indonesia. Mitos Ovidius mengingatkan kita: yang gosong pada akhirnya bukanlah Helios, bukan pula Phaethon seorang diri– melainkan Bumi tempat Anda dan kita semua berpijak. Itulah Indonesia!
*Jurnalis Senior dan Magister Ilmu Komunikasi dari Inggris
Editor: Jufri Alkatiri
