Anjing Pertama di Bulan

Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*

Kenal Andrew Marlton? Di dunia kartun politik Australia, Marlton bukan sekadar kartunis– dia seperti hasil kawin silang antara badut parlemen, filsuf emperan, aktivis lingkungan, tukang graffiti, dan dosen ilmu politik yang kehilangan kesabaran lalu memutuskan menggambar ayam stres di koran.

Nama panggungnya saja sudah terdengar seperti judul film kartun habis tengah malam: First Dog on the Moon. Anjing pertama di bulan. Belum apa-apa publik sudah disuruh curiga bahwa orang ini memang sengaja datang untuk mengacaukan kewarasan politik moderen. Logo dirinya pun absurd. Dia muncul dari mulut kostum kepala hiu atau anjing raksasa seperti manusia yang lahir dari kantong kekacauan–tetapi justru di situlah seluruh manifesto seninya tersembunyi.

Marlton paham, politik moderen sudah terlalu sinting untuk dibahas dengan wajah terlalu serius. Kalau demokrasi berubah menjadi sirkus, maka kritik paling efektif kadang bukan pidato akademik, melainkan gambar wombat mabuk sambil membawa papan protes.

Marlton lahir di Bega, New South Wales– dia mulai dikenal saat menjadi kartunis politik Crikey sejak 2007, lalu pindah ke Guardian Australia pada 2014. Di sanalah dia berubah dari sekadar kartunis menjadi semacam “imam besar satire progresif” Australia.

Orang membuka kartunnya bukan sekadar untuk tertawa, tetapi untuk memastikan apakah dunia memang sedang rusak separah yang mereka rasakan. Gaya gambarnya sengaja tampak seperti coretan anak tongkrongan yang menggambar di tisu warung kopi sambil mengeluh harga sewa naik– tetapi jangan tertipu. Di balik garis acak-acakan itu tersembunyi kritik yang menusuk kapitalisme, oligarki media, kolonialisme, rasisme, perubahan iklim, sampai politik populis yang hari-hari ini dijual seperti mi instan rasa nasionalisme.

Dia menggambar politisi sebagai hewan absurd– ada penguin aktivis sipil, ayam ambigu gender, bandicoot penari interpretatif, sampai perdana menteri berkepala ember. Politik dipreteli sampai telanjang. Sebab Marlton tahu, banyak penguasa moderen sesungguhnya memang lebih mirip karakter kartun ketimbang negarawan.

Dia menyebut ideologinya sebagai anarcho-marsupialist. Separuh bercanda, separuh serius– dia percaya patriarki dan kapitalisme perlu dibongkar, tetapi dia menyampaikannya bukan dengan wajah seminar S-3 yang membuat peserta ingin kabur ke kantin. Dia tampil seperti tetangga nyentrik yang tiba-tiba menjelaskan keruntuhan demokrasi sambil menggambar kangguru depresi memegang tagihan listrik. Itulah sebabnya kartunnya mudah viral. Orang tertawa dulu. Lima menit kemudian baru sadar mereka baru saja ditampar pakai sandal teori politik.

Marlton bukan kartunis kaleng-kaleng– dia memenangkan Walkley Award, salah satu penghargaan jurnalistik paling bergengsi di Australia, lewat kartun tentang pengungsi dan kemunafikan politik imigrasi. Dia memang konsisten berpihak kepada mereka yang tidak punya pengeras suara: pengungsi, aktivis iklim, kelompok minoritas, warga miskin kota, dan manusia-manusia yang biasanya hanya muncul dalam pidato politik sebagai statistik penderitaan– karena itu dia tertarik kepada Zohran Mamdani. Dalam kartun satu halaman di The Guardian, Marlton menggambarkan paradoks Amerika moderen melalui sosok politisi muda ini.

Mamdani — seorang politisi Muslim progresif yang diserang habis-habisan oleh kubu kanan, dilabeli sosialis, anti-Amerika, ekstrem kiri, ancaman peradaban. Bahkan mungkin kalau kurang bahan tinggal dituduh penyebab cuaca panas global– tetapi anehnya, warga biasa malah menyukainya.

Kartun di Guardian tersebut khas Marlton: penuh tulisan kecil seperti catatan orang panik, hewan-hewan reaktif, panah tidak penting, komentar absurd di pojok panel, dan kekacauan visual seperti grup WhatsApp politik yang meledak menjelang pemilu.

Pada dasarnya dia membandingkan dua dunia. Dunia pertama adalah industri ketakutan. Dunia kedua adalah kenyataan hidup warga sehari-hari. Di televisi, Mamdani digambarkan seperti monster ideologi yang siap memakan Amerika– tetapi di jalanan New York, warga cuma melihat bus mulai tepat waktu, taman kota membaik, layanan publik terasa hidup, dan pembicaraan tentang harga sewa akhirnya terdengar lebih penting daripada perang budaya yang diproduksi televisi kabel.

Salah satu bagian paling lucu adalah ketika Marlton menggambar kubu kanan Amerika seperti ayam-ayam panik di kandang sambil berteriak, “Bahaya! Sosialis Muslim datang!” sementara di panel sebelah warga New York malah duduk santai menikmati taman kota yang lebih bersih sambil membawa kopi diskon. Ada karakter kecil berlari histeris membawa papan bertuliskan “THE END OF CIVILIZATION”, tetapi seorang warga menjawab datar, “Dia cuma bikin bus datang tepat waktu.”

Di situlah satire Marlton bekerja seperti racun yang dibungkus permen– dia menunjukkan bahwa propaganda politik sering terdengar seperti trailer kiamat Hollywood, padahal rakyat cuma ingin hidup tidak terlalu mahal dan tidak terlalu sengsara. Dalam kartun itu, capaian Mamdani ditampilkan seperti papan pengumuman kota yang korslet karena terlalu banyak kabar baik untuk ukuran politik moderen Amerika. Ada panel tentang transportasi publik yang membaik, digambar dengan warga menangis haru karena bus akhirnya bukan lagi makhluk mitologi.

Ada monster apartemen rakus bertuliskan “Luxury Rent” yang dipukul mundur warga memakai formulir subsidi dan sendok kayu dapur. Ada taman kota penuh anak-anak bermain sementara komentator televisi tetap menjerit menyebut Mamdani ancaman ekstrem– yang paling tajam adalah ketika Marlton menggambar para donor kaya dan elite politik berkeringat dingin hanya karena seorang pejabat mulai berbicara tentang harga kebutuhan pokok dan biaya hidup rakyat biasa. Seolah-olah perhatian kepada warga miskin kini dianggap tindakan revolusioner setingkat kudeta.

Di sudut kecil panel, seperti biasa, Marlton menyelipkan bisikan satire: “Ini mengerikan… rakyat mulai menyukai pemerintahnya sendiri.” Kalimat itu lucu karena tragis. Kita hidup di zaman ketika pemerintah bekerja untuk rakyat justru terdengar seperti ide radikal.

Mengapa warga menyukai Mamdani? Karena terlalu banyak politisi moderen berbicara seperti brosur bank: steril, aman, mahal, dan kosong. Sedangkan Mamdani berbicara seperti tetangga apartemen yang sama-sama pusing melihat harga susu, sewa rumah, dan ongkos transportasi. Dia tidak menjual citra manusia super. Dia menjual rasa keterhubungan– dan itu sangat penting di era digital, ketika publik lebih percaya manusia yang tampak tulus daripada pidato sempurna hasil tim konsultan seharga miliaran.

Donald Trump dan ekosistem kanan Amerika membenci figur seperti Mamdani bukan semata-mata karena agamanya– yang lebih berbahaya bagi mereka adalah kenyataan bahwa seorang Muslim progresif bisa populer tanpa meminta maaf atas identitasnya. Mamdani tidak sibuk memohon diterima. Dia langsung bekerja pada isu yang menyentuh dompet rakyat. Politiknya bukan perang simbol semata, melainkan perang melawan mahalnya hidup.

Dia juga memahami media sosial dengan sangat baik. Generasi muda tidak lagi percaya pidato formal penuh jargon. Mereka percaya spontanitas, keaslian, dan keberanian tampil manusiawi– dan di titik ini, Marlton memasukkan unsur yang sangat menarik: peran istri Mamdani. Dalam kartunnya, istri Mamdani tidak digambar seperti “ibu negara glamor” yang turun dari mobil hitam sambil melambai tiga detik ke kamera. Dia digambar sebagai pusat gravitasi emosional di tengah badai politik.

Ketika televisi kanan berteriak bahwa Mamdani ancaman besar bagi Amerika, sang istri justru tampak melakukan hal-hal biasa: membawa kopi, mengingatkan jadwal, menenangkan rumah, atau memandang kekacauan media dengan ekspresi, “Serius amat hidup kalian.”

Kontras itu sengaja dibuat brutal. Di luar rumah, politik Amerika tampak seperti kebakaran kebun binatang penuh sirene dan ayam panik. Di dalam rumah, ada percakapan hangat, tawa kecil, dan ritme manusia normal. Satire Marlton di sini sangat halus tetapi mematikan– dia ingin mengatakan bahwa figur yang dibenci habis-habisan lawan politik sering kali justru tampak paling manusiawi dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan ada coretan kecil di pojok panel yang berbunyi kira-kira begini: “Rahasia paling berbahaya dalam politik moderen: pasangan yang masih bisa tertawa bersama.” Dan mungkin memang itu masalah terbesar politik moderen hari ini. Terlalu banyak politisi tampak seperti robot presentasi PowerPoint yang lupa cara menjadi manusia.

Secara teknis, karya Marlton masuk genre political satire cartoon, tetapi itu terlalu sederhana untuk menjelaskan kegilaannya. Kartunnya adalah campuran absurdism, visual chaos comed_, dan social commentary_yang tampil seperti buku catatan orang kurang tidur akibat doomscrolling politik semalaman sambil minum kopi tiga liter–tetapi justru melalui kekacauan visual itulah Marlton membangun kritik yang sangat tajam.

Dia memakai humor absurd untuk membongkar absurditas dunia moderen: media yang hidup dari kepanikan, elite yang alergi terhadap kebijakan pro-rakyat, dan masyarakat yang ditakut-takuti isu identitas padahal diam-diam cuma ingin hidup sedikit lebih layak–dan di situlah kekuatan Andrew Marlton. Dia memahami satu hal penting: politik moderen terlalu sering berubah menjadi teater ketakutan– maka tugas kartunis bukan hanya menggambar lelucon, melainkan membongkar mesin ketakutan itu satu panel demi satu panel.

Jurnalis Senior dan Kolumnis*

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *