Delegasi CAJ Kunjungi Toko Roti Legendaris Fung Wong

Pijarberita.com, Kuala Lumpur – “Ada rasa hormat saat menikmati kue di sini. Kita tidak hanya mencicipi makanan, tapi juga merasakan konsistensi sebuah keluarga dalam menjaga warisan selama lebih dari satu abad,” kata pengurus PWI Pusat, Musrifah, saat mengunjungi Toko Roti Fung Wong di Jalan Sultan Nomor 85, kawasan Petaling, Rabu.

Pernyataan tersebut menggambarkan pengalaman peserta delegasi Sidang Umum Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) yang kembali mendapat jamuan istimewa dari tuan rumah dalam rangkaian kegiatan mereka di Malaysia. Kunjungan ini tidak hanya mempererat hubungan antarjurnalis ASEAN, tetapi juga menjadi ajang memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner lokal.

Toko Roti Fung Wong — bukan sekadar tempat usaha biasa, melainkan institusi kuliner yang telah bertahan lebih dari satu abad. Berdiri sejak 1909, toko ini telah melewati berbagai fase sejarah, mulai dari dua perang dunia, masa kemerdekaan Malaysia, hingga era modern saat ini. Kunjungan tersebut dihadiri delegasi dari berbagai negara ASEAN, serta perwakilan dari China dan Korea Selatan.

Pemilik Toko Roti Fung Wong, Melvin Chan (45), mengatakan, usaha keluarganya kini telah memasuki generasi keempat. Ia menegaskan, menjaga kualitas bukan hanya soal bisnis, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap warisan keluarga. “Toko ini adalah hidup kami. Setiap kue yang keluar dari oven membawa nama besar buyut, kakek, dan ayah saya,” ujar Melvin.

Sejarah Fung Wong berawal dari Chan Sing, imigran asal Guangdong, Tiongkok, yang membawa keahlian membuat pastry khas Kanton. Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun hingga kini berada di tangan Melvin Chan. Namun, kekuatan utama Fung Wong terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan cita rasa lokal. Perpaduan teknik Kanton dengan bahan khas Malaysia melahirkan identitas rasa yang unik dan sulit ditandingi.

Salah satu produk unggulan mereka adalah bolu isi srikaya. Berbeda dari versi asli Tiongkok, isian srikaya merupakan inovasi keluarga Chan yang terinspirasi dari kekayaan bahan tropis. Terbuat dari santan, telur, dan gula, srikaya menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih dengan aroma pandan yang khas.

Selain itu, Fung Wong juga dikenal sebagai penjaga tradisi pernikahan Tionghoa melalui koleksi wedding pastry. Setiap jenis kue memiliki makna simbolis: isian kacang merah untuk pengantin perempuan melambangkan kebahagiaan dan keharmonisan, sementara pasta biji teratai untuk pengantin pria mencerminkan kekuatan dan stabilitas.

Kualitas tersebut dijaga konsistensinya oleh 16 karyawan berpengalaman, sebagian di antaranya telah bekerja lebih dari satu dekade. Mereka mempertahankan teknik pembuatan tradisional, termasuk tekstur kulit pastry yang renyah dan berlapis.

Di tengah suasana klasik dengan kursi kayu dan meja marmer, para delegasi menikmati pengalaman kuliner yang tidak hanya lezat, tetapi juga sarat nilai sejarah. Kini, Fung Wong menawarkan hampir 50 jenis kue, semuanya dibuat dengan resep yang dijaga ketat agar tidak kehilangan identitas. Perkembangan pesat kawasan Jalan Sultan, toko ini tetap berdiri sebagai simbol kesinambungan antara masa lalu dan masa depan. Di tangan Melvin Chan, Fung Wong bukan hanya bertahan, tetapi terus hidup sebagai penjaga rasa, tradisi, dan sejarah yang tak lekang oleh waktu. (alk)

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *