Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd*
Pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Banten (FotoL Dr. KH. Anang Azharie Alie)
Kepemimpinan bukanlah seni untuk menyenangkan semua orang– melainkan amanah untuk menegakkan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Seorang pemimpin yang menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh tidak mungkin selalu mendapatkan penilaian yang sama dari setiap orang. Ada yang merasa puas, ada yang kecewa; ada yang mendukung, ada yang menentang; ada yang memuji, ada pula yang mengkritik.
Itulah dinamika kepemimpinan yang tidak dapat dihindari. Setiap individu dan kelompok memiliki sudut pandang, harapan, serta kepentingan yang berbeda-beda. Bahkan, kebijakan yang bertujuan menciptakan ketertiban dan menegakkan keadilan terkadang tidak menyenangkan pihak-pihak tertentu yang merasa kepentingannya terganggu.
Seorang pemimpin harus memiliki keteguhan prinsip dan istiqamah dalam menjalankan Amanah– tidak boleh menjadikan pujian sebagai tujuan, tidak pula menjadikan kritik sebagai alasan untuk mundur dari kebenaran. Namun, keteguhan itu harus tetap disertai kerendahan hati untuk menerima koreksi, memperbaiki kekurangan, dan mengevaluasi setiap kebijakan secara objektif.
Qaul Imam Syafi’i: Mustahil Memuaskan Semua Orang—Satu ungkapan yang masyhur dinisbatkan kepada Imam Syafi’i rahimahullah: “Kepuasan semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai. Oleh karena itu, berpegang teguhlah pada sesuatu yang memperbaiki dirimu dan istiqamahlah dengannya, karena tidak ada jalan untuk mendapatkan kepuasan mereka semua.”
Ungkapan tersebut mengandung pelajaran penting bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak akan pernah mampu memenuhi seluruh harapan manusia secara bersamaan. Apa yang dianggap baik oleh satu kelompok belum tentu dipandang baik oleh kelompok lainnya– akan tetapi, ungkapan tersebut bukan berarti seorang pemimpin boleh mengabaikan aspirasi masyarakat.
Sebaliknya, seorang pemimpin harus mampu membedakan antara kritik yang membangun, aspirasi yang perlu diperjuangkan, dan tekanan yang bertentangan dengan hukum maupun keadilan. Prinsipnya jelas: jangan menjadikan keridaan manusia sebagai satu-satunya ukuran tindakan. Jadikan kebenaran, keadilan, amanah, dan kemaslahatan sebagai pedoman utama dalam mengambil keputusan.
Perlu dicatat bahwa ungkapan di atas dikenal luas sebagai petuah yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i– tetapi atribusi dan redaksi persisnya perlu diverifikasi melalui sumber primer sebelum dinyatakan sebagai kutipan autentik beliau.
Keadilan adalah Prinsip, Bukan Sekadar Pilihan
Islam memberikan landasan yang sangat kuat mengenai kewajiban menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan dan menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’ [4]: 135, petikan ayat).
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh tunduk kepada kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, ataupun tekanan lingkungan. Bahkan, seseorang diperintahkan untuk tetap berlaku adil ketika kebenaran itu berhadapan dengan kepentingannya.
Dalam kepemimpinan, prinsip ini sangat mendasar– seorang pemimpin tidak boleh membedakan perlakuan berdasarkan kedekatan, dukungan politik, hubungan pribadi, atau tekanan pihak tertentu. Setiap keputusan harus didasarkan pada aturan yang berlaku, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat. Keadilan juga menuntut keberanian untuk mengoreksi diri. Pemimpin yang adil bukanlah orang yang menganggap semua keputusannya selalu benar, melainkan orang yang bersedia memperbaiki keputusan ketika ditemukan kekeliruan.
Ketegasan dan Keberanian Harus Berjalan Bersama Kebijaksanaan
Dalam konteks kepemimpinan kepolisian, nilai ketegasan, keberanian, kejujuran, dan amanah merupakan prinsip penting yang harus senantiasa dijaga. Hal ini relevan ketika membicarakan irama kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto — sebagaimana nilai-nilai kepemimpinan tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam pelaksanaan tugas.
Ketegasan diperlukan agar hukum tidak kehilangan wibawa. Keberanian dibutuhkan untuk menghadapi kejahatan dan berbagai bentuk pelanggaran. Kejujuran menjadi fondasi kepercayaan masyarakat, sedangkan amanah memastikan bahwa kewenangan digunakan untuk kepentingan publik, bukan untuk keuntungan pribadi atau kelompok– namun, ketegasan tidak boleh berubah menjadi kesewenang-wenangan. Keberanian tidak boleh mengabaikan prosedur hukum. Kejujuran harus tercermin dalam transparansi dan pertanggungjawaban, sedangkan amanah harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam keputusan mereka, terhadap keluarga mereka, dan dalam urusan yang mereka pimpin.” (HR. Muslim, no. 1827).
Hadis ini menunjukkan tingginya kedudukan pemimpin yang adil. Keadilan bukan sekadar instrumen untuk memperoleh dukungan masyarakat, melainkan tanggung jawab moral dan agama yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Kritik bukan Musuh, Pujian bukan Tujuan
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara– dukungan dan penolakan merupakan bagian dari dinamika masyarakat. Tidak semua kritik lahir dari kebencian, sebagaimana tidak semua pujian lahir dari penilaian yang objektif– karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki kejernihan berpikir dalam menyikapi keduanya. Kritik yang benar harus diterima sebagai bahan evaluasi. Aspirasi yang rasional perlu dipertimbangkan. Kesalahan harus diakui dan diperbaiki, sedangkan tekanan yang menghendaki penyimpangan dari hukum harus dihadapi dengan keteguhan prinsip.
Pada saat yang sama, pemimpin tidak boleh terburu-buru menilai pihak yang berbeda pendapat sebagai lawan atau orang yang hanya mengejar kepentingan pribadi. Perbedaan pandangan dapat menjadi sumber perbaikan apabila disikapi dengan kedewasaan, dialog, dan keterbukaan– dengan demikian, istiqamah bukan berarti keras kepala. Istiqamah berarti konsisten memegang prinsip yang benar, tetapi tetap bersedia mendengar, belajar, dan memperbaiki diri.
Kepemimpinan yang Berorientasi pada Kemaslahatan
Keberhasilan kepemimpinan tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang memberikan pujian. Ukurannya juga harus terlihat pada meningkatnya rasa aman, tegaknya hukum, terlindunginya hak masyarakat, berkurangnya kejahatan, dan tumbuhnya kepercayaan publik. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan yang diperlukan demi kepentingan umum, meskipun keputusan tersebut tidak selalu populer. Akan tetapi, setiap keputusan tetap harus sah secara hukum, proporsional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks kepemimpinan kepolisian, orientasi kemaslahatan berarti melindungi masyarakat tanpa diskriminasi, memberantas kejahatan berdasarkan bukti dan prosedur hukum, serta memastikan bahwa setiap orang memperoleh perlakuan yang adil. Kewenangan bukanlah hak istimewa untuk bertindak sesuka hati. Kewenangan adalah amanah yang menuntut pengendalian diri, integritas, dan tanggung jawab.
Istiqamah dalam Prinsip, Adil kepada Semua
Pada akhirnya– seorang pemimpin tidak perlu menghabiskan seluruh energinya untuk memastikan bahwa semua orang menyukainya– yang lebih penting ialah memastikan bahwa setiap langkahnya dapat dipertanggungjawabkan secara moral, hukum, dan agama.
Jangan berhenti berbuat baik hanya karena ada yang tidak menyukai. Jangan pula merasa selalu benar hanya karena banyak orang mendukung. Pujian hendaknya menjadi pengingat untuk bersyukur, kritik menjadi bahan introspeksi, dan amanah menjadi kompas dalam setiap pengambilan keputusan.
Qaul yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i tersebut– memberikan pelajaran bahwa kepuasan seluruh manusia bukanlah sesuatu yang realistis untuk dijadikan tujuan kepemimpinan– yang harus diperjuangkan adalah kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan, dengan tetap membuka ruang bagi evaluasi dan perbaikan. Istiqamah dalam prinsip, tegas dalam tindakan, jujur dalam pengabdian, amanah dalam kekuasaan, terbuka terhadap kritik, dan adil kepada semua. Semoga Allah SWT membimbing setiap pemimpin agar senantiasa memiliki keberanian untuk menegakkan kebenaran, kebijaksanaan dalam menghadapi perbedaan, keikhlasan dalam mengabdi, serta keteguhan untuk tidak mengkhianati amanah. Amin, ya Tuhan semesta alam.
*Pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Banten
Editor: Jufri Alkatiri
