Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Ayah– hari ini 21 Juni 2026 — saya mengucapkan selamat Hari Ayah– namun ada kalimat yang lebih jujur dari sekadar ucapan: Ayah, jasamu tidak akan pernah lunas. Sejak kecil saya melihat Ayah berangkat pagi dan pulang malam. Keringat Ayah jatuh demi biaya sekolah, demi makan, demi masa depan saya. Saat saya sakit demam, Ayah begadang menjaga. Saat saya gagal dalam ujian, Ayah menahan kecewa agar saya tidak patah semangat.
Rasulullah bersabda: “Ridha Allah terletak pada ridha orang tua” HR Tirmidzi. Kalimat itu membuat saya sadar bahwa surga seorang anak ada pada ridha ayah. Sayangnya, setiap Hari Ayah kita sering keliru dalam membalas budi. Kita memberi hadiah, mentraktir makan, lalu merasa utang sudah lunas. Padahal pengorbanan Ayah selama puluhan tahun tidak dapat diukur dengan uang.
Ada tiga jasa Ayah yang tidak akan pernah bisa saya bayar lunas. Pertama– Ayah mengorbankan masa muda untuk masa depan anak– dulu Ayah masih muda, kuat, dan memiliki banyak cita-cita– namun semua itu Ayah tukar demi anak. Waktu untuk bersenang-senang diganti dengan lembur. Uang untuk membeli baju baru dipakai untuk membeli buku dan seragam sekolah. Allah berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang” QS Al-Isra:24. Ayat ini mengingatkan bahwa anak harus selalu memuliakan orang tua. Saya tidak dapat mengembalikan masa muda Ayah– yang dapat saya lakukan adalah menjaga masa tua Ayah dengan menjadi anak yang taat, berakhlak, dan tidak mengecewakan.
Kedua– Ayah menjadi pelindung keluarga dari kesulitan. Ayah tidak pernah bercerita jika pekerjaan sedang sulit. Ayah tidak pernah mengeluh jika gaji terlambat. Di depan anak, Ayah selalu berusaha terlihat kuat dan tenang. Data BPS 2024 menunjukkan lebih dari separuh ayah di Indonesia mengalami tekanan ekonomi– namun mereka memilih memendamnya agar anak tetap tenang belajar.
Ayah ibarat tembok yang menahan hujan dan angin– dari luar terlihat keras, tetapi di balik itu Ayah menahan semua beban agar anak tetap aman dan nyaman. Maafkan saya jika dulu sering mengeluh dan menuntut. Mulai tahun 1448 H ini, saya ingin menjadi sandaran bagi Ayah. Giliran saya yang menjaga Ayah. Ketiga– Ayah mengajarkan arti seorang laki-laki melalui tindakan. Ayah jarang mengucapkan kata sayang– namun Ayah menunjukkan kasih sayang melalui perbuatan. Ayah rela kehujanan agar saya tidak terlambat sekolah. Ayah rela makan sedikit agar saya bisa makan kenyang. Ayah bekerja keras agar saya dipandang baik oleh orang lain.
Rasulullah adalah teladan ayah terbaik. Beliau menjahit bajunya sendiri dan membantu pekerjaan rumah– dari beliau saya belajar bahwa laki-laki sejati adalah laki-laki yang bertanggung jawab, bukan yang hanya menuntut dilayani. Baru sekarang saya mengerti. Dulu saya mengira Ayah pelit pujian. Ternyata Ayah kaya pengorbanan. Lalu bagaimana cara membalas budi Ayah? Jawabannya: tidak akan pernah lunas– tetapi kita dapat mencicilnya sedikit demi sedikit. Cicilannya ada tiga. Pertama– cicilan doa. Setiap selesai salat, sebutkan nama Ayah dalam doa: Ya Allah, sayangilah Ayahku sebagaimana beliau menyayangiku waktu kecil. Doa anak saleh adalah hadiah paling berharga bagi orang tua.
Kedua– cicilan akhlak. Ayah paling bangga bukan ketika anak lulus dengan nilai tinggi. Ayah paling bangga ketika orang lain berkata, “Anaknya Pak Budi sopan dan baik.” Menjaga nama baik keluarga adalah bentuk bakti nyata. Ketiga– cicilan waktu. Dulu Ayah selalu ada untuk saya, walau lelah. Sekarang giliran saya meluangkan waktu untuk Ayah. Duduk sebentar, mendengarkan cerita Ayah, menanyakan kabarnya. Bagi Ayah, didengarkan berarti dicintai.
Ayah, selamat Hari Ayah 21 Juni 2026– saya tidak membawa hadiah mahal. Saya hanya membawa maaf atas semua kesalahan, doa untuk kesehatan Ayah, dan janji untuk menjaga nama baik keluarga. Jasamu tidak akan pernah lunas, Ayah– tetapi semoga ridhamu dapat saya raih hingga ke pintu Surga– karena anak yang berbakti adalah hadiah terbaik untuk Ayah. Anak yang berbakti tidak mengambil uang dari Ayah. Anak yang berbakti mengantarkan Ayah menuju Surga. Ayah– saya menyayangimu. Walaupun baru berani mengatakannya hari ini. Anakmu.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
