Pijarberita.com, Serang, Banten – Sebanyak 50 Jurnalis dan sastrawan dari berbagai provinsi di Indonesia mengikuti kegiatan Kemah Budaya di Desa Kanekes Lebak Banten, tepatnya masyarakat adat Baduy, tanggal 16-17 Januari. Kemah Budaya yang mengusung tema Belajar Mencintai dari Baduy ini 80 persennya merupakan perempuan, sesuai dengan proses penerimaan peserta yang memang diprioritaskan untuk wartawati dan sastrawati yang berasal dari Kalimantan Timur, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jakarta
Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir didampingi Sekretaris Jendral Zulmansyah Sekedang, melepas keberangkatan peserta, Kamis sore di Kantor PWI Pusat Jalan Kebon Sirih. Pada kesempatan itu, pria yang akrab disapa Cak Munir ini menitipkan pesan kepada seluruh peserta agar menghormati seluruh kearifan lokal di Baduy, mencatat apa yang dilihat dan dirasakan melalui karya junalistik dan karya sastra dengan mengutamakan kejujuran dan pelestarian.
“Kegiatan Kemah Baduy di Banten ini menjadi momen penting sebagai bentuk kontribusi PWI bersama wartawati dan sastrawati yang menjadi peserta untuk Indonesia, khususnya Provinsi Banten yang menjadi tuan rumah perayaan HPN tahun ini. Semoga seluruh peserta bisa memberikan catatan terbaiknya dengan mengutamakan kejujuran, pelestarian dan menghargai seluruh kearifan lokal yang ada di Baduy dalam karya-karyanya,’’ kata Cak Munir.
Rombongan peserta disambut pejabat Pemkab Lebak di Aula Museum Multatuli. Ada Asisten Daerah (Asda) III, Dr. Yan Fitriyana, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lebak, Anik Sakinah. Penyambutan ditandai dengan penyerahan souvenir berupa syal dan ikat kepala Baduy yang langsung dipakai saat acara tersebut.
Asisten III Pemkab Lebak Dr Iyan Fitriyana mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada peserta serta seluruh pengurus PWI baik pusat maupun PWI Provinsi Banten yang hadir. Dia berharap kehadiran PWI dan peserta dengan karya-karya yang akan lahir dari perjalanan Kemah Budaya tersebut memberi dampak positif khususnya bagi masyarakat Baduy dan khususnya bagi Kabupaten Lebak.
‘’Baduy menjadi kesitimewaan bagi Kabupetan Lebak, tentu juga bagi Banten. Baduy mengajarkan nilai kehidupan yang sederhana, jujur, dan selaras dengan alam. Tema Belajar Mencintai dari Baduy ini menjadi pengingat penting bagi insan pers agar tetap menjaga nurani, etika, dan tanggung jawab sosial,’’ katanya.
Secara terpisah, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, mengatakan, Kemah Budaya ini merupakan bagian dari refleksi jurnalistik menjelang HPN 2026. Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang pembelajaran bagi wartawan untuk memahami nilai-nilai kebudayaan secara langsung.
“Baduy memberi pelajaran tentang mencintai kehidupan dengan cara yang jujur mencintai alam, tradisi, dan sesama. Nilai-nilai ini penting dihayati wartawan agar karya jurnalistik tidak hanya informatif, tetapi juga berjiwa dan berempati,” kata Ramon.
Sebelum berangkat ke kawasan adat Baduy, rombongan peserta diajak berkeliling Museum Multatuli yang dipandu langsung oleh Kepala Museum Ubaidillah Muchtar. Museum ini diresmikan sejak tahun 2018 yang berfokus pada pengembangan museum, sejarah, antikolonialisme, edukasi dan pelestarian jejarah Lebak. Ubaidillah atau yang akrab disapa Kang Ubai berperan penting dalam keberlanjutan museum ini.
Kang Ubai membawa rombongan berkeliling museum. Dia menceritakan banyak hal. Dimulai dari gambar yang tertera di dinding museum hingga kegigihan dan karya-karya hebat serta pemikiran Multatuli yang berpengaruh besar pada kemerdekaan Indonesia serta menceritakan orang-orang yang pernah mengukir sejarah Rangkasbitung dalam karya-karyanya.
Kang Ubai menunjukkan novel satire karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar, nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Buku berjudul lengkap Max Havelaar terbit atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda ini pertama kali terbit tahun 1860, setelah Douwes Dekker menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Semua buku-buku karya Multatuli masih utuh dan lengkap serta terjaga dengan baik.
‘’Mengapa Museum Multatuli ada di Rangkasbitung karena dari segi geografis, Rangkasbitung merupakan Ibu Kota Kabupaten Lebak dan lokasinya strategis, sehingga museum ini lebih mudah diakses oleh pengunjung yang datang dari luar daerah. Masuk museum ini sangat murah. Untuk anak sekolah Rp1000, orang dewasa seperti Bapak dan Ibu sekalian Rp2000, untuk pengunjung mancanegara Rp15.000. Dalam waktu sebentar, ribuan pengunjung datang ke sini. Semoga museum ini menjadi pusat literasi dan pusat pembelajaran bagi siapapun,’’ kata Kang Ubai. (juf)
Editor: Jufri Alkatiri
